Ini Penjelasan Badan Geologi Penyebab Longsor di Pasirlangu Bandung Barat

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bandung Barat: Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memaparkan hasil kajian teknis bencana gerakan tanah di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Bencana tersebut dipicu kombinasi kondisi geologi yang rentan dan curah hujan ekstrem.

Pelaksana Harian Kepala PVMBG Badan Geologi, Edi Slameto, menyatakan gerakan tanah terjadi pada Jumat, 24 Januari 2026, sekitar pukul 02.30 WIB. Lokasinya berada di Kampung Pasirkuning, meliputi RT 05 RW 11, RT 01 RW 11, dan RT 01 RW 10. Luas area terdampak mencapai sekitar 26 hektare.

"Gerakan tanah ini berupa longsoran yang berkembang menjadi aliran bahan rombakan atau debris flow. Materialnya didominasi batu, lumpur, dan tanah lempung-pasir. Panjang aliran mencapai sekitar tiga kilometer dari lereng atas hingga area landaan," ujar Edi di Ruang Informasi PVMBG Badan Geologi, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 30 Januari 2026.

Secara morfologi, lokasi bencana berada di kawasan pegunungan vulkanik tua. Kemiringan lereng bagian atas mencapai lebih dari 35 derajat, bahkan di beberapa titik lebih dari 55 derajat. Sementara itu, bagian tengah dan bawah memiliki kemiringan 8-16 derajat.
 

Baca Juga :

Polisi Minta Warga Tidak Datang ke Lokasi Longsor Pasirlangu


"Wilayah ini merupakan hasil aktivitas vulkanisme Gunung Burangrang di masa lalu. Material piroklastik yang sudah sangat lapuk menyebabkan tanah menjadi gembur dan mudah runtuh," jelas Edi.

Dari sisi geologi, lokasi bencana berada pada satuan Endapan Gunungapi tua yang tersusun atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, dan material piroklastik tidak terkonsolidasi. Ketebalan lapukan tanah di beberapa lokasi bahkan melebihi 10 meter.

Wilayah ini juga dipengaruhi sistem patahan dan rekahan berarah baratlaut–tenggara serta baratdaya-timurlaut yang semakin melemahkan kestabilan lereng. PVMBG mencatat curah hujan ekstrem lebih dari 220 milimeter per hari sebagai faktor pemicu utama. Kondisi jenuh air meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan kuat geser tanah, sehingga lereng mengalami kegagalan.


Operasi pencarian longsor di Pasirlangu, Bandung Barat. Metrotvnews.com/Roni Kurniawan

"Material longsoran bercampur air membentuk aliran debris dengan energi besar. Dari hasil pemodelan, material hanya membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 25 menit untuk bergerak dari lereng atas ke area landaan," papar Edi.

Edi menambahkan, teridentifikasi setidaknya dua hingga tiga kali suplai material susulan yang mengalir ke bagian bawah. Hal ini ditandai dominasi material bongkah dan tanah hasil rombakan lama.

"Material debris bergerak ke arah selatan, lalu berkembang menjadi aliran mengikuti alur sungai dan berbelok ke barat. Terjadi limpasan penyimpangan aliran bahan rombakan ke arah selatan karena overflow material," ungkap Edi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tak Ingin Larut dalam Duka, Reza Arap Janji Wujudkan Mimpi Lula Lahfah
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Tolak di Bawah Kementerian, Kapolri: Doktrin Polri To Serve and Protect
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Antusiasme Siswa SLB Ikuti Kegiatan Belajar Menulis Braille
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Profil dan Perjalanan Karier Iman Rachman, Dirut Bursa Efek Indonesia yang Mundur usai IHSG Anjlok
• 2 menit laludisway.id
thumb
7 Makanan dan Minuman Paling Rendah Kalori untuk Dietmu
• 5 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.