Akhir tahun selalu datang dengan suara bising. Suara Kembang api, konser, diskon besar-besaran, dan hitung mundur yang seolah wajib dirayakan. Ada semacam kesepakatan tak tertulis bahwa pergantian tahun harus diramaikan atau dirayakan. Jika tidak, kita dianggap kurang bersyukur, kurang gaul, atau kurang menikmati hidup. Padahal, di balik semua keramaian itu, ada banyak jiwa yang justru lelah.
Setahun penuh kita berlari. Mengejar target, menumpuk pekerjaan, menyelesaikan tuntutan, dan berusaha terlihat baik-baik saja. Akhir tahun sering hanya menjadi jeda singkat sebelum kita kembali berlari lebih kencang. Maka pesta pun hadir sebagai pelarian, cara cepat untuk melupakan beban, meski hanya sesaat. Sayangnya, yang dilupakan sering kali bukan masalah, melainkan diri sendiri.
Akhir tahun sejatinya bukan soal bagaimana kita menutupnya dengan meriah, tetapi bagaimana kita memaknainya dengan jujur. Ia adalah momen alami untuk berhenti sejenak dan bertanya "apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita sepanjang tahun ini?" dan "Apa yang tumbuh, apa yang hilang, dan apa yang berubah tanpa kita sadari?"
Banyak orang sibuk menyusun resolusi, tetapi lupa melakukan refleksi. Padahal tanpa refleksi, resolusi hanya daftar harapan yang mudah dilupakan. Kita ingin hidup lebih baik, lebih tenang, lebih berhasil, tetapi jarang berani menelusuri mengapa tahun ini terasa berat, mengapa lelah menumpuk, atau mengapa kebahagiaan terasa semakin jauh. Di situlah akhir tahun seharusnya bekerja bukan sebagai perayaan angka, melainkan sebagai ruang kesadaran.
Akhir tahun juga mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang pencapaian. Ada hal-hal yang tidak tercapai, rencana yang gagal, dan jalan yang ternyata salah arah. Semua itu bukan aib, melainkan bagian dari perjalanan. Jiwa yang sehat bukan jiwa yang selalu menang, tetapi jiwa yang mampu menerima, belajar, dan bangkit tanpa menyangkal kenyataan.
Di tengah budaya yang gemar pamer kebahagiaan, refleksi sering dianggap muram. Padahal, diam dan berpikir bukan tanda kekalahan. Justru dari keheningan, kita bisa mendengar suara yang selama ini tertutup oleh hiruk-pikuk seperti suara lelah, suara harapan, dan suara keinginan terdalam. Akhir tahun memberi kesempatan langka untuk mendengarkan semua itu tanpa interupsi.
Bukan berarti akhir tahun harus dilalui dengan kesedihan. Bukan pula larangan untuk bersenang-senang. Namun ketika pesta menjadi pusat makna, kita kehilangan kedalaman. Kembang api indah, tetapi cepat padam. Yang kita butuhkan untuk melangkah ke tahun baru adalah cahaya yang lebih tahan lama untuk pemahaman tentang diri sendiri.
Akhir tahun adalah tentang merapikan batin. Memaafkan yang belum selesai, melepaskan yang memberatkan, dan menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita. Ia mengajak kita berdamai dengan masa lalu agar tidak membawanya sebagai beban di masa depan.
Jika akhir tahun dimaknai sebagai peristiwa jiwa, maka ia tidak akan berakhir pada tanggal 31 Desember. Ia akan berlanjut menjadi tekad yang hidup di hari-hari berikutnya: tekad untuk lebih jujur, lebih peduli, lebih bersyukur, dan lebih bertanggung jawab. Tahun baru bukan tentang menjadi sempurna, melainkan menjadi lebih sadar.
Pada akhirnya, tahun baru tidak benar-benar “baru” jika kita masih membawa kelelahan lama, luka yang diabaikan, dan pelajaran yang tidak dipahami. Pergantian tahun hanyalah momen, tetapi maknanya ditentukan oleh kesadaran kita.
Maka, sebelum larut dalam sorak-sorai, barangkali kita perlu satu momen sunyi. Duduk sebentar, menarik napas, dan mengakui dengan jujur bahwa tahun ini tidak mudah, tetapi kita harus bertahan. Dari sanalah jiwa menemukan pijakan. dan sebelum larut dalam hitung mundur dan gemerlap cahaya, ada baiknya kita memberi waktu sejenak untuk jiwa. Duduk, mengingat, memahami, lalu berdamai. Karena hidup bukan tentang seberapa sering kita merayakan, tetapi seberapa dalam kita mengerti perjalanan yang telah dilalui.
Akhir tahun bukan tentang pesta. Ia tentang jeda agar kita tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri.




