EtIndonesia. Seiring dengan kedatangan kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah, ketegangan antara Washington dan Teheran terus meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Situasi ini menandai fase baru dalam konfrontasi strategis antara kedua negara, di mana unjuk kekuatan militer kini dilakukan secara terbuka dan masif.
Sebagai respons terhadap pengerahan armada Amerika, Iran menunjukkan langkah balasan dengan memunculkan kapal induk drone Shahid Bagheri di perairan dekat Pelabuhan Abbas, wilayah strategis di Teluk Persia. Kapal tersebut terdeteksi beroperasi di area yang berdekatan dengan zona patroli pesawat pengintai strategis Amerika MQ-4C Triton (Poseidon).
Kapal Induk Drone Iran: Besar, Namun Rentan
Perlu dicatat, Shahid Bagheri sejatinya bukan kapal perang murni. Kapal ini merupakan hasil modifikasi dari kapal kontainer sipil, yang secara resmi mulai bertugas pada tahun 2025. Meski telah dimodifikasi untuk meluncurkan drone, mengoperasikan helikopter, serta membawa rudal anti-kapal buatan dalam negeri Iran jenis Noor, kemampuan tempurnya dinilai sangat terbatas jika harus berhadapan langsung dengan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Platform sipil tersebut hanya memiliki perlindungan minimal, menggunakan mesin diesel dengan kecepatan maksimum sekitar 20 knot. Meski bobot benamannya besar—diperkirakan lebih dari 40.000 ton—ukuran raksasa dengan pertahanan lemah justru menjadikannya sasaran empuk bagi serangan udara dan laut modern AS.
Propaganda Militer Iran dan Simulasi Serangan Kamikaze Drone
Namun, pandangan Teheran jelas berbeda. Dalam beberapa hari terakhir, Garda Revolusi Iran (IRGC) merilis video propaganda yang menampilkan citra udara sebuah kapal induk Amerika Serikat. Rekaman tersebut sebenarnya diambil pada tahun 2019, ketika drone Iran sempat memantau USS Dwight D. Eisenhower.
Dalam cuplikan lanjutan, ditampilkan simulasi serangan berulang menggunakan drone bunuh diri terhadap kapal induk AS. Narasi ini mengingatkan banyak analis militer pada taktik kamikaze Jepang di era Perang Dunia II—sebuah upaya yang secara historis gagal mengubah keseimbangan kekuatan laut.
Secara realistis, skenario tersebut dipandang sebagai ilusi strategis. Angkatan Laut AS memiliki pengalaman tempur luas di kawasan ini, khususnya di Laut Merah sepanjang tahun 2025, ketika serangan drone dan rudal balistik buatan Iran yang diluncurkan kelompok Houthi Yaman berhasil dicegat sepenuhnya oleh sistem pertahanan Amerika tanpa satu pun kapal perang mengalami kerusakan.
Bunker Rudal Pantai Iran: Ancaman Nyata atau Sekadar Gertakan?
Selain itu, Iran juga merilis video lain yang memperlihatkan bunker terowongan bawah tanah berisi kendaraan peluncur rudal anti-kapal. Kendaraan-kendaraan ini dirancang untuk dikerahkan secara mobile ke garis pantai Iran guna menyerang kapal Amerika maupun target pesisir lainnya. Dari tayangan tersebut, tampak sedikitnya 20 unit peluncur.
Namun, para analis menilai kekuatan ini tetap tidak memadai. Kapal induk seperti USS Abraham Lincoln umumnya beroperasi di luar radius 500 kilometer dari garis pantai Iran, sementara jangkauan rudal Iran tidak mencukupi. Lebih jauh, Iran juga belum memiliki kapabilitas pengintaian udara real-time yang mampu melacak posisi armada AS secara presisi dan berkelanjutan.
Jika Amerika memutuskan menyerang, serangan hampir pasti bersifat pre-emptive. Lokasi bunker rudal diyakini telah terpetakan, dan AS berpotensi menggunakan bom penghancur bunker (bunker-buster) untuk melumpuhkan seluruh sistem sebelum sempat dikerahkan.
Ultimatum Trump: “Waktu Iran Hampir Habis”
Pada 28 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengunggah pernyataan keras di media sosial. Dia menyebut bahwa armada besar AS sedang bergerak menuju Iran, dipimpin oleh USS Abraham Lincoln. Trump menegaskan bahwa operasi ini akan jauh lebih besar dibandingkan aksi militer terhadap Venezuela.
