Sisakan Satu Mata untuk Melihat Diri Sendiri

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Dalam sejarah Jepang, pernah muncul dua pendekar pedang besar. Yang pertama adalah Miyamoto Musashi, dan yang kedua adalah Yagyū Matajūrō. Yagyū Matajūrō merupakan murid dari Miyamoto Musashi.

Sejak muda, Yagyū Matajūrō dikenal sebagai anak yang suka bermain-main dan tidak mau serius menerima ajaran ayahnya untuk berlatih pedang. Karena sikapnya itu, dia akhirnya diusir dari rumah oleh ayahnya sendiri.

Peristiwa tersebut menjadi pukulan besar baginya. Yagyū pun bersumpah dalam hati bahwa dia harus menjadi seorang pendekar pedang hebat. Dia lalu pergi seorang diri ke sebuah pegunungan terpencil untuk menemui pendekar paling termasyhur pada masa itu, Miyamoto Musashi, dengan maksud memohon agar diterima sebagai murid.

Setelah bertemu Musashi, Yagyū dengan penuh semangat bertanya: “Jika aku belajar dengan sungguh-sungguh, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pendekar pedang kelas satu?”

Musashi menjawab singkat: “Seluruh sisa hidupmu.”

“Aku tidak bisa menunggu selama itu,” kata Yagyū semakin gelisah. “Selama Anda bersedia mengajariku, aku rela menjalani penderitaan apa pun demi mencapai tujuan itu. Bahkan aku bersedia menjadi pelayanmu dan selalu mengikutimu. Kalau begitu, berapa lama waktu yang dibutuhkan?”

Musashi berpikir sejenak lalu berkata: “Kalau begitu… mungkin sepuluh tahun.”

Yagyū menjadi semakin cemas: “Ah! Ayahku sudah lanjut usia. Aku ingin beliau melihatku menjadi pendekar pedang kelas satu sebelum beliau meninggal. Sepuluh tahun terlalu lama. Kalau aku berlatih dua kali lebih keras, berapa lama waktu yang diperlukan?”

Musashi menjawab dengan tenang : “Hmm… mungkin tiga puluh tahun.”

Yagyū hampir menangis: “Kalau aku mengorbankan segalanya, berlatih siang dan malam tanpa henti, berapa lama waktu yang dibutuhkan?”

“Oh, kalau begitu mungkin tujuh puluh tahun. Atau bahkan seumur hidup ini kamu tidak akan pernah menjadi pendekar pedang sejati,” kata Musashi perlahan.

Yagyū pun diliputi kebingungan besar dalam hatinya: “Bagaimana mungkin begitu? Mengapa semakin aku berusaha keras, justru semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi pendekar pedang kelas satu?”

Musashi menjawab dengan nada tenang: “Karena kedua matamu hanya tertuju pada sosok ‘pendekar pedang kelas satu’. Lalu, dengan mata apa kamu melihat dirimu sendiri?”

Dia melanjutkan : “Syarat utama untuk menjadi pendekar pedang kelas satu adalah: selalu sisakan satu mata untuk melihat diri sendiri.”

Bagi Yagyū, sosok “pendekar pedang kelas satu” adalah cita-cita tertinggi. Lalu, apa arti ‘pendekar pedang kelas satu’ bagimu?

Apakah itu kekuasaan?
Apakah itu kekayaan?
Ataukah tujuan dan idealisme tertentu?
Atau melayani masyarakat dan mewujudkan kepedulian tertinggi terhadap sesama?

Atau… sesuatu yang lain?

Apakah kamu benar-benar tahu apa yang sedang kamu kejar dalam hidup ini?

Mungkin, sekaranglah waktunya menyisakan satu mata untuk melihat diri sendiri.

Hikmah Cerita

Tokoh Yagyū Matajūrō dalam cerita ini—terus terang—redaksi Erabaru tidak dapat memastikan apakah benar-benar ada sosok dengan nama tersebut dalam sejarah Jepang. Namun, terlepas dari apakah tokohnya nyata atau tidak, dan apakah kisah ini benar-benar terjadi atau tidak, hakikat cerita ini tetap memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang tujuan hidup dan makna kehidupan.

Ungkapan “sisakan satu mata untuk melihat diri sendiri”, sebagaimana pertanyaan penulis di akhir cerita—apakah itu kekuasaan, uang, tujuan, idealisme, atau pelayanan kepada masyarakat—mengajak kita melihat sisi lain dari kehidupan.

Maknanya juga mengingatkan kita agar:

Dalam pandangan Erabaru, sosok “pendekar pedang kelas satu” bukan hanya satu hal, melainkan perpaduan dari:

Keempat hal tersebut bisa berjalan berdampingan.

Lalu, sahabat pembaca, bagaimana dengan Anda? Menurut Anda, tujuan hidup seperti apa yang pantas disebut sebagai “pendekar pedang kelas satu” dalam hati Anda sendiri?(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Maruarar Temui Prabowo di Hambalang, Lapor soal Pembangunan 141.000 Rumah Subsidi
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Makassar Tak Lanjutkan PSEL Tanpa Jaminan Lingkungan
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Menaker Yassierli: Serikat Pekerja BUMN Harus Ikut Jaga Keberlanjutan Perusahaan
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
Video: Menperin: Tidak Ada Insentif Motor Listrik Tahun Ini
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Gus Yahya: Tak Ada Campur Tangan PBNU dalam Kasus Yaqut di Korupsi Haji
• 1 menit laludisway.id
Berhasil disimpan.