Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim telah memengaruhi kandungan panas yang ada di laut sejak puluhan tahun lalu. Akibatnya, kandungan panas laut bagian atas telah meningkat secara signifikan selama beberapa dekade terakhir, dan terjadilah fenomena yang disebut dengan pemanasan laut.
Berdasarkan data dari laman resmi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) www.climate.gov, lautan menyimpan sekitar 90 persen energi panas berlebih yang terperangkap dalam sistem iklim bumi oleh kelebihan gas rumah kaca.
Advertisement
Menurut data tersebut, tingkat perolehan panas pada 1993-2024 adalah sekitar 0,66 hingga 0,74 Watt per meter persegi rata-rata di atas permukaan bumi.
Sementara itu, studi terbaru memperkirakan pemanasan lautan bagian atas menyumbang sekitar 63 persen dari total peningkatan jumlah panas.
Jumlah panas itu tersimpan dalam sistem iklim dari tahun 1971 hingga 2010, dan pemanasan dari 700 meter ke dasar laut menambahkan sekitar 30 persen lagi.
Akhirnya, pemanasan perairan laut mengancam mata pencaharian manusia dan ekosistem laut, seperti mengancam kehidupan terumbu karang dan penyu di laut.
Air hangat hasil pemanasan laut juga membahayakan kesehatan karang, dan pada gilirannya, komunitas kehidupan laut yang bergantung padanya untuk tempat tinggal dan makanan.
Peningkatan kandungan panas laut juga berkontribusi pada kenaikan permukaan laut, gelombang panas laut, dan pemutihan karang.
Untuk mengatasi hal tersebut, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang menggelar kegiatan bimbingan Teknis Pemantauan Pantai Peneluran Penyu di Desa Deme, Kabupaten Sabu Raijua pada Oktober 2025 lalu.
Kegiatan ini menjadi upaya untuk menjaga ekosistem laut di tengah pemanasan laut yang semakin tinggi.
“Penyu adalah satwa karismatik sekaligus indikator kesehatan ekosistem laut. Keberhasilan pelestarian penyu tidak mungkin dicapai tanpa keterlibatan masyarakat. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap ekosistem laut di sekitar mereka,” ujar Kepala BKKPN Kupang Imam Fauzi, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) www.ykan.or.id, Kamis (29/1/2026).



