Negara Muslim Terus Lawan Provokasi Israel agar AS Serang Iran

republika.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID,  WASHINGTON – Saluran diplomatik kian sibuk menyusul ancaman serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Saat Israel menyodorkan informasi soal lokasi potensial serangan, negara-negara Muslim mencoba mencegah serangan tersebut.

Axios pada Kamis melaporkan, para pejabat senior pertahanan dan intelijen Saudi dan Israel berada di Washington, DC, minggu ini dengan misi yang bertolak belakang. Hal itu disampaikan mengutip dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui hal tersebut. 

Baca Juga
  • Bersiap Lawan AS, Iran Punya 1.000 Drone Baru yang Lebih Menghancurkan
  • Iran Singkap Jaringan Rudal Bawah Laut, Demonstrasikan Kontrol Penuh Selat Hormuz
  • Iran Janji Ratakan Tel Aviv Jika Diserang Amerika

Menurut media tersebut, para pejabat Israel, di antaranya kepala Direktorat Intelijen IDF Mayjen Shlomi Binder, berbagi informasi intelijen mengenai target potensial di Iran, sedangkan Saudi berusaha mencegah perang melalui cara diplomatik.

Binder bertemu dengan pejabat senior Pentagon, CIA, dan Gedung Putih pada hari Selasa dan Rabu, kata kedua pejabat AS tersebut. Sebuah sumber yang mengetahui rinciannya mengatakan bahwa Binder membawa informasi spesifik yang diminta AS. 

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Sementara itu, Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman – adik dari Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman – dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan utusan khusus Trump Steve Witkoff pada Kamis dan Jumat. 

Putra mahkota Saudi telah mengatakan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah udara atau wilayahnya digunakan untuk aksi militer melawan Teheran, kantor berita negara SPA melaporkan awal pekan ini.

Menurut Axios, Arab Saudi telah menyampaikan pesan antara Iran dan AS dalam upaya meredakan situasi. Selain dorongan Saudi terhadap serangan tersebut, Israel telah mengidentifikasi tekanan besar dari Turki, Qatar, dan Oman terhadap Gedung Putih untuk memungkinkan mereka menjadi penengah antara Washington dan Teheran guna menemukan solusi diplomatik.

Turki akan menawarkan untuk menjadi penengah antara Washington dan Teheran ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berkunjung pada Jumat, kata para pejabat. Ankara sedang mempertimbangkan tindakan pengamanan tambahan di sepanjang perbatasan jika serangan AS mengganggu stabilitas negaranya, kata seorang pejabat senior Turki. 

Perundingan baru-baru ini antara Washington dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri program nuklir dan rudal balistik Republik Islam, dan hal ini telah meningkatkan opsi Presiden AS Donald Trump terhadap intervensi besar, CNN melaporkan. Kelompok penyerang angkatan laut AS berada di Timur Tengah, dan Trump telah memperingatkan bahwa kelompok tersebut “siap, bersedia dan mampu” untuk menyerang Iran “jika perlu.”

Pada Kamis, juru bicara militer Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengatakan kepada televisi pemerintah, “Respon tegas akan segera diluncurkan” jika terjadi serangan AS. 

“Jika kesalahan perhitungan seperti itu dilakukan oleh Amerika, maka hal itu pasti tidak akan terjadi seperti yang dibayangkan Trump – yaitu melakukan operasi cepat dan kemudian, dua jam kemudian, mengirim tweet bahwa operasi telah selesai,” dia memperingatkan. 

Sementara Uni Emirat Arab (UEA) mencoba jalur Moskow untuk mencoba meredakan situasi. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada timpalannya dari UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, bahwa Rusia memantau dengan cermat situasi di Iran dan ingin mendiskusikannya dengannya dalam pembicaraan di Kremlin. 

Putin menyampaikan komentar tersebut pada awal pembicaraan dengan presiden UEA, yang negaranya baru-baru ini menjadi tuan rumah perundingan damai antara Rusia dan Ukraina. 

Sebelumnya, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan potensi perundingan antara AS dan Iran belum habis, dan penggunaan kekuatan apapun terhadap Teheran dapat menciptakan “kekacauan” di kawasan dan menimbulkan konsekuensi berbahaya.

Rapat di Tel Aviv

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Berburu Saham Dividend Play di Tengah Guncangan MSCI
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Ada Tiga Perangkat AIoT Xiaomi Terbaru, dari TV Sampai Kamera
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Alasan Kolombia Pilih Guadalajara sebagai Markas Piala Dunia 2026
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
Kapolres Sleman Dinonaktifkan Sementara Buntut Kasus Hogi Minaya
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Wamenkum Tegaskan KUHAP Baru Dibuat untuk Lindungi HAM
• 1 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.