Kasus Penembakan oleh Agen ICE: Penegakan Hukum atau Represi?

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Di luar Amerika Serikat, nama U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) mungkin tidak sepopuler FBI atau CIA. Namun di dalam negeri, ICE adalah salah satu lembaga federal paling kontroversial. Didirikan pasca-9/11 di bawah Departemen Keamanan Dalam Negeri, ICE memiliki mandat menegakkan hukum imigrasi, mulai dari penahanan hingga deportasi. Dalam praktiknya, lembaga ini kerap menjadi simbol kerasnya kebijakan imigrasi Amerika, terutama ketika isu migran bertemu dengan politik identitas, keamanan, dan nasionalisme.

Kasus penembakan yang melibatkan agen ICE baru-baru ini kembali menarik perhatian publik internasional. Bukan hanya karena nyawa warga sipil melayang, tetapi karena peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana lembaga penegak imigrasi yang secara ideal bersifat administratif, semakin tampil sebagai aparat bersenjata di ruang publik. Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: ke mana arah penegakan hukum imigrasi Amerika, dan apa dampaknya bagi demokrasi di dalam negeri?

Insiden penembakan terjadi dalam konteks operasi penegakan hukum imigrasi di ruang publik. Versi resmi federal menyebut tindakan aparat sebagai bentuk pembelaan diri dalam situasi yang dianggap mengancam. Namun kesaksian saksi, rekaman video, dan temuan medis memunculkan narasi tandingan: korban tidak bersenjata, tidak melakukan serangan langsung, dan berada dalam posisi sipil, bahkan disebut sebagai pengamat atau bagian dari aksi protes damai.

Perbedaan narasi ini bukan hal baru dalam sejarah Amerika. Namun ketika pelaku adalah agen ICE, bukan polisi kota atau aparat anti-teror, sensitivitas publik meningkat. ICE tidak dilatih atau dipersepsikan publik sebagai lembaga penjaga ketertiban sipil harian. Ia adalah instrumen kebijakan imigrasi negara. Ketika instrumen tersebut menggunakan kekuatan mematikan, batas antara penegakan administratif dan represi bersenjata menjadi kabur.

Kasus ini pun memicu kemarahan pejabat lokal, ketegangan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian, serta gelombang protes masyarakat sipil. Dengan cepat, insiden tersebut melampaui persoalan hukum semata dan berubah menjadi isu politik nasional.

Implikasi bagi Politik Domestik di Amerika Serikat

Penembakan oleh agen ICE memperdalam jurang ketidakpercayaan publik terhadap lembaga federal, terutama di kota-kota yang selama ini kritis terhadap kebijakan imigrasi Amerika. Bagi banyak warga, ICE bukan lagi sekadar aparat hukum, melainkan simbol negara yang hadir dengan wajah koersif terutama terhadap kelompok rentan dan mereka yang bersolidaritas dengan isu migran.

Kasus penembakan Alex Pretti dengan cepat terseret ke dalam polarisasi klasik politik Amerika. Kelompok konservatif cenderung membela aparat atas nama keamanan dan supremasi hukum, sementara kelompok progresif melihat kasus ini sebagai bukti militerisasi berlebihan dan pelanggaran hak sipil. Alih-alih menjadi momentum evaluasi kebijakan, kasus penembakan ini justru memperkuat politik “kami versus mereka” yang sudah lama membelah masyarakat Amerika.

Reaksi keras dari wali kota dan gubernur di sejumlah negara bagian di Amerika Serikat, seperti wali kota New York, Zohran Mamdani, menunjukkan konflik laten antara otoritas federal dan pemerintah lokal. Banyak kota di Amerika Serikat mengusung pendekatan lebih humanis terhadap migrasi, sementara ICE menjalankan mandat nasional yang sering kali tidak sejalan dengan preferensi lokal. Penembakan ini memperlihatkan bagaimana konflik kewenangan tersebut dapat berubah menjadi krisis legitimasi negara.

Lebih jauh, kasus ini berkontribusi pada normalisasi penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat negara di ruang sipil. Jika tidak dikritisi, publik perlahan menerima bahwa aparat, apa pun mandat awalnya, berhak menggunakan senjata api dalam berbagai situasi. Ini adalah sinyal berbahaya bagi demokrasi yang mengeklaim diri berbasis supremasi sipil.

ICE dan Cerminan Retaknya Demokrasi di Amerika Serikat

Kasus penembakan oleh agen ICE bukan sekadar tragedi individual. Ia adalah cermin retak yang memperlihatkan ketegangan mendalam dalam demokrasi Amerika: antara keamanan dan kebebasan, antara kewenangan negara dan hak sipil, antara pusat dan daerah. Bagi masyarakat internasional, peristiwa ini juga penting sebagai pelajaran bahwa bahkan demokrasi mapan pun tidak kebal dari penyalahgunaan kekuasaan aparat.

Pertanyaannya bukan hanya apakah agen ICE melanggar prosedur, tetapi apakah arah kebijakan imigrasi Amerika telah mendorong aparat administratif menjadi aktor kekerasan negara. Tanpa evaluasi serius, kasus serupa berpotensi terulang dan setiap peluru yang dilepaskan akan semakin menggerus kepercayaan publik terhadap negara dan demokrasi itu sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemkab Padang Pariaman Siapkan Data Program Padat Karya untuk Pulihkan Lahan Pertanian Pascabencana
• 14 jam lalupantau.com
thumb
200 Ide Nama Usaha yang Membawa Berkah dan Keberuntungan
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Syuting Film Korea di Karawaci Tangeran, Pemkot Pastikan Warga Tetap Nyaman
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Modus Korupsi Berubah, Penguatan KPK Jadi Keniscayaan
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Ketika Kelalaian Orang Tua Berujung Luka yang Mendalam
• 14 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.