Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari 2026 sebesar 54,12, naik sebesar 2,22 poin dibandingkan dengan Desember 2025 yang sebesar 51,90. Nilai IKI Januari 2026 ini juga naik 1,02 poin dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 53,1.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan angka ini disumbang dari 20 subsektor yang ekspansif dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 94,4 persen.
"Pada Januari 2026, IKI mencapai nilai sebesar 54,12. Nilai IKI 54,12 ini itu berasal atau disumbang oleh 20 subsektor yang ekspansif, share PDB yang 20 subsektor ini nilainya sebesar 94,7 persen,” ujar Febri di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis (29/1).
Febri menjelaskan subsektor industri manufaktur yang memperoleh nilai IKI tertinggi adalah industri kendaraan bermotor, trailer dan semi trailer KBLI 29 karena bersiap untuk dan industri mesin dan perlengkapan YTDL KBLI 28.
Kemudian tiga subsektor yang mengalami kontraksi atau nilai IKI di bawah 50 adalah industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki atau KBLI 15, lalu industri kayu, barang dari kayu dan gabus KBLI 16 dan industri komputer, barang elektronik dan optik atau KBLI 26.
Febri memastikan peningkatan nilai IKI pada Januari 2026 dibandingkan Desember 2025 adalah karena industri tengah bersiap menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
“Karena industri sedang mengintensifkan produksi untuk merespons atau memenuhi kebutuhan hari raya Idulfitri dan bulan Ramadan serta hari raya keagamaan lainnya,” jelasnya.
Dari sisi variabel komponen pembentuk IKI, pesanan baru mengalami peningkatan sebesar 2,51 poin atau mencapai 55,27, variabel produksi meningkat 6,45 poin menjadi 54,86. Sebaliknya, persediaan produk mengalami perlambatan sebesar 4,85 poin atau mencapai 50,14.
“Perlu kami garis bawahi di sini bahwa untuk variabel produksi sudah 7 bulan berturut-turut mengalami kontraksi. Dan pada Januari 2026 ini, komponen variabel produksi itu sudah masuk pada status ekspansi,” tuturnya.
Febri juga membeberkan dari sisi industri yang berorientasi ekspor dan domestik, IKI industri berorientasi ekspor pada Januari meningkat sebesar 2,26 poin menjadi 54,62 poin dari Desember 2025 52,36.
Hal yang sama juga terjadi pada perusahaan industri yang berorientasi pasar domestik, dengan nilai IKI yang meningkat sebesar 1,92 poin menjadi 53,25.
Febri menuturkan meskipun IKI ekspor pada Januari 2026 relatif naik dibandingkan sebelumnya, namun ada subsektor industri yang berorientasi ekspor yang justru mengalami kontraksi pada Januari.
Pertama adalah subsektor industri alas kaki yang berorientasi ekspor mengalami kontraksi, sementara sektor yang sama namun berorientasi pasar domestik justru ekspansi. Begitu juga dengan industri logam dasar, kemudian industri reparasi, pemasangan mesin dan alat.
“Kami melihat industri yang berorientasi ekspor masih dalam proses persiapan, mencermati bagaimana ketidakpastian global berpengaruh terhadap demand mereka. Ketidakpastian global itu antara lain adalah gejolak politik, geopolitik, dan perang tarif antar negara,” tutup Febri.





