Trauma Video Panas Beredar, Paris Hilton: Itu Luka yang Tak Pernah Hilang

tabloidbintang.com
3 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Paris Hilton mengaku dihantui oleh video syur yang melibatkan dirinya sepanjang sisa hidupnya.

Sosialita berusia 44 tahun itu sempat tampil dalam sebuah video panas bersama mantan kekasihnya, Rick Salomon, pada awal 2000-an. Paris mengungkapkan bahwa beredarnya video tersebut merupakan pengalaman traumatis yang tak pernah bisa ia lupakan.

Kepada Us Weekly, Paris mengatakan bahwa rasa kepercayaan yang dikhianati meninggalkan luka mendalam. Ia menyebut pengalaman itu sebagai hal paling mengerikan yang pernah dialaminya dan menyatakan bahwa peristiwa tersebut akan terus menghantuinya sepanjang hidup.

Saat ditanya apakah ia pernah berbicara dengan Rick Salomon sejak video itu tersebar, Paris menjawab singkat bahwa ia tidak pernah melakukannya. Ia juga menegaskan tidak memiliki niat untuk menghubungi mantan kekasihnya terkait persoalan tersebut.

Paris, yang kini telah menjadi ibu dari dua anak—putranya Phoenix (3 tahun) dan putrinya London (2 tahun) dari pernikahannya dengan Carter Reum—mengaku belum tahu bagaimana kelak ia akan menjelaskan isu tersebut kepada anak-anaknya.

Ia mengatakan belum memikirkan apa yang akan disampaikannya. Menurut Paris, sejak menjadi seorang ibu, kenangan tersebut justru terasa semakin menyedihkan karena ia harus mengalaminya secara terbuka di hadapan publik, sekaligus mendapat kecaman, padahal saat itu ia masih berusia 19 tahun.

Di sisi lain, Paris juga menyampaikan pandangannya tentang pentingnya keberanian untuk bersikap terbuka dan rentan. Ia pernah mengalami apa yang disebutnya sebagai “penculikan yang disetujui orang tua” ketika masih anak-anak, saat ditempatkan di empat fasilitas pembinaan remaja berbeda. Pengalaman itu mendorongnya aktif berkampanye dalam isu kesejahteraan anak, yang kini ia anggap sebagai pekerjaan paling bermakna dalam hidupnya.

Kepada Sky News, pewaris jaringan hotel tersebut menjelaskan bahwa lembaga-lembaga tersebut menanamkan rasa malu yang begitu dalam hingga para korban enggan membicarakan atau bahkan memikirkan pengalaman mereka. Menurutnya, rasa malu itu menjadi alat pembungkam yang kuat bagi para pelaku kekerasan.

Paris mengaku awalnya tidak mengetahui bagaimana reaksi publik terhadap kisah yang ia ungkapkan. Namun, respons yang diterimanya justru berupa curahan dukungan dan empati. Ia mengatakan puluhan ribu penyintas menghubunginya, baik secara langsung maupun di jalan, untuk mengucapkan terima kasih karena keberaniannya berbagi cerita telah membuat mereka akhirnya dipercaya oleh keluarga dan lingkungan sekitar.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Singgung Proyek Hambalang Tak Bisa Dimanfaatkan: Ahli Bilang Tanahnya Rentan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Ketum PP Muhammadiyah Tolak Wacana Polri di Bawah Kementerian: Bertentangan dengan Roh Reformasi 1998
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Tayang 12 Februari, Film Macam Betool Aja Angkat Kisah Cinta Anak Medan yang Relate
• 23 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Airlangga Minta OJK dan BEI Segera Terbitkan Aturan Naikkan Free Float Jadi 15 Persen
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
CAF Jatuhkan Denda Lebih dari 1 Juta Dolar AS Usai Kisruh Final Piala Afrika
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.