Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah operasi plastik yang dilakukan pada pria meningkat dua kali lipat dalam waktu kurang dari satu dekade. Hal ini ditunjukkan oleh data terbaru Kamis (29/1/2026), dimuat AFP.
"Pria yang lebih muda dan mereka yang berada di Timur Tengah dan Amerika Latin sangat tertarik untuk menjalani prosedur ini," menurut data yang dirilis pada pertemuan tahunan industri kedokteran kosmetik di Paris itu.
"Jumlah prosedur bedah yang dilakukan pada pria di seluruh dunia meningkat sebesar 95% antara tahun 2018 dan 2024," tambah International Society of Aesthetic Plastic Surgery (IMCAS).
- Amerika di Tepi Jurang, Pemerintah Trump Bisa Shutdown Sabtu Ini
- Emas Minggir Dulu, Ramai Warga Bumi Serbu Logam Ini Buat dapat Untung
- Kualat Banjir Dikorupsi, Ekonomi Tetangga RI Nyungsep-Terburuk di 2025
- Chaos Ikea Mau Tutup! Pembeli Berebut Furnitur, Saling Tarik-Adu Mulut
Kenaikan sama juga terjadi pada perawatan kosmetik non-bedah. Perawatan suntikan, terapi laser, dan pengelupasan kulit meningkat lebih tinggi lagi sebesar 116%.
Angka ini berbeda dengan wanita. Operasi kosmetik meningkat tak sebesar pria, hanya 59% sementara perawatan meningkat 55 % selama periode yang sama.
"Tren ini, yang sangat menonjol di Timur Tengah dan Amerika Latin, mencerminkan transformasi mendalam norma sosial dan meningkatnya penerimaan prosedur kosmetik oleh pria," jelas analisis pasar IMCAS.
"Generasi Z dan Milenial mengakses pengobatan kosmetik jauh lebih awal daripada generasi sebelumnya," lanjutnya.
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) memiliki permintaan terbesar untuk operasi plastik, dengan sekitar 45% dari pasar global pada tahun 2025. Amerika juga memiliki prosedur non-bedah terbanyak, mewakili 56% dari permintaan global untuk botox, yang sementara menghaluskan kerutan.
Pertumbuhan di AS diperkirakan akan melambat secara bertahap menjadi sekitar 5% per tahun pada tahun 2030. Namun, prosedur kosmetik di kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan tumbuh sekitar tujuh persen selama periode ini.
(sef/sef)



