Bisnis, SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat jejaring perdagangan dengan wilayah lain, salah satunya dengan menggelar forum Misi Dagang dan Investasi Jawa Tengah–Jawa Timur pada Kamis (29/1/2026). Kegiatan ini menjadi instrumen penting bagi Jateng untuk memperluas penetrasi pasar produk unggulan daerah sekaligus menjaga stabilitas pasokan komoditas strategis.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan momentum krusial bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi sektor Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
“Melalui misi dagang ini, kami berharap potensi unggulan Jawa Timur dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan di Jawa Tengah sesuai kebutuhan daerah. Begitu pula produk unggulan Jawa Tengah diharapkan dapat menjadi referensi dan role model pengembangan di Jawa Timur,” ujar Taj Yasin dalam siaran pers.
Pemprov Jateng berkomitmen memfasilitasi setiap peluang kerja sama agar berkelanjutan dan inklusif. Menurut Taj Yasin, penciptaan iklim usaha yang kondusif menjadi prioritas utama guna memastikan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani hari ini dapat memberikan dampak nyata bagi penyerapan tenaga kerja dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kami berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif, agar peluang kerja sama yang terbangun dapat berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah. Kami berharap hingga penutupan acara dapat tercapai transaksi yang signifikan,” ucap Taj Yasin.
Analisis sektoral menunjukkan bahwa sektor peternakan mendominasi nilai transaksi dengan angka mencapai Rp1,1 triliun, disusul oleh sektor perikanan sebesar Rp378 miliar. Di sisi lain, transaksi pada komoditas perkebunan seperti kopi dan gula juga mencatatkan nilai yang melampaui Rp100 miliar per tahun bagi beberapa perusahaan peserta.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turut mengapresiasi keterbukaan Jateng dalam menerima arus investasi dan komoditas dari daerahnya. Ia merinci bahwa dari total nilai transaksi, Jatim melakukan pembelian produk dari Jateng senilai Rp184 miliar serta menanamkan investasi sebesar Rp96 miliar.
“Investasi ini salah satunya untuk mendukung program nasional, karena di Jatim lahan sawah yang dilindungi sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan sudah terbatas, sehingga kami melakukan investasi di Jawa Tengah,” jelas Khofifah.
Beberapa transaksi korporasi besar yang tercatat dalam misi ini memperkuat posisi Jateng sebagai pemasok utama bahan pangan nasional. Di antaranya adalah pembelian beras oleh Indomaret dan Indogrosir Jawa Tengah senilai Rp126,5 miliar serta transaksi produk perikanan dari UD Dwi Manunggal Semarang sebesar Rp142,8 miliar.
Selain itu, sektor industri hasil tembakau melalui PT PSPM Semarang mencatatkan angka Rp192 miliar. Kerja sama strategis lainnya juga melibatkan PT Indoacidatama Karanganyar dengan PT Sinergi Gula Nusantara melalui transaksi gula senilai Rp105 miliar.
Kerja sama ini diresmikan melalui Penandatanganan Kesepakatan Bersama antara kedua pemerintah provinsi. Dokumen tersebut mencakup kerja sama antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD), asosiasi pengusaha, serta komitmen transaksi perdagangan dari delapan pelaku usaha utama yang diharapkan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi regional di masa depan.