Dia menyatakan bahwa waktu bagi Iran hampir habis dan kembali menekan Teheran agar segera mencapai kesepakatan. Jika tidak, Amerika akan melanjutkan dengan apa yang dia sebut sebagai “Operasi Midnight Hammer”, yang bertujuan menghancurkan Iran secara menyeluruh, dengan gelombang serangan lanjutan yang jauh lebih dahsyat. Pernyataan ini dipandang sebagai ultimatum terakhir bagi Iran.
Pengerahan Besar-besaran Militer AS
Dalam beberapa hari terakhir, peta pengerahan militer AS menunjukkan aktivitas udara yang sangat intensif. Pesawat angkut militer terpantau terbang dari Eropa menuju Siprus, Qatar, dan kawasan Timur Tengah, sementara jet tempur mulai terkonsentrasi di Qatar dan Yordania.
Pergerakan USS Abraham Lincoln dikonfirmasi melalui pelacakan sebuah CMV-22 Osprey yang terlihat beroperasi di laut dekat pangkalan udara pesisir Oman. Pesawat tersebut diduga menjalankan misi logistik penting, menandakan bahwa kapal induk kini beroperasi di perairan lepas Oman, sekitar 700–800 kilometer dari daratan Iran.
Perang Elektronik dan Pertahanan Udara
Amerika juga memperkuat dimensi perang elektronik. Pesawat EA-37B Compass Call generasi terbaru dilaporkan tiba di Jerman. Meski secara resmi disebut tidak terkait langsung dengan Timur Tengah, hampir seluruh pengerahan udara AS ke kawasan ini selalu melalui Jerman atau Inggris.
EA-37B—hasil modifikasi jet Gulfstream G550—memiliki kemampuan menekan radar, melumpuhkan komunikasi, mengganggu GPS, dan merusak sistem informasi musuh. Unit pertama diserahkan pada 2024, dengan rencana total 10 unit, dan Italia menjadi pelanggan internasional pertama.
Sementara itu, citra satelit terbaru menunjukkan pengerahan sistem Patriot di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, lengkap dengan radar AN/MPQ-65 dan lima peluncur. Sistem THAAD juga terdeteksi di Gurun Negev, Israel, dengan enam peluncur dan radar AN/TPY-2.
Dalam konflik 12 hari pada 2025, Iran pernah meluncurkan lebih dari 20 rudal balistik ke Al Udeid, namun seluruhnya berhasil dicegat. Patriot dan THAAD juga telah berulang kali mencegat senjata hipersonik Iran.
Peran Inggris dan Sekutu Regional
Inggris turut menunjukkan pergerakan. Pada 26 Januari 2026, sebuah pesawat angkut A400M RAF terbang dari Siprus ke Qatar. Selain itu, delapan jet tempur Tornado Inggris telah tiba di Al Udeid atas undangan pemerintah Qatar. London diperkirakan tidak ikut menyerang, melainkan fokus pada pertahanan udara dan pencegatan rudal.
Media Israel melaporkan bahwa jika serangan dimulai, Inggris, Uni Emirat Arab, Yordania, dan negara lain akan membantu mencegat serangan balasan Iran.
Diplomasi Buntu, Ancaman Perang Terbuka
Meski komunikasi diplomatik masih berlangsung melalui Oman dan utusan khusus Trump, Witkoff, laporan The New York Times menyebut Iran menolak seluruh tuntutan AS—mulai dari penghentian pengayaan uranium, pembatasan rudal, hingga dukungan terhadap proksi regional.
CNN melaporkan bahwa Trump kini serius mempertimbangkan serangan besar, termasuk serangan presisi terhadap pimpinan rezim, pejabat keamanan, serta fasilitas nuklir dan institusi pemerintahan utama.
Pada 28 Januari, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan di Kongres bahwa AS menempatkan sekitar 30.000–40.000 personel di 8–9 pangkalan regional. Dia mengakui bahwa skenario pasca-jatuhnya rezim Iran jauh lebih kompleks dibanding Venezuela.
Menanti Detik Penentuan
Dengan kekuatan ofensif dan defensif yang telah berada di posisi siap tempur, serta retorika politik yang kian keras, dunia kini berada di ambang eskalasi besar. Sejumlah media Barat bahkan menyebut kemungkinan latihan militer besar atau blokade laut penuh terhadap Iran dalam waktu dekat.
Apakah rudal Amerika akan benar-benar menghantam Iran? Akankah Timur Tengah kembali diguncang perang besar?
Dunia kini hanya bisa menunggu dan menyaksikan.




