Rancagoong, ketika malam semakin menua
Menjelang pergantian hari pukul 23.47.
Kirana
Bagaimana kamu menjalani harimu? Mungkin pertanyaan yang terlalu basi sebagai pembuka obrolan, namun aku tak punya lagi stok pertanyaan sekadar menyapamu. Aku selalu berharap ada sisa basa basi dalam memori otakku untuk menanyakan hari-harimu.
Aku tahu kau mungkin sudah terlalu muak mendengarnya saban malam sesaat tiba di kamar kosmu. Pesan template dariku selalu muncul dinotifikasi whatsappmu.
Namun semua tersisa kenangan, kita sedang berjalan tidak lagi beriringan.
Kau mungkin tidak menyadari, tadi siang selepas makan di warteg belakang kampus, aku memandangami dari kejauhan. Kau sedang menghabiskan sisa waktu istirahat di sudut Mokopi dengan segelas Matcha.
Aku tidak tahu persisnya sejak kapan kau jatuh cinta pada minuman itu, yang tersisa di memoriku bahwa kau begitu membenci minuman yang manis.
"Aku sudah terlalu manis, buat apa menambah yang manis-manis." Begitulah candamu yang menurutku terlalu garing tetapi selalu memaksaku tersenyum sekadar mengapresiasi usahamu.
Malam ini, entah sekian malam sudah berlalu, aku seakan diserang gejala insomnia. Bahkan menjelang pergantian hari, pikiranku masih berkutat dengan hal-hal yang tak penting, tentu ada kau di dalamnya.
Aku rebahan di samping meja kecil tempat buku-bukuku berserakan. Ada pulpen biru terselip, pulpen yang kau hadiahkan setahun lalu namun tidak pernah kugunakan.
Aneh ya, padahal aku suka sekali mencoret-coret buku setiap aku membaca. Mungkin karena aku tahu, ini menjadi pemberianmu yang terakhir, terlalu sayang jika hanya berakhir sebagai sampah.
"Lumayan buat kau gunakan menulis catatan kecil hasil bacaanmu." Begitu katamu.
Di malam yang beranjak menua, aku menulis sambil mendengarkan lagu yang sering kita putar di pojok kafe belakang kampus.
Lagu yang dinyanyikan oleh Danilla feat the Panasdalam yang diciptakan oleh Pidi Baiq.
Aku terlalu sering menceritakanmu bahwa Pidi Baiq adalah Seniman favoritku sejak zaman kuliah 20 tahun silam. Meski kau tahu juga bahwa aku bukan pembaca novel-novelnya karena terlalu mainstream.
Konyol juga ya, dulu kita sering bercanda bahwa Bandung adalah kisah cinta terlarang yang datang terlalu telat, tetapi kita tidak pernah menyesalinya.
Kau mungkin sudah terlalu bosan mendengar ocehanku bahwa jatuh cinta pada Bandung dan Gadisnya adalah dosa yang tidak pernah kusesali.
Meski kau orang Sunda tapi bukan asli Bandung, toh pada akhirnya kita berdua adalah perantau brengsek yang jatuh cinta pada kota ini, kota yang dijuluki paling macet mengalahkan Jakarta.
Kau terlalu sering mengajakku makan aneka jajanan Bandung. Meski kau tahu bahwa hatiku jatuh cinta pada kota ini namun anehnya lidahku tidak pernah berhasil mencintai aneka rasa makanannya. Entahlah, bayang-bayang Konro, Coto, ikan bakar terlalu indah untuk dikhianati.
Maafkan lidahku atas rasa yang tak juah memaksanya jatuh hati.
Pada akhirnya, aku bertahan pada hati yang retak sementara kau berlalu begitu saja. Tidak pada kota ini tapi pada ikrar yang dulu kita sepakati.
Di Mokopi, kau menyisakan kata terakhir,
"Kau akan baik-baik saja di kota ini, jarak hati yang harus memisahkan semua setelah kebersamaan yang begitu singkat."
Aku tidak membalas, hanya raut muka yang menjadi tanda bahwa kau mengerti, betapa hidup seringkali bercanda.
Aku tidak pernah menyalahkanmu, itu janjiku. Bahkan ketika kau dengan tega mengakhiri semua pada sisa-sisa kenangan yang tak mungkin dihapus.
