Bisnis.com, CIREBON- Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Garut, Jawa Barat sepanjang 2025 tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, penurunan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya kondisi pasar kerja.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Garut menilai turunnya angka pengangguran lebih dipengaruhi oleh menyusutnya angkatan kerja, bukan karena bertambahnya kesempatan kerja baru.
Berdasarkan rilis resmi BPS, TPT Kabupaten Garut pada Desember 2025 tercatat sebesar 6,54%, turun 0,42% poin dibandingkan Desember 2024 yang berada di level 6,96%. Secara tren jangka menengah, angka pengangguran Garut relatif stagnan dan masih berada di kisaran 7% dalam empat tahun terakhir.
Kepala BPS Kabupaten Garut Nevi Hendri menjelaskan bahwa penurunan pengangguran tersebut terjadi bersamaan dengan berkurangnya jumlah angkatan kerja. “Pada Desember 2025, jumlah angkatan kerja Garut tercatat sekitar 1,4 juta orang, turun sekitar 40.000 orang dibandingkan Desember 2025,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Penurunan angkatan kerja itu tercermin dari melemahnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang turun cukup tajam. TPAK Garut pada Agustus 2025 tercatat 68,29%, turun 3,05% poin dari tahun sebelumnya yang mencapai 71,34%.
“Turunnya TPAK menunjukkan tidak semua penduduk usia kerja masuk ke pasar kerja. Sebagian memilih menunda bekerja, kembali ke pendidikan, atau tidak aktif secara ekonomi,” kata Nevi.
Baca Juga
- Garut Darurat Longsor, 36% Desa Terdampak Sepanjang 2025
- BPBD Garut Kerahkan Empat Personel Ahli Bantu Evakuasi Longsor Cisarua
Data BPS juga menunjukkan jumlah penduduk bekerja di Kabupaten Garut pada Desember 2025 mencapai 1,31 juta orang, atau turun sekira 30 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penurunan pengangguran tidak didorong oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, struktur kualitas pekerjaan menunjukkan perbaikan terbatas. BPS mencatat jumlah penduduk bekerja di sektor formal mencapai 0,41 juta orang atau 31,37% dari total pekerja. Angka ini naik 3,50 persen poin dibandingkan Desember 2025 yang masih berada di level 27,87%.
Meski demikian, Nevi menegaskan peningkatan proporsi pekerja formal belum cukup untuk mengimbangi menyempitnya pasar kerja secara keseluruhan. “Secara kualitas ada pergeseran ke formal, tetapi secara kuantitas kesempatan kerja belum berkembang signifikan,” ujarnya.
Dari sisi lapangan usaha, ketenagakerjaan Garut masih sangat didominasi sektor pertanian. Sekitar 70,81 persen penduduk bekerja berada di sektor pertanian, diikuti sektor jasa sebesar 23,08%, dan sektor industri hanya 6,11%.
Ketergantungan yang tinggi terhadap sektor pertanian dinilai membuat pasar kerja Garut rentan terhadap faktor musiman dan fluktuasi harga komoditas. Sementara itu, sektor industri yang diharapkan menjadi mesin penciptaan lapangan kerja justru menunjukkan kecenderungan melemah dalam beberapa tahun terakhir.
“Sektor jasa memang tumbuh, tetapi lajunya belum cukup cepat untuk menyerap tambahan tenaga kerja, terutama dari kelompok usia muda,” kata Nevi.
BPS menilai kondisi ini menjadi tantangan serius bagi transformasi ekonomi daerah. Tanpa perluasan basis industri dan jasa produktif, penurunan pengangguran berpotensi bersifat semu karena terjadi akibat keluarnya penduduk dari pasar kerja, bukan karena tersedianya pekerjaan yang memadai.
“Angka pengangguran yang turun perlu dibaca bersama indikator lain, seperti TPAK dan jumlah penduduk bekerja. Di situlah gambaran pasar kerja Garut yang sebenarnya,” pungkas Nevi.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/4909197/original/071644700_1722788944-Persis_Solo_-_Ilustrasi_Logo_Persis_Solo_2024_copy.jpg)
