Harga Minyak Melonjak 3 Persen, Sentuh Level Tertinggi Lima Bulan

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak melonjak sekitar 3 persen ke level tertinggi dalam lima bulan pada Kamis (29/1/2026).

Harga Minyak Melonjak 3 Persen, Sentuh Level Tertinggi Lima Bulan. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak melonjak sekitar 3 persen ke level tertinggi dalam lima bulan pada Kamis (29/1/2026), dipicu meningkatnya kekhawatiran terganggunya pasokan global jika Amerika Serikat (AS) menyerang Iran, salah satu produsen minyak mentah terbesar OPEC.

Kontrak berjangka (futures) Brent naik 3,4 persen dan ditutup di USD70,71 per barel.

Baca Juga:
Berburu Saham Dividend Play di Tengah Guncangan MSCI

Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,5 persen ke USD65,42 per barel.

Kenaikan tersebut mendorong kedua acuan minyak masuk ke wilayah jenuh beli secara teknikal.

Baca Juga:
IHSG Rebound Usai OJK-BEI Respons MSCI, Ini yang Perlu Dicermati Investor

Brent ditutup pada level tertinggi sejak 31 Juli, sedangkan WTI mencatat penutupan tertinggi sejak 26 September.

Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran, termasuk serangan terbatas yang menyasar aparat keamanan dan para pemimpin, dengan tujuan memicu gelombang protes.

Baca Juga:
Wall Street Mayoritas Ditutup Melemah, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Kompak Turun

Melansir dari Reuters, sejumlah sumber menyebutkan langkah ini dipertimbangkan meski pejabat Israel dan Arab menilai kekuatan udara saja tidak cukup untuk menjatuhkan penguasa Teheran.

Di Iran, aparat keamanan berpakaian sipil dilaporkan telah menangkap ribuan orang dalam operasi penangkapan massal dan intimidasi guna mencegah meluasnya aksi protes.

Dua sumber AS yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan Trump ingin menciptakan kondisi menuju “perubahan rezim” setelah aksi penindakan sebelumnya menumpas gerakan protes nasional awal bulan ini yang menewaskan ribuan orang.

“Kekhawatiran pasar yang paling langsung adalah dampak lanjutan jika Iran membalas dengan menyerang negara tetangga atau, yang lebih krusial, menutup Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari,” ujar analis PVM John Evans.

Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC pada 2025, di bawah Arab Saudi dan Irak.

Uni Eropa pada Kamis juga mengadopsi sanksi baru terhadap Iran yang menargetkan individu dan entitas yang terlibat dalam penindakan keras terhadap pengunjuk rasa, serta secara terpisah menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris.

“Potensi Iran menjadi sasaran serangan telah meningkatkan premi geopolitik dalam harga minyak,” tulis analis Citi dalam catatan mereka.

Dari kawasan lain, Kremlin menyatakan Rusia kembali menegaskan undangan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk datang ke Moskow guna membahas perundingan damai, seiring upaya yang dipimpin AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.

Kesepakatan damai yang memungkinkan Rusia mengekspor lebih banyak minyak berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga energi. Rusia sendiri merupakan produsen minyak terbesar ketiga dunia setelah AS dan Arab Saudi.

Dalam perkembangan lain yang berpotensi menambah pasokan, Kazakhstan mengatakan Chevron akan mengambil langkah untuk memastikan operasi yang andal dan aman di ladang minyak raksasa Tengiz, dengan target mencapai produksi penuh dalam sepekan.

“Gangguan di Kazakhstan telah menghilangkan jumlah barel yang signifikan dari pasar,” kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Di AS, produksi minyak mentah terus pulih setelah badai musim dingin sempat memangkas produksi hingga puncaknya sekitar 2 juta barel per hari pada akhir pekan lalu.

Sementara itu, dolar AS bertahan di dekat level terendah sejak Februari 2022 terhadap sekeranjang mata uang lain, di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi AS.

Pelemahan dolar cenderung menopang harga minyak karena membuat minyak berdenominasi dolar lebih murah bagi pembeli global.

Federal Reserve (The Fed) juga menyampaikan nada yang lebih tenang terkait kondisi pasar tenaga kerja dan risiko inflasi, yang ditafsirkan investor sebagai sinyal suku bunga berpotensi bertahan lebih lama.

Suku bunga yang lebih rendah dapat menekan biaya pinjaman, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan permintaan minyak.

Analis mencatat premi harga Brent terhadap WTI naik ke USD5,30 per barel, tertinggi sejak April 2024.

Ketika selisih ini melampaui USD4 per barel, biasanya secara ekonomi masuk akal bagi perusahaan energi untuk meningkatkan pengapalan minyak mentah AS, yang berujung pada kenaikan ekspor AS. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perampokan Sadis di Boyolali, Bocah 5 Tahun Tewas dan Ibu Kritis
• 5 jam lalumerahputih.com
thumb
Saksi Ngaku Diminta Eks Pejabat Kemnaker Siapkan Hadiah Haji-Umrah
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Dr Kamelia Ajak Anak ke Sidang Ammar Zoni, Ternyata Ini Alasannya
• 18 jam lalucumicumi.com
thumb
Heboh Kota Tua Jadi Lokasi Syuting Film Lisa BLACKPINK, Begini Penjelasan Pihak Pengelola
• 21 jam lalusuara.com
thumb
Akhir Tahun Bukan Tentang Pesta, Tapi Tentang Jiwa
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.