EtIndonesia. Badai musim dingin mematikan yang baru-baru ini melanda hampir seluruh Amerika Serikat telah menyebabkan sedikitnya 45 orang tewas. Di Texas terjadi sebuah tragedi yang memilukan: seorang ibu harus menyaksikan tiga putranya yang masih kecil jatuh ke dalam air es dan meninggal dunia. Demi menyelamatkan anak-anaknya, sang ibu sendiri nyaris kehilangan nyawa. Sungguh menyayat hati.
Sementara itu, badan meteorologi memperingatkan bahwa gelombang udara dingin kuat lainnya akan mulai bergerak pada Jumat dan Sabtu pekan ini, dari wilayah selatan Amerika Serikat ke arah utara, membawa suhu ekstrem yang memecahkan rekor serta hujan es ke kawasan New England.
Badai musim dingin ini membentang dari negara bagian Arkansas hingga New England, meliputi jarak lebih dari 1.300 mil, membawa salju tebal, sementara banyak wilayah selatan tertutup lapisan es yang sangat berbahaya. Suhu dingin ekstrem masih belum mereda.
Pejabat di berbagai negara bagian melaporkan, sedikitnya 45 orang meninggal akibat suhu beku, pemadaman listrik, dan kondisi jalan yang berbahaya. Pada Senin (26 Januari), tiga bersaudara yang berusia 6, 8, dan 9 tahun tenggelam setelah jatuh ke kolam pribadi yang membeku di dekat Bonham, Texas.
“Saya berlari di atas es sejauh yang saya bisa menuju mereka, dan akhirnya saya sendiri jatuh ke dalam air. Airnya sangat dingin hingga tubuh saya langsung mengalami syok, tetapi saya tetap berusaha bergerak maju. Saya berhasil memegang salah satu anak, mencoba meletakkannya di atas es, tetapi setiap kali saya meletakkannya, es itu pecah. Saya terus mencoba menyelamatkan satu per satu anak saya, tetapi di sana hanya ada saya seorang. Sendirian, saya sama sekali tidak mampu menyelamatkan semuanya,” kata ibu ketiga anak tersebut, Cheyenne Hangaman dikutip NTDTV.com, Kamis (29/1/2026).
Hangaman menambahkan, akhirnya ada seorang pria yang melemparkan tali kepadanya sehingga ia bisa diselamatkan.
Cheyenne Hangaman berkata: “Saat itu saya tidak bisa bernapas dan tidak bisa bergerak. Saya tahu anak-anak saya sudah tiada, jadi saya hanya bisa berjuang untuk menyelamatkan diri sendiri.”
“Kita selalu berpikir hal seperti ini tidak akan terjadi pada kita. Padahal saat itu saya ada di sana, jarak saya dengan mereka sangat dekat,” tambahnya.
Hingga Selasa (27 Januari) malam, pemadaman listrik masih meluas, dengan lebih dari 448.000 rumah tangga dan pelaku usaha di seluruh Amerika Serikat masih tanpa listrik.
Para ahli meteorologi juga memantau kemungkinan terbentuknya “siklon Bom” di lepas pantai Carolina pada Jumat malam hingga Sabtu (30–31 Januari), yang diperkirakan akan membawa salju lebat dan angin kencang.
“Kami sangat yakin bahwa sebuah sistem tekanan rendah akan terbentuk di sepanjang pantai Carolina. Ketika sistem ini datang, Carolina akan kembali mengalami curah hujan musim dingin yang signifikan. Namun kali ini, yang terutama kami bicarakan adalah salju yang lebih banyak,” kata Wakil Presiden Meteorologi sebuah perusahaan cuaca, James Berlinger.
Wilayah Carolina, Georgia bagian utara, dan Virginia bagian selatan diperkirakan akan menerima setidaknya 6 inci salju. Setelah itu, badai ini kemungkinan bergerak ke utara, mengikuti koridor I-95 dari Washington hingga Boston.
James Berlinger menambahkan: “Cukup banyak model cuaca yang juga menunjukkan bahwa sistem tekanan rendah ini, yaitu badai musim dingin tersebut, akan bergerak ke arah laut. Dalam skenario ini, wilayah dengan konsentrasi penduduk utama mungkin tidak terdampak, tetapi daerah pesisir masih berpotensi terkena dampaknya, termasuk hantaman gelombang laut.”
Ahli meteorologi memperkirakan, gelombang dingin Arktik di wilayah Midwest dan Timur Amerika Serikat akan berlanjut hingga pertengahan Februari. Bahkan jika terjadi pemanasan sementara, suhunya tetap berada di bawah rata-rata normal. (Hui)
Reporter New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, melaporkan dari Amerika Serikat.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5482532/original/028732300_1769228248-ClipDown.com_465082971_1715263545979507_2589278188521832570_n.jpg)
