Perairan Raja Ampat, Papua Barat Daya, merupakan jantung segitiga terumbu karang dunia. Sebanyak 75 persen spesies terumbu karang di Bumi ada di sini. Terumbu karang juga jadi rumah berbagai spesies ikan, hiu belimbing (Stegostoma tigrinum) salah satunya. Setelah mereka sempat hilang, kini hiu belimbing pulang ke rumah.
Pulau Kri di Distrik Meos Mansar, Kabupaten Raja Ampat, jadi saksi bagaimana hiu belimbing, yang juga dikenal hiu zebra, pernah hidup di perairan Raja Ampat. Kami pun berlayar menerjang gelombang selama dua jam dari Kota Sorong dari Pelabuhan Marina Star menuju ke Cape Kri di Pulau Kri.
Pantai berpasir putih menyapa, titian di pesisir menyambut dan mengantar kami ke homestay warga. Sepanjang titian, ikan-ikan berenang riang di air jernih berhiaskan terumbu karang kecil yang indah.
Sejumlah ikan berwarna cerah hingga begitu indah dipandang, mulai dari biru, kuning, sampai merah. Benar-benar serpihan surga.
Bagi hiu belimbing, Raja Ampat sempat menjadi rumah yang rusak. Pada era tahun 1990–2000, mereka diburu, kulitnya diambil, atau terkena bom ikan.
Hiu belimbing adalah salah satu spesies hiu karpet yang ditemukan di wilayah Indo-Pasifik tropis. Tidak seperti hiu lain yang berukuran besar, panjang hiu belimbing hanya 2 meter saat dewasa dengan pola bintik-bintik di badannya. Saat kecil, pola bintik agak panjang, seperti zebra, tetapi ketika dewasa, garis-garis hitam berpencar menjadi bintik.
Walau tak besar, hiu belimbing memiliki peran penting dalam keseimbangan ekosistem. Sejak kerap diburu, populasinya menurun drastis. Survei peneliti International Union for Conservation of Nature (IUCN) selama lebih dari 15.000 jam dalam rentang tahun 2001–2021 hanya menemukan tiga ekor.
IUCN mencatat populasi hiu belimbing hanya 20 ekor, yang tersebar di perairan Kepulauan Raja Ampat seluas lebih kurang 6 juta hektar. Dengan jumlah tersebut, hiu belimbing sudah dinyatakan punah secara fungsional atau bahkan menuju kepunahan lokal.
Untuk itu, banyak badan konservasi dunia menaruh perhatian terhadap hiu belimbing. Mereka berkolaborasi membuat proyek StAR atau The Stegostoma tigrinum Augmentation and Recovery Project (StAR Project). Konservasi Indonesia sebagai salah satu lembaga yang menitikberatkan perhatian pada kelestarian ekosistem laut turut mendukungnya.
Nesha Ichida, Project Manager StAR Project Indonesia, menjelaskan, pada 2021, pihaknya mulai menyiapkan segalanya lalu memilih Pulau Kri dan Pulau Misool sebagai tempat penelitian dan pengembangan hiu belimbing. Di tempat ini dilakukan penetasan telur dan perawatan hiu belimbing sebelum dilepasliarkan.
”Jadi idenya kami bisa breeding telur-telur yang ada di akuarium di beberapa negara dan dipindahkan ke Raja Ampat untuk ditetaskan, dipelihara, dibesarkan, lalu diberi penanda atau pelacak sebelum dilepasliarkan,” kata Nesha saat kami temui di Pulau Kri, Rabu (21/1/2026).
StAR Project, kata Nesha, bekerja berdasarkan penelitian tahun 2009 oleh banyak peneliti dunia. Ternyata, banyak akuarium di beberapa negara, terutama Australia, memiliki konsep serupa. Itu juga jadi alasan mengapa telur-telur yang dirawat di Pulau Kri dan Misool berasal dari Australia dan beberapa negara lain. Jenis hiu belimbing di perairan Australia cocok dengan ekosistem di Raja Ampat.
Dari penelitian lalu, lanjut Nesha, hiu belimbing hanya dibagi dua, yakni wilayah barat (western) dan timur (eastern). Raja Ampat lebih mirip dengan wilayah eastern. Di Kalimantan, hiu belimbing juga sering ditemukan, tetapi spesies dan habitatnya lebih mirip dengan Thailand ketimbang Raja Ampat dan Australia.
Nesha menjelaskan, butuh waktu 2,5 tahun untuk menyiapkannya sehingga baru pada Agustus 2022 telur-telur, yang bentuknya seperti kerang, didatangkan ke Kri dan Misool.
