Affan Wahyudi, Runner Up M7 World Championship: Patahkan Stereotip Pemain Game

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

Riuh sorak penonton, lampu sorot panggung, dan layar raksasa bertuliskan M7 World Championship 2026. Di tengah euforia itu, satu nama mencuri perhatian: Yazukee.

Irmawati
Panakkukang

Bersama Alter Ego Esports, Yazukee menjadi Runner Up di M7 World Championship 2026. Itu setelah melalui grand final M7 World Championship 2026 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Minggu, 25 Januari, kemarin, berakhir dengan kemenangan Aurora Philippines atas Alter Ego dari Indonesia.

Yazukee, atlet esports kelas dunia. Tapi sedikit yang tahu, perjalanan itu dimulai dari kamar sederhana di Bone. Nama aslinya Andi Muhammad Affan Wahyudi. Usianya baru 21 tahun. Ia adalah putra dari Andi Zainal Wahyudi, Camat Tanete Riattang, Bone.

Tidak ada latar belakang gaming fancy. Tidak ada fasilitas mahal. Yang ada hanya ponsel, koneksi seadanya, dan tekad keras kepala. Affan mulai mengenal Mobile Legends saat masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Bone. Waktu itu, game bukan mimpi masa depan. Hanya hiburan setelah belajar.

Turnamen lokal di Bone menjadi panggung pertamanya. Hadiahnya kecil. Kadang cuma diamond dalam game. Jika ingin membeli skin, ia menabung. Tidak ada top-up impulsif. Semua dihitung. Semua dibatasi.

Ini ia lakukan dengan bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) esports kampusnya. Di sinilah kariernya melesat, dengan memenangkan berbagai kompetisi tingkat mahasiswa. Pelan-pelan, jam terbang bertambah. Skill terasah. Tapi satu hal tak pernah ia lepaskan: sekolah.

Ketika teman seusianya memilih satu jalan, Affan justru mengambil dua. Ia melanjutkan kuliah di Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin (Unhas). Pilihan itu sempat berliku.

Orang tua awalnya berharap ia masuk dunia medis. Diskusi panjang terjadi. Sampai akhirnya Agribisnis dipilih sebagai titik temu. Di tengah stereotip bahwa esports identik dengan meninggalkan pendidikan, Affan berdiri sebagai pengecualian. Mahasiswa aktif sekaligus atlet game profesional.

Titik balik kariernya datang di semester lima. Iseng mendaftar trial tim profesional, tanpa ekspektasi. Tak disangka, ia lolos. Keputusan besar harus diambil. Selama sepekan, diskusi keluarga berlangsung. Masa depan dipertaruhkan.

Di level profesional, esports bukan lagi soal jempol cepat. Jadwal latihan padat. Tekanan datang dari mana-mana. Menurut Affan, banyak pemain berbakat tumbang bukan karena skill, tapi mental. “Yang tidak kuat mental biasanya cepat menyerah,” katanya saat ditemui langsung di kediamannya di Kompleks Catalya, Selasa, 27 Januari 2026.

Didikan keras sejak kecil membentuk daya tahannya. Saat lelah, ia mengingat pengorbanan: waktu, kuliah, jarak dari keluarga. Di Alter Ego, ia menemukan rumah kedua. Lingkungan yang sehat. Tidak ada yang dibiarkan menanggung stres sendirian.

Di M7 World Championship, pemain asal Sulsel hanya dua orang. Fakta itu membuat langkah Affan terasa lebih bermakna. Dari daerah yang belum dikenal sebagai lumbung atlet esports, ia membuktikan satu hal: talenta tidak mengenal peta.

Ke depan, Affan belum ingin cepat puas. Ia ingin terus bertahan di MPL, terus berkembang. Soal kuliah, status mahasiswa masih ia jaga. “Kalau masih bisa di-balance, saya ingin lanjut dua-duanya,” ujar Affan yang suka cabang olahraga bulu tangkis. Baginya, esports bukan jalan buntu. Ada banyak pintu: pemain profesional, pelatih, hingga kreator konten. (*/ham)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pramono Minta Maaf karena Jakarta Kembali Diguyur Hujan Deras dan Sebabkan Banjir
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Trump Kirim Armada Besar ke Iran, Desak Negosiasi dan Peringatkan Serangan Lebih Buruk
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Bus Listrik Medium Jadi Solusi Tekan Emisi di Jalur Sempit Jakarta
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
60 Terdakwa Kerusuhan di Jakut Divonis 6 Bulan, Keluarga: Lega tapi Tetap Kecewa
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Gempa M 4,3 Guncang Tahuna-Kepulauan Sangihe Sulut
• 20 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.