Bukan Nasi, Melainkan Minuman Pendongkrak Bisnis Platform Pesan-Antar Makanan

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Minuman menyumbang hingga 30 persen dari total volume pesanan layanan antar makanan di Asia Tenggara. Lebih dari 90 persen dari pesanan itu berupa minuman dingin atau es. 

Demikian salah satu temuan laporan studi Momentum Works bertajuk ”Food Delivery Platforms in Southeast Asia 6.0”. Momentum Works merilis laporan ini pada Rabu (28/1/2026). 

Menurut laporan itu, minuman merupakan bagian besar dari bisnis pesan-antar makanan di ASEAN. Jenis minuman yang paling banyak dipesan adalah minuman yang cocok dengan iklim tropis dan memberikan efek kafein, seperti kopi dan teh. 

”Kami memperkirakan lebih dari 90 persen dari semua minuman yang dipesan melalui platform pengiriman makanan adalah minuman menyegarkan (dingin/es),” tulis Momentum Works dalam laporan yang dikutip Kamis (29/1/2026). 

Baca JugaPersaingan Ketat Layanan Pengiriman Makanan

Perusahaan jaringan minuman seperti Chagee, Luckin Coffee, dan Zus Coffee, menurut laporan Momentum Works itu, telah berhasil membentuk kebiasaan konsumen untuk berulang kali pesan minuman lewat layanan pesan-antar. Ketiganya bahkan sukses membudayakan konsumen order lewat aplikasi. 

Di negara lain, frekuensi pesanan minuman juga berperan signifikan dalam bisnis layanan pesan-antar makanan. Contohnya di China. Uniknya, di negeri itu, frekuensi pesanan minuman panas juga tinggi terutama saat musim dingin. 

Jika ditotal antara volume pesanan makanan dan minuman, Momentum Works memperkirakan, setiap hari terdapat 8,5 juta-9,5 juta pesanan pengiriman di ASEAN.

Temuan studi Momentum Works itu mirip dengan temuan survei yang dilakukan oleh Jakpat, perusahaan penyedia platform survei daring, pada Maret 2025.

Pada saat itu, Jakpat melalui laporan survei ”Consumer Behavior in Online Food Delivery” menemukan, frekuensi pesanan minuman menduduki urutan kedua di layanan pesan-antar makanan. Satu dari tiga orang di Indonesia disebut selalu pesan minuman via platform pesan-antar makanan dan kurang dari 20 persen order makanan berat.

Baca JugaPersaingan Jaringan Kafe Kopi Lokal dan Internasional Makin Ketat

Survei Jakpat itu melibatkan 1.343 responden sepanjang 13-14 Maret 2025. Sebanyak 46 persen responden berlatar belakang generasi milenial, 42 persen generasi Z, dan 12 persen generasi X. Dari segi latar belakang sosial ekonomi, 57 persen dari total responden berasal dari kelas menengah, 33 persen kelas atas, dan 10 persen kelas bawah. 

Minuman berbasis kopi dipilih oleh lebih dari setengah responden, terutama oleh responden kelas atas, saat mengakses platform pesan-antar makanan. Sementara, responden dari kelas bawah cenderung memilih minuman rasa buah, susu, dan yogurt. 

Harga standar ketika memesan minuman secara daring yaitu Rp 47.661. Responden kelas bawah cenderung mau mengeluarkan uang lebih banyak untuk memesan minuman dibandingkan makanan berat ketika mengakses platform pesan-antar makanan. 

Dalam survei yang sama, Jakpat menemukan 55 persen responden mengakses platform pesan-antar makanan karena ada diskon/promosi. Alasan lain yaitu terlalu malas keluar rumah dan malas antre. 

Total transaksi

”Dalam kategori makanan, makanan yang paling sering dibeli melalui layanan pesan-antar makanan di seluruh Asia Tenggara cenderung berpusat pada masakan lokal. Ini yang mencerminkan kebiasaan konsumsi sehari-hari. Minuman juga merupakan kategori dengan frekuensi pembelian tinggi meskipun terdapat beberapa variasi jenis minuman di setiap negara Asia Tenggara,” ujar Insights Lead Momentum Works, Weihan Chen, saat dihubungi.

Momentum Works memperkirakan total nilai transaksi penjualan bruto atau gross merchandise value (GMV) platform pesan-antar makanan di Asia Tenggara tumbuh 18 persen tahun ke tahun menjadi 22,7 miliar dolar AS pada 2025.

GMV platform pengiriman makanan di ASEAN mencapai pertumbuhan dua digit untuk tahun kedua berturut-turut. Pertumbuhan pada tahun 2025 melampaui pertumbuhan industri makanan dan minuman secara umum di kawasan ini, yang menyebabkan penetrasi yang lebih dalam.

Indonesia, Malaysia, dan Vietnam mencatat pertumbuhan GMV layanan pesan antar mendekati 20 persen pada akhir 2025. Di Indonesia, secara khusus, nilai GMV diperkirakan mencapai 1 miliar dolar AS atau setara Rp 16,7 triliun. 

Baca JugaMinuman Taiwan Menaklukkan Dunia

Vice Director for Education & Learning Excellence Universitas Prasetiya Mulya M Setiawan Kusmulyono, saat dihubungi terpisah, berpendapat, layanan pesan-antar makanan memiliki keunggulan utama di kota-kota besar dengan tingkat kepadatan dan kesibukan tinggi.

Di wilayah seperti ini, keterbatasan waktu luang untuk mengakses kedai minuman ataupun kafe membuat layanan pesan-antar makanan tetap relevan dan diminati. Situasinya berbeda dengan daerah yang lebih sepi yang cenderung mencatat volume transaksi lebih rendah.

Namun, kebiasaan menggunakan layanan pesan-antar makanan bukan sesuatu yang sepenuhnya statis. Seiring semakin canggih dalam menganalisis data perilaku konsumen, platform pesan-antar makanan tidak lagi hanya berperan sebagai aplikasi pengantaran, tetapi mulai bergeser menjadi pengatur selera permintaan dalam ekosistem layanan yang lebih luas.

”Ke depan, bisnis pesan-antar makanan akan tetap dibutuhkan di kota besar selama platform mampu menjaga kecepatan layanan, ketersediaan promo, dan relevansi dengan pola hidup masyarakat urban," ujar Setiawan. 

Namun, lanjutnya, jika terjadi perubahan perilaku konsumen yang gagal dipahami oleh platform, pangsa pasar layanan pesan-antar berpotensi menurun secara bertahap.

Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan mengatakan, platform penyedia layanan pesan-antar makanan, seperti GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood, memberi akses pasar dan visibilitas yang luas kepada UMKM makanan-minuman. Namun, mereka juga menekan margin yang diperoleh UMKM akibat komisi, promo, dan persaingan harga.

”Untuk bertahan, pelaku UMKM perlu strategi selektif—mulai dari menjual menu minuman bermargin tinggi di platform hingga memanfaatkan delivery sebagai sarana branding, sementara penjualan utama tetap dilakukan secara langsung,” kata Budi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Video: OJK Berkantor di BEI Untuk Redam Sentimen MSCI
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Uni Eropa Tetapkan IRGC Organisasi Teroris
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Ammar Zoni Peluk Dokter Kamelia yang Menangis dan Keluhkan Lelah
• 8 jam lalugrid.id
thumb
Kebakaran Perumahan di Cikini Padam, 13 Penghuni Selamat
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Merokok Dekat Anak Sangat Berbahaya, Ini Resikonya
• 7 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.