”Pengiriman pertama itu dari Sea Life Sydney yang jumlahnya 12 telur, lalu ada tiga yang menetas. Sejak saat itu terus dikirim dari berbagai akuarium (lain di dunia),” ungkap Nesha.
Untuk sukses dalam perawatan, lanjut Nesha, pihaknya juga menyiapkan pengasuh. Pengasuh berlatih sekitar dua tahun, mulai dari cara menetaskan telur, merawat, hingga melepasliarkan. Para pengasuh merupakan anak-anak muda dari seluruh Indonesia, termasuk Annisa Fathya (24).
”Kami tugasnya mulai dari menerima telur hingga menetas, lalu melepasliarkan,” kata Annisa.
Annisa merawat telur selama 7–8 bulan, masa inkubasi 150 hari, lalu merawat bayi hiu. Ketika berukuran sepanjang 70 sentimeter (cm), hiu dipindahkan ke keramba laut menunggu ukuran 100 cm sebelum dipasang chip atau pemancar (transmitter) sebelum dilepasliarkan.
”Data dari satelit menunjukkan mereka sudah menjelajah hingga ke Kota Sorong,” ujar Annisa.
Jika Annisa pengasuh, ada Yolanda Wamaer (28), perempuan dari Manokwari, yang bertugas menjadi edukator dalam pendidikan konservasi. Ia mengajak anak muda di sekitar Raja Ampat belajar konservasi dan mengenal spesies di perairan mereka.
”Siswa beberapa sekolah rutin datang ke sini untuk belajar. Mereka bahkan menyiapkan pakan untuk diberikan ke hiu belimbing,” ujar Yolanda.
Kini, ada 57 ekor hiu belimbing yang dilepasliarkan di perairan Raja Ampat. Salah satunya Morin, hiu belimbing berusia 6 bulan yang dilepasliarkan pada Rabu siang oleh Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu bersama Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany. Morin adalah hiu belimbing ke-57 yang dilepasliarkan.
”Saya mengimbau para pemancing yang menemukan hiu-hiu agar mengembalikannya (ke laut). Karena hanya dengan begitu hiu ini dapat terjaga, begitu juga laut Raja Ampat,” ujar Elisa.
Elisa mengungkapkan, Raja Ampat telah menjadi destinasi wisata utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama bagi para penikmat surga bawah laut. ”Orang datang menyelam ke Raja Ampat ingin lihat dua hal. Pertama terumbu karang dan yang kedua biota laut beraneka ragam. Adanya (hiu belimbing) ini turut memperkaya laut Raja Ampat,” katanya.
Meizani mengungkapkan, pelepasliaran hiu belimbing berpengaruh terhadap keberlangsungan spesies laut yang bergantung pada ekosistem terumbu karang. Sejak 2022, Konservasi Indonesia bersama puluhan lembaga nasional dan internasional tergabung dalam StAR Project untuk mendukung pemulihan populasi hiu zebra di Raja Ampat.
Pemulihan menerapkan pendekatan jangka panjang berbasis sains. ”Pemulihan populasi hiu belimbing membutuhkan waktu panjang dan tidak bisa mengandalkan perlindungan kawasan saja. Melalui StAR Project, kami mendukung pemulihan spesies ini melalui penetasan telur, pelepasliaran anakan, dan penguatan perlindungan habitatnya,” ujar Meizani.
Menurut Meizani, keberhasilan pemulihan spesies sangat bergantung kondisi ekosistem. ”Pengelolaan terumbu karang yang baik melalui kebijakan kawasan konservasi dan pengendalian aktivitas wisata menjadi faktor penting karena habitat yang sehat akan menentukan keberlangsungan hidup hiu belimbing dan spesies laut lain yang menjadikan Raja Ampat sebagai ruang hidupnya,” katanya.
Hingga Desember 2025, dua fasilitas penetasan hiu zebra di Raja Ampat telah menerima 164 telur dan melepasliarkan 51 anakan ke perairan Raja Ampat sebagai bagian dari upaya pemulihan jangka panjang.
Morin kini bebas berenang ke habitat hiu belimbing yang sesungguhnya di perairan Raja Ampat, bukan lagi di akuarium.
Melepasliarkan Morin telah menumbuhkan harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem laut di Raja Ampat dan menjaga spesies hiu belimbing dari ancaman kepunahan. Semoga Morin dan hiu belimbing lain yang telah dilepasliarkan kembali ke rumahnya di hamparan lautan dapat melanjutkan hidup dengan aman dan bahagia….

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4275176/original/062767300_1672218796-Banjir_Rob_Landa_Pelabuhan_Muara_Baru-Johan_Tallo-4.jpg)



