DEPOK, KOMPAS.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Depok mengajukan pembangunan underpass di perlintasan sebidang kereta api Jalan Raya Citayam sebagai solusi kemacetan kronis yang selama ini terjadi di kawasan tersebut.
Proyek ini ditargetkan menjadi prioritas pembangunan tahun 2027 melalui kerja sama lintas daerah dan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Wali Kota Depok Supian Suri mengatakan, kemacetan di perlintasan kereta Citayam sudah berada pada tingkat yang membutuhkan intervensi infrastruktur permanen.
“Kita (Pemkot Depok) alokasikan anggaran Rp 80 miliar untuk pembebasan lahan underpass Citayam,” katanya dalam acara Forum Konsultasi Publik Rencana Awal RKPD 2027, di Aula Serbaguna Lantai 10 Gedung Dibaleka 2, Rabu (28/01/26), dilansir dari situs resmi Pemkot Depok.
Menurut Supian, proyek ini tidak bisa diselesaikan oleh satu daerah saja karena Jalan Raya Citayam menjadi penghubung utama Kota Depok dan Kabupaten Bogor.
Baca juga: Usulan Underpass Jadi Jalan Keluar Atasi Macet Citayam yang Tak Kunjung Usai
Karena itu, kedua wilayah telah menyepakati skema pembiayaan bersama untuk pembebasan lahan.
“Kabupaten Bogor juga sudah komitmen mengalokasikan anggaran dengan jumlah yang relatif sama, jadi underpass itu adalah kerja sama kita berdua untuk pembebasan lahannya,” ungkapnya.
Pemkot Depok berharap sinergi tersebut dapat mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera merealisasikan pembangunan fisik underpass pada 2027.
“InsyaAllah di 2027 Pemerintah Provinsi Jabar akan mengalokasikan anggaran untuk pembangunan fisiknya kurang lebih hampir Rp 200 miliar untuk bisa menyelesaikan kemacetan di Jalan Citayam,” terangnya.
Baca juga: Stasiun Citayam Macet, Walkot Depok: Tak Ada Solusi Selain Underpass
Jawaban untuk Kemacetan KronisSupian menilai pembangunan underpass menjadi kebutuhan mendesak seiring tingginya frekuensi perjalanan kereta rel listrik (KRL) di lintas tersebut.
Perlintasan sebidang saat ini membuat arus kendaraan kerap terhenti dalam interval yang sangat rapat.
“Kalau kita runut dari utara per tiga menit KRL lewat, sehingga tidak lagi akan bisa mengurai kemacetan tanpa underpass atau flyover,” tambahnya.
Selain mengurangi kepadatan lalu lintas, underpass diharapkan meningkatkan kepastian waktu tempuh kendaraan serta memperlancar mobilitas kendaraan darurat.
“Dari utara sudah terfasilitasi dengan Bundaran UI, bergerak ke selatan dikit sudah ada flyover Arif Rahman Hakim, lanjut underpass Dewi Sartika, PR kita tinggal satu di Citayam ini titik jalan utama yang masih melewati jalan kereta,” papar Supian Suri.
Pemerintah menilai pembangunan simpul infrastruktur di titik tersebut penting untuk menutup celah kemacetan di koridor transportasi utama Depok–Bogor.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483007/original/083328800_1769317023-Bencana_banjir_dan_longsor_di_lereng_Gunung_Slamet.jpeg)