Pada malam ketika mataku tak jua terpejam, pada jarum jam yang sebentar lagi menunjukkan pukul 1 dini hari. Pikiranku menyusuri seluruh kenangan kita pada setiap tempat yang kita sambangi di kota ini.
Pada pasar buku Palasari, hari-hari pertama aku menggandeng tanganmu sambil memilah novel tua, dan berakhir pada makan siang di warung Sunda.
Pada bangku taman di Braga, saat ketika aku mencuri pandang dan mengecup keningmu, tepat ketika matahari terbenam. Aku ingat, kau menjambak rambutku lalu berakhir dengan pelukan hangat.
Pada lapangan Gasibu saban Sabtu, ketika kita jogging dengan puluhan kaum urban. Kau dan aku tahu bahwa kita hanya ingin menghabiskan hari setiap sudut kota ini, Jogging hanyalah kamuflase.
Pada warung-warung di daerah Tamansari, dan pada semua tempat yang kita jejak. Ah, mengingat itu semua memaksa pikiranku tetap sibuk di malam ketika seharusnya aku sudah terlelap.
Pada kafe di Dago atas yang membebaskan kita menatap Bandung dengan segala kemewahannya. Dago atas menjadi saksi ketika kita terjebak dalam jeratan dosa masa lalu.
Ah, aku tidak mau menceritakan ini terlalu detail. Biarlah kita simpan pada hati yang terluka, toh kau juga pasti tidak suka mengingatnya. Pada momen ketika kita lupa semua, pada malam ketika keringat kita beradu.
Oh iya, Bandung dan kesalahan yang selalu kurindukan berkali-kali, Brengsek memang.
"Aku tidak terlalu suka Bandung, sudah terlalu padat." Begitu keluhanmu setiap kali penat dengan rutinitas di kota ini.
Ada satu hal lagi yang aku lupa, kau tahu bahwa aku masih sangat suka sekali menulis surat untukmu. Surat yang isinya hal-hal absurd, sekadar berusaha untuk memaksamu tersenyum.
Aku berharap, tumpukan surat-suratku masih kau simpan rapi di kamar kosmu, sekadar kau baca suatu saat nanti ketika sudah pergi dari Bandung.
Sekali lagi, dan mungkin ini yang terakhir aku menyapamu pada rindu dalam malam yang semakin hening,
Meski kau tahu bahwa pada tulisan-tulisan lapuk, aku tetap akan menjumpaimu.
Kau juga tahu bahwa aku adalah orang yang tak punya keahlian untuk dibanggakan. Sekian kali belajar musik tapi tak berhasil, mencoba melukis namun gagal berkali-kali, dan kau tahu juga bahwa aku selalu tidak punya banyak hal untuk dibanggakan.
Dan pada malam ketika aku berkeluh kesah atas semua, kau menitipkan satu pesan yang akan tetap kupatuhi,
"Menulislah, bukan untuk dibaca orang lain tetapi sekadar memaksamu untuk memahami siapa dirimu. Menulis mungkin tidak membuatmu kaya ataupun terkenal tetapi setidaknya kau mengenali siapa dirimu."
Kau menasehatiku sesuatu hal yang kau sendiri sangat malas melakoninya. Aku ingat, terakhir kali kau mencoba menulis puisi tentang kampus kita, bahkan kau sendiri jijik membaca,
"Tulisan sampah," begitu katamu.
Namun pada akhirnya aku menyadari bahwa kau memaksaku menulis sebagai bentuk penyembuhan luka yang kau tinggalkan begitu saja.
Tadi siang ketika kau menikmati segelas Matcha di sudut Mokopi belakang kampu kita, momen terakhir aku memandangimu karena kabarnya, kau menerima tawaran orang tuamu untuk pulang kampung lalu menikah dengan teman kelasmu, cinta pertamamu.
Mungkin orang-orang menganggap ini cerita khayalan, namun kita berdua yang tahu rahasia sebenarnya bahwa apa yang dituliskan dalam bentuk fiksi hanyalah cara kita menyamarkan kisah asmara kita yang tak berakhir bahagia, bahkan berujung luka.
Meski aku tetap bahagia mengenalmu selama dua tahun. Momen ketika aku masih sangat asing pada kota ini.
Selamat tinggal Kirana, gadis Sunda yang memaksaku tidak menyesali khilaf yang kusengaja.
Selamat tinggal pada hati yang pernah menyisakan kenangan-kenangan di kota Bandung.




