JAYAPURA, KOMPAS - Kebakaran yang menghanguskan lebih dari 100 bangunan di Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, diduga terjadi karena korsleting listrik di rumah warga. Upaya pemadaman api terkendala karena minimnya alat pemadam kebakaran. Kerugian akibat kebakaran ini diperkirakan mencapai Rp 22 miliar.
Kebakaran tersebut terjadi di kawasan Kogome, Distrik Karubaga, ibu kota Tolikara, Rabu (28/1/2026). Bangunan yang terbakar berupa rumah, kios atau toko, rumah makan, hingga tempat indekos.
“Dalam kejadian ini, tidak ada korban jiwa. Namun, kerugian materiil yang dialami para pedagang dan warga sekitar Rp 22 miliar,” kata Kepala Polres Tolikara Komisaris Roberth Hitipeuw dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).
Kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 13.50 WIT. Aparat dan warga kesulitan melakukan pemadaman karena ketiadaan alat pemadam yang memadai di wilayah Kabupaten Tolikara.
Upaya pemadaman dilakukan dengan cara manual oleh masyarakat bersama TNI-Polri. Alat utama yang digunakan berupa selang dan mesin genset air. Selain itu, satu unit ekskavator digunakan untuk membongkar bangunan yang berada di sekitar titik api untuk memutus sebaran api.
Berdasarkan laporan polisi, bangunan-bangunan tersebut ludes terbakar sekitar pukul 17.00 WIT. Namun, hingga Rabu malam dan Kamis (29/1) pagi, kepulan asap dan bara api masih ada di sekitar lokasi kejadian.
Pada Kamis, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tolikara langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Berdasarkan pemeriksaan awal, kebakaran diduga terjadi karena korsleting listrik di salah satu rumah warga.
“Kebakaran diduga kuat disebabkan oleh korsleting listrik yang berasal dari lantai dua rumah kios milik warga. Api kemudian dengan cepat merambat ke bangunan di sisi kiri dan kanan, hingga meluas ke bangunan di sekitar,” kata Kepala Bagian Operasi Satreskrim Polres Tolikara Inspektur Dua Chiliper FM Wally.
Pada Kamis, Pemerintah Kabupaten Tolikara juga turun langsung melihat kondisi di lokasi kejadian. Bupati Tolikara Willem Wandik menyatakan, pihaknya segera melakukan pengadaan dan penyaluran kebutuhan pokok kepada warga terdampak.
Untuk saat ini, warga yang terdampak kebakaran itu mengungsi di sejumlah lokasi. Warga lokal Tolikara mengungsi di dua titik di Kogome yang dikoordinasi oleh TNI.
Sementara itu, para warga pendatang memilih tinggal sementara di rumah kerabat. Selain itu, Polres Tolikara juga menyiapkan ruang aula sebagai pengungsian atau penitipan barang.
“Para korban sementara waktu tetap berada di titik-titik pengungsian masing-masing. Hal ini bertujuan untuk memudahkan proses pendataan sehingga penyaluran bantuan nantinya dapat tepat sasaran dan merata,” ujar Willem dalam keterangannya.
Willem juga meminta instansi-instansi terkait untuk memperhatikan nasib warga yang terdampak. Perhatian itu juga mencakup pengurusan dokumen kependudukan yang ikut ludes dalam musibah ini.
Di sisi lain, Willem menyatakan, kebakaran ini menjadi evaluasi besar bagi Pemkab Tolikara. Dia menyebut, pemerintah akan menyiapkan fasilitas dan alat pemadam kebakaran yang memadai di lokasi-lokasi strategis.
Kebakaran diduga kuat disebabkan oleh korsleting listrik yang berasal dari lantai dua rumah kios milik warga




