Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah memproses penunjukan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama menyusul pengunduran diri Iman Rachman dari jabatannya pada Jumat (30/1/2026).
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyampaikan bahwa saat ini otoritas bursa sedang berkoordinasi dengan regulator untuk mengisi kekosongan kursi kepemimpinan tersebut. Penunjukan ini sementara waktu harus melalui mekanisme perizinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Penunjukan pejabat sementara Dirut akan dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan dari OJK. Sedang dalam proses,” ujar Kautsar, Jumat (30/1/2026).
Iman Rachman, yang menjabat sebagai orang nomor satu di BEI sejak Juni 2022, memutuskan mundur tepat setelah IHSG dihantam badai aksi jual besar-besaran. Sentimen negatif tersebut dipicu oleh keputusan MSCI yang menangguhkan rebalancing saham asal Indonesia akibat isu transparansi struktur kepemilikan.
Meskipun kondisi pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pada sesi perdagangan Jumat, Iman memilih untuk tetap meletakkan jabatannya.
Dia berharap keputusannya itu dapat menjaga kredibilitas institusi dan memulihkan kepercayaan investor terhadap integritas pasar modal Indonesia.
Baca Juga
- Arahan Prabowo soal IHSG: Demutualisasi BEI Akan Dipercepat
- Ini Respons Pelaku Pasar Usai Dirut BEI Iman Rachman Undur Diri
- Setumpuk PR Dirut Baru BEI, IPO 2026 hingga Genjot Saham RI di MSCI
"Sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, saya menyatakan mengundurkan diri dari Dirut BEI. Saya berharap ini yang terbaik bagi pasar modal,” pungkas Iman.
Pengunduran diri ini mengakhiri masa jabatan Iman yang sebelumnya dikenal memiliki karier panjang di pasar modal dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Sebelum menakhodai BEI, dia sempat menduduki posisi strategis di Mandiri Sekuritas, PT Pelindo II dan III, PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), hingga menjabat Direktur Strategi di PT Pertamina (Persero).
Sementara itu, keputusan pengunduran diri ini ditanggapi dengan perspektif berbeda oleh para analis. Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, memperingatkan adanya potensi volatilitas tinggi dalam jangka pendek sebagai reaksi atas kekosongan kepemimpinan definitif di bursa.
“Kami melihat ini sebagai respons lanjutan dari volatilitas beberapa hari ini. Meredanya tekanan hanya dapat diantisipasi oleh respons cepat dari BEI dan SRO [Self-Regulatory Organization] dalam menanggapi hal ini," tutur Rully.
Sebaliknya, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, melihat perubahan manajemen ini sebagai sinyal positif. Dia menyamakan budaya tanggung jawab ini dengan standar negara maju seperti Jepang.
"Perubahan manajemen bisa dipandang market sebagai sentimen positif karena ada harapan kinerja yang lebih baik. Kami berharap manajemen baru nanti melakukan penyaringan emiten (listing) secara lebih prudent," kata Liza.
Kini, pasar menanti keputusan OJK terkait siapa sosok Plt Dirut BEI yang akan memimpin upaya pembenahan sistem pelaporan dan transparansi sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan MSCI hingga Mei 2026.
________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




