FAJAR, JAKARTA — Dinamika bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026 kembali menegaskan jurang perbedaan manajemen skuad antara Persija Jakarta dan PSM Makassar.
Jika Persija harus “mengorbankan” bek kanan sekelas Ilham Rio Fahmi karena stok yang menumpuk, PSM justru berada di titik sebaliknya: krisis bek kanan dan hanya bisa berharap rumor.
Nama Rio Fahmi kembali mencuat setelah dikaitkan dengan Arema FC. Rumor tersebut ramai beredar di media sosial dan diperkuat oleh unggahan akun transfernews__ft1. Meski belum ada konfirmasi resmi, sinyalnya jelas—Rio Fahmi butuh menit bermain yang kian sulit ia dapatkan di Persija.
Padahal, Rio Fahmi bukan pemain sembarangan. Dalam empat musim terakhir, ia mencatat 126 penampilan dengan total 7.935 menit bermain bersama Macan Kemayoran. Pada periode 2022/2023 hingga 2024/2025, ia nyaris tak tergantikan. Musim lalu saja, Rio tampil 28 kali dengan 22 di antaranya sebagai starter dan menyumbang tiga assist.
Namun situasi berubah drastis musim ini. Kedatangan Bruno Tubarao di awal musim, ditambah masuknya Fajar Fathurrahman, membuat posisi bek kanan Persija kelebihan pasokan. Rio Fahmi kini harus bersaing dengan dua nama yang sama-sama berada di level starter. Hasilnya, menit bermainnya turun signifikan—baru 15 penampilan dengan delapan kali menjadi starter.
Persija berada pada fase luxury problem: memiliki terlalu banyak pemain berkualitas di satu posisi.
PSM Makassar justru sebaliknya.
PSM Krisis, Berharap pada Todor Todoroski
Berbanding terbalik dengan Persija, PSM Makassar justru memasuki paruh musim dengan masalah mendasar di sektor bek kanan. Setelah resmi mendatangkan striker Serbia Luka Cumic, fokus Pasukan Ramang bergeser ke lini belakang—area yang sejak awal musim menjadi titik rawan.
Di tengah kondisi tersebut, satu nama mencuat: Todor Todoroski.
Bek kanan asal Makedonia Utara itu dikabarkan masuk radar utama pelatih Tomas Trucha. Pemain berusia 26 tahun tersebut diproyeksikan menjadi solusi instan di sisi kanan pertahanan, posisi yang hingga kini belum memiliki pengganti sepadan.
Ketertarikan Trucha bukan tanpa alasan. PSM membutuhkan full-back modern: disiplin bertahan, agresif saat overlap, dan kuat dalam duel satu lawan satu. Karakter itu dinilai melekat pada Todoroski.
Saat ini Todoroski masih terikat kontrak dengan Flamurtari FC (Albania). Namun rekam jejaknya di Eropa Timur tergolong solid. Ia pernah memperkuat Metalurg Skopje, lalu merumput di Liga Kroasia bersama NK Osijek, sebelum melanjutkan karier ke Serbia dan Rumania.
Pengalaman internasionalnya juga tak bisa dipandang sebelah mata. Todoroski merupakan langganan Timnas Makedonia Utara sejak kelompok usia hingga level senior.
Secara statistik, ia telah mencatat 195 pertandingan profesional, dengan 8 gol dan 4 assist—angka yang mencerminkan tipikal bek kanan modern yang aktif dalam fase transisi menyerang.
Cocok dengan Skema Trucha, Tapi Masih Sekadar Harapan
Setidaknya ada tiga alasan mengapa Tomas Trucha memprioritaskan Todoroski.
Pertama, fleksibilitas taktik—ia mampu bermain dalam skema empat bek maupun tiga bek.
Kedua, pengalaman Eropa Timur yang dikenal keras dan menuntut disiplin tinggi.
Ketiga, usia emas 26 tahun yang masih ideal untuk proyek jangka menengah.
Namun sampai hari ini, semuanya masih sebatas rumor.
Di saat Persija bisa melepas bek kanan sekelas Rio Fahmi karena stok berlebih, PSM Makassar justru masih berjibaku dengan ketidakpastian—menunggu satu nama yang belum tentu berlabuh.
Bursa transfer kembali membuka cermin perbedaan kelas manajemen skuad:
Persija memilih dari kelimpahan, PSM berharap dari kekosongan.
Dan bagi Pasukan Ramang, waktu terus berjalan.



