Jakarta, ERANASIONAL.COM – Di tengah tren kenaikan harga emas yang terus berlanjut di pasar global, ekonom Amerika Serikat Peter Schiff kembali melontarkan peringatan keras terkait kondisi perekonomian dunia. Menurut Schiff, lonjakan harga emas saat ini bukan sekadar refleksi dari fungsi emas sebagai safe haven atau instrumen lindung nilai, melainkan sinyal awal dari krisis ekonomi yang lebih besar, dengan Amerika Serikat sebagai episentrum.
Schiff menilai, kenaikan harga emas mencerminkan melemahnya kepercayaan global terhadap dolar AS serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan keberlanjutan utang pemerintah Amerika Serikat.
“Emas dan perak sedang mengirimkan peringatan. Ini bukan sekadar fluktuasi pasar, melainkan tanda akan datangnya krisis yang jauh lebih besar,” ujar Schiff saat berbicara dalam program The Claman Countdown di Fox Business, Selasa (27/1/2026).
Ekonom yang dikenal sebagai kritikus kebijakan moneter The Federal Reserve itu menegaskan bahwa pergerakan harga logam mulia kerap menjadi indikator awal sebelum krisis ekonomi besar terjadi. Ia mengingatkan bahwa fenomena serupa juga terlihat menjelang krisis keuangan global 2008, yang sebelumnya ia prediksi.
“Emas dan perak memberikan peringatan akan krisis yang lebih besar, yang bisa terjadi akhir tahun ini atau tahun depan. Kita sedang menuju krisis dolar AS dan krisis utang negara,” kata Schiff.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi lebih parah dibandingkan krisis 2008, karena kali ini sumber masalah berada langsung di jantung sistem keuangan global, yakni Amerika Serikat.
“Kita kembali menuju krisis ekonomi yang akan membuat krisis keuangan 2008 terlihat ringan,” ujarnya.
Schiff juga menyoroti perubahan strategi bank-bank sentral dunia dalam mengelola cadangan devisa. Ia menyebut banyak negara mulai mengurangi kepemilikan dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika, lalu mengalihkannya ke emas.
“Bank-bank sentral membeli emas untuk mendukung mata uang mereka. Mereka melepas dolar dan obligasi AS,” tegas Schiff.
Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran global terhadap stabilitas dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia. Ketergantungan Amerika Serikat pada pembiayaan utang dari luar negeri dinilai semakin berisiko, terutama ketika kepercayaan terhadap dolar mulai goyah.
Schiff menilai, sistem keuangan global perlahan bergerak menuju tatanan baru yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dolar AS.
Sejumlah data ekonomi terbaru turut memperkuat pandangan Schiff. Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, dilaporkan turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir.
Pada saat yang sama, pembelian emas oleh bank sentral global menunjukkan lonjakan signifikan. Sejak 2022, pembelian emas oleh bank sentral dunia dilaporkan melampaui 1.000 ton per tahun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata pembelian pada periode sebelumnya.
Lonjakan tersebut kerap diinterpretasikan sebagai upaya diversifikasi cadangan devisa sekaligus perlindungan terhadap ketidakpastian ekonomi global dan inflasi jangka panjang.
Meski demikian, peringatan Schiff tidak sepenuhnya disepakati oleh semua pihak. Carrie Sheffield, analis kebijakan senior dari Independent Women’s Forum, menilai sebagian komentar yang menyebut kehancuran dolar cenderung terlalu ekstrem dan tidak selalu sejalan dengan data ekonomi terkini.
Sheffield merujuk pada data Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang menunjukkan inflasi relatif lebih terkendali pada periode pemerintahan Presiden Donald Trump dibandingkan masa pemerintahan Presiden Joe Biden.
“Pada masa jabatan kedua Presiden Trump, inflasi rata-rata tercatat 2,7 persen, dibandingkan sekitar 5 persen pada era pemerintahan Biden,” ujar Sheffield.
Ia juga menyoroti kinerja produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada 2025 yang dinilai masih solid, serta daya beli masyarakat yang relatif stabil.
Dalam diskusi yang sama, pembawa acara Liz Claman menyebut sejumlah indikator ekonomi menunjukkan performa yang cukup kuat, termasuk pendapatan rumah tangga yang stabil dan peningkatan produktivitas.
Menanggapi pandangan tersebut, Schiff menilai indikator ekonomi resmi tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil. Menurutnya, sejumlah data masih terdistorsi oleh inflasi dan berpotensi mengalami revisi di kemudian hari.
“Angka-angka ini tidak menggambarkan realitas yang sebenarnya. Inflasi telah menggerus daya beli, dan dampaknya belum sepenuhnya terlihat,” kata Schiff.
Ia menambahkan bahwa inflasi ke depan berpotensi jauh lebih merusak dibandingkan periode sebelumnya.
“Inflasi akan jauh lebih merusak dalam beberapa tahun ke depan. Itulah pesan yang disampaikan oleh emas dan perak. Ini adalah peringatan,” ujarnya.
Schiff juga kembali mengkritik struktur ekonomi Amerika Serikat yang dinilainya terlalu bergantung pada konsumsi, utang, dan status dolar sebagai mata uang cadangan global.
“Kita bergantung pada dunia untuk barang-barang yang tidak kita produksi dan dana yang tidak kita tabung,” katanya.
Ia menilai dunia mulai menarik dukungan terhadap sistem tersebut, seiring meningkatnya upaya dedolarisasi oleh sejumlah negara.
“Dunia mulai menarik dukungan itu. Dolar akan runtuh dan digantikan oleh emas,” tegas Schiff.
Menurutnya, krisis mendatang akan berbeda dari krisis-krisis sebelumnya karena dampaknya justru akan lebih berat dirasakan oleh Amerika Serikat dibandingkan negara lain.
“Ini adalah krisis keuangan Amerika. Dunia justru akan diuntungkan,” pungkasnya.




