Sejumlah kapal nelayan masih tertahan di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara pada Jumat (30/1).
Penumpukan kapal terjadi akibat berbagai hal. Cuaca ekstrem, persoalan dokumen perizinan yang membuat aktivitas melaut terhenti, serta pelabuhan dipenuhi kapal yang tengah melakukan perbaikan.
Berdasarkan pantauan kumparan di lokasi pukul 09.50 WIB, kapal-kapal nelayan tampak terparkir semrawut dan berhimpitan di kawasan dermaga, khususnya Dermaga T. Kepadatan tersebut membuat kapal kesulitan bermanuver maupun keluar masuk pangkalan.
Salah satu kapten kapal nelayan, Taufik, mengatakan kapalnya sudah hampir sepekan belum bisa masuk ke pangkalan meski telah selesai bongkar muat sejak beberapa hari lalu.
“Iya, ini termasuk kapal kita juga. Sudah berapa hari, satu minggu belum bisa masuk ke pangkalan,” kata Taufik kepada kumparan.
Menurut Taufik, penumpukan kapal di Muara Angke tidak hanya disebabkan oleh cuaca buruk, tetapi juga persoalan dokumen perizinan kapal yang masa berlakunya berakhir secara bersamaan.
“Pertama cuaca, kedua faktor surat juga kan. Surat perizinan SIPI kan serentak tanggal 31, jadi overload di sini. Terus faktor cuaca juga ekstrem,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski sebagian kapal sudah mulai bisa kembali berlayar setelah dokumen diperpanjang, kepadatan di pelabuhan membuat kapal yang berada di bagian belakang belum dapat keluar.
“Setelah surat sih akhirnya sudah banyak yang bisa, udah banyak yang betul. Cuma yang di belakang nggak bisa keluar karena di sini kan macet,” ucapnya.
Akibat kepadatan tersebut, kapal-kapal hanya terparkir dan tidak bisa bergerak sama sekali. Taufik menyebut kondisi ini membuat aktivitas nelayan benar-benar terhenti.
“Kapal terparkir aja gitu. Jangankan buat manuver muter-muter, ini orang buat geser sedikit aja kan nggak bisa. Udah macet full di sini, udah nggak bisa gerak kapal,” katanya.
Taufik mengatakan, kondisi ini berdampak langsung terhadap penghasilan nelayan. Padahal, menurutnya, cuaca laut kini mulai membaik.
“Ya jelas pengaruh. Jadi kan kita nggak bisa ngejar waktu, cepet-cepet keluar kerja lagi. Kalau cuaca kan sekarang udah mulai enak juga, cuman kendala ini kita keluar nggak bisa,” ujarnya.
Sebagai kapten kapal, Taufik mengaku menerima banyak keluhan dari para nelayan. Selain kehilangan waktu melaut, mereka juga khawatir terhadap risiko keselamatan akibat kapal yang terlalu lama berhimpitan.
“Banyak lah. Kita jadinya terlalu lama di darat kayak gini. Pikiran juga kita kan takut, takut ada kebakaran apa. Kalau ada kebakaran juga kan kapal udah nggak bisa gerak, makin susah,” kata Taufik.
Kondisi serupa juga disampaikan Roy, nelayan lain yang kapalnya tertahan di Muara Angke. Ia mengatakan cuaca ekstrem membuat banyak kapal memilih bertahan di pelabuhan.
“Ya, cuaca, betul sekali. Ini karena cuaca masih ekstrem di tengah, jadi ya mendingan kita di pinggir aja dulu,” kata Roy.
Namun Roy mengakui, selain cuaca, persoalan perizinan juga menjadi faktor yang membedakan kapal bisa berangkat atau tidak.
Roy mengatakan, kapalnya sendiri saat ini tidak beroperasi karena sedang menjalani perbaikan.
“Perbaikan. Dua bulan,” ucapnya.
Ia juga menyebut tidak semua kapal yang menumpuk sedang diperbaiki. Sebagian lainnya sudah siap berlayar, namun tertahan dokumen.
“Kalau kapal sebelah saya sih enggak perbaikan ya, lagi nunggu surat. Dia udah isi minyak pula,” kata Roy.
Taufik berharap pemerintah melakukan pembenahan, khususnya terkait pengaturan dokumen perizinan agar tidak berakhir serentak dalam satu waktu, serta penataan keluar-masuk kapal di pelabuhan.
“Satu, masalah perdokumenan itu tolong dikaji ulang. Sampe tanggal 31 semua, jadi kapalnya kaya gini kan serentak masuk semua mati semua jadinya kan susah, masalah PMS juga kan ngaruh juga banyak nelayan yang budgetnya pas, nelayan yang kurang-kurang mampu PMS kan mahal,” ujarnya.
Pantauan kumparan hingga siang hari pukul 11.00 WIB, menunjukkan kepadatan kapal di Pelabuhan Muara Angke masih terjadi dan aktivitas keluar masuk kapal berjalan sangat terbatas.
Pram Minta Dibenahi
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, sudah mendengar kabar terkait penumpukan kapal di Pelabuhan Muara Angke tersebut. Pram kemudian memerintahkan penanggung jawab pelabuhan untuk membenahi kesemerawutan tersebut.
Pramono mengaku telah meminta Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta untuk berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam menangani persoalan tersebut.
“Saya juga sudah meminta kepada Dinas Perhubungan dan juga KKP untuk selalu bekerja sama menangani persoalan itu,” ujarnya kepada wartawan di Balai Kota DKI, Rabu (28/1).
Menurut Pramono, persoalan di lapangan terjadi karena ketidaktertiban antar pengguna kapal. Ia menyebut adanya kondisi di mana kapal yang berada di depan tidak mau keluar, sementara kapal di belakang juga tidak mau mengalah.
“Jadi memang persoalannya sebenarnya lebih pada orang bawa perahu yang di depan enggak mau keluar, yang belakang enggak mau anu,” katanya.




