Oleh: Irawan Santoso Shiddiq, Mudir JATMAN Jakarta
- Rumah Mantan Menteri Digeledah, Jampidsus: Terkait Kasus Korupsi di Kemenhut
- Jelang Ramadhan–Lebaran, Pemerintah Jaga Harga Beras dan Ongkos Mudik
- Haedar Nashir Nilai Wacana Polri di Bawah Kementerian tak Relevan dengan Semangat Reformasi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yerusalem. Ini kota simbol penguasa dunia. Siapa pun menguasai Yerusalem, dialah penguasa dunia. Bangsa Yahudi baru berhasil merebut Yerusalem dari tangan Islam, pasca dibubarkannya Daulah Utsmaniyyah.
Siapa dan apa Daulah Utsmaniyyah? Mereka bukanlah dikendalikan paham Mu’tazilah. Bukan pula oleh kaum mutakallimun. Mereka dikoordinir kaum sufi. Sejak era awal berdiri, Ertugrul Ghazi, ayah Usman Ghazi, pendiri awal Kesultanan Utsmaniyyah, ditarbiyah Syekh al-Akbar Muhyidin Ibnu al-Arabi. Ulama besar itu hijrah dari negerinya, Andalusia. Berjumpa dengan bangsa Turki, anak turunan Jenghis Khan, yang telah memeluk Islam.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Keruntuhan Andalusia, yang jadi sentral Mu’tazilah saat itu, membuat lemah secara militer. Dengan mudah kaum Nasrani yang kerap gagal dalam Perang Salib, menyerbu Cordoba dan Alhambra, 1492. Ujungnya muslimin di sana dibantai. Buah keasyikan pada sains, yang membuat Islam melemah.
Sementara di timur, Utsmaniyyah telah menjejak menjadi ‘imperium tangguh.’ Mereka menjalankan Islam wa Sunnah. Syariat wal hakekat tak dipisah. Tasawuf menjadi karakteristik Utsmaniyyah. Sultan Al-Fatih, 1453, menaklukkan Konstantinopel, berikut dengan iringan Hadrah, dzikir sufi yang khas didengungkan saban malam di depan pengepungan tembok Konstantinopel. Bagi orang Romawi, dzikir Hadrah itu serasa menakutkan. Roger Crowley, sejarawan Inggris menuliskannya, “Orang Islam kalau siang berperang seperti singa, kalau malam mereka menari-nari seperti orang gila,” katanya. Dia tak paham apa yang disebut ‘menari-nari seperti orang gila.’ Itulah dzikir Hadrah, yang jadi senjata utama kaum muslimin sejak dulu. Sepanjang pengepungan, mereka tak bosan. Karena berkumpulnya para sufi, itulah kenikmatan, seperti kata Maulana Sidi Abu Madyan. Mursyid Sultan Fatih adalah Syekh Aaq Syamsudin. Thariqah Qadiriyyah Bayramiyyah.
Nuansa thariqah tak lepas dari kejayaan Utsmaniyyah. Pasukan elit Janissary yang perkasa, ini dididik dalam thariqah Bektasiyyah. Belakangan ini dicap sebagai pengikut Syi’ah. Padahal bukan. Hingga Sultan Abdul Hamid II, penjaga gawang terakhir Utsmaniyyah, kerap berdzikir Hadrah saban malam Jumat. Sebuah Zawiyah di wilayah Uskudar, Turki, menjadi ajang dzikir Sang Sultan.
Dia Hadrah di lantai dua ‘tekke’ (Zawiyah-red) itu. Beliau dibimbing Syekh Ahmad Neyaeddin, Mursyid thariqah Naqsyabandiyyah. Praktis, selama Utsmaniyyah menjejak, sufisme menjadi bagian di dalamnya. Karena inilah amalan Islam sejak era Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kebesaran Utsmaniyyah, itulah yang dilirik bangsa Barat. Karena Yerusalem berada di kekuasaan Utsmaniyyah. Kawasan Eropa timur, sampai mendekati Italia, masuk dalam jangkauan kekuasaan Ottoman. Kebesaran Sultan Fatih, telah berabad-abad menjadi ‘hantu menakutkan’ di Roma. Karena besarnya kekuatan Islam, dijalankan bangsa Ottoman di abad pertengahan. Jazirah Arabia, tak ketinggalan.
Ini di bawah kekuasaan Khalifah Utsmaniyyah. Sultan Sulaiman, meletakkan kodifikasi qanun yang digunakan dalam Islam. Dia dikenal dengan ‘Sultan Qanuni.’ Tapi kini banyak yang terjebak. ‘Qanun’ adalah aturan di bawah syariat. Qanun, bukanlah sumber hukum utama. Karena Qanun, merujuk pada Al-Quran dan Sunnah. Berbeda dengan positivisme. Qanun tak serupa dengan UU dalam hukum positif. Melainkan semacam juklak dari syariat.


