EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Setelah Iran secara resmi menolak kesepakatan yang diajukan Amerika Serikat pada 28 Januari, ketegangan regional langsung melonjak tajam pada 29 Januari 2026, ditandai dengan rangkaian manuver militer, ancaman terbuka, serta keterlibatan langsung kekuatan besar dunia.
AS Pertimbangkan Serangan Baru ke Iran
Menurut laporan CNN, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini tengah mempertimbangkan opsi serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Opsi tersebut disebut mencakup serangan langsung terhadap infrastruktur strategis rezim Iran, termasuk fasilitas militer dan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Pada 29 Januari, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth secara terbuka menyatakan bahwa Washington akan memastikan seluruh opsi tetap terbuka dalam menghadapi Iran.
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Militer Amerika Serikat siap melaksanakan keputusan apa pun yang diambil Presiden Trump,” tegas Hegseth.
Pernyataan ini dipandang sebagai sinyal resmi bahwa AS tidak lagi membatasi diri pada jalur diplomasi semata.
Iran, Rusia, dan Tiongkok Gelar Latihan Militer Gabungan
Sebagai respons atas tekanan Amerika, Iran pada 29 Januari mengumumkan latihan militer di Selat Hormuz, termasuk latihan tembak langsung, yang dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu atau awal pekan depan.
Secara bersamaan, Rusia dan Tiongkok (PKT) mengumumkan akan bergabung dengan Iran dalam latihan militer gabungan di Teluk Oman dan Samudra Hindia.
Langkah ini dinilai sebagai unjuk kekuatan terbuka yang ditujukan langsung kepada Amerika Serikat dan Israel, serta memperlihatkan poros militer Iran–Rusia–Tiongkok yang semakin solid.
Sinyal Persiapan Serangan: Rusia Siap Evakuasi PLTN Iran
Indikasi meningkatnya risiko perang semakin jelas setelah Rusia menyatakan kesiapan mengevakuasi seluruh stafnya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr, satu-satunya fasilitas nuklir Iran yang masih aktif.
Langkah ini dipandang oleh banyak analis sebagai indikasi kuat bahwa Moskow memperkirakan kemungkinan serangan militer AS dalam waktu dekat.
Sementara itu, Reuters melaporkan bahwa Presiden Trump mengklaim telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dan bahwa Rusia menyetujui gencatan senjata sementara selama satu minggu di Ukraina akibat gelombang dingin ekstrem.
Namun, keabsahan alasan kemanusiaan ini diragukan. Dalam dua pekan terakhir, Rusia justru menggempur infrastruktur energi Ukraina, menyebabkan warga sipil menghadapi suhu hingga minus 20 derajat Celsius tanpa pemanas. Banyak pihak menilai gencatan senjata tersebut lebih terkait dengan persiapan konflik besar di Timur Tengah.
Spekulasi Waktu Serangan: Jumat, 30 Januari?
Beredar spekulasi luas bahwa serangan AS dapat dimulai pada Jumat, 30 Januari, bertepatan dengan penutupan pasar saham New York.
Salah satu faktor yang disebut memperlambat aksi militer AS sebelumnya adalah pengawasan ketat dari satelit dan intelijen militer Tiongkok, yang memaksa Washington meningkatkan skala pengerahan militernya demi menjamin keberhasilan operasi.
AS menilai Beijing masih memiliki kemampuan melakukan serangan mendadak, sementara kerja sama militer PKT–Iran diperkirakan akan semakin dalam jika konflik pecah.
Diplomasi Darurat: Saudi dan Israel ke Washington
Pada 29 Januari, Menteri Pertahanan Arab Saudi dan Kepala Intelijen Israel dilaporkan bersama-sama mengunjungi Amerika Serikat untuk membahas langkah menghadapi Iran.
- Israel menyerahkan daftar target potensial di wilayah Iran
- Arab Saudi mendorong solusi diplomatik guna mencegah pecahnya perang regional yang lebih luas
Kunjungan ini menunjukkan perbedaan pendekatan di antara sekutu AS, meskipun sama-sama memandang Iran sebagai ancaman utama.
Langkah Trump dan Tekanan Maksimal
Menurut Wall Street Journal, Presiden Trump telah menerima laporan rinci mengenai rencana serangan besar terhadap Iran, termasuk opsi pengeboman luas terhadap infrastruktur rezim dan IRGC.
Trump juga kembali menyematkan unggahan ancaman terhadap Iran di Truth Social, menandakan eskalasi tekanan politik dan psikologis.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengambil langkah drastis dengan mencabut visa seluruh pejabat Iran dan keluarga mereka di AS, termasuk anak-anak pejabat yang tengah menempuh pendidikan. Langkah ini secara efektif membuka jalan bagi deportasi massal.
Pergerakan Pasukan AS: Eskalasi Nyata di Lapangan
Dalam 12 jam terakhir, Amerika Serikat meningkatkan pengerahan militernya secara signifikan:
- Jet tempur F-35 dipindahkan dari Puerto Riko ke Pangkalan Udara Morón, Spanyol
- Enam pesawat perang elektronik EA-18G Growler dikerahkan untuk melumpuhkan radar dan pertahanan udara
- Pesawat khusus pasukan elite AS diterbangkan ke Azerbaijan, memicu spekulasi operasi rahasia atau “decapitation strike” terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei
AS kini menempatkan:
- 8 kapal perusak
- 1 kapal induk aktif
- Total 756 sistem peluncur vertikal
- Ditambah bergabungnya gugus tempur USS George H.W. Bush
Respons Iran dan Sinyal Perang dari Eropa
Di sisi lain, Iran dilaporkan telah mengerahkan 1.000 drone siluman dan mulai menerima sebagian dari rencana pembelian 48 jet tempur Su-35 dari Rusia.
Sementara itu, pada 28 Januari, 27 negara Uni Eropa sepakat menetapkan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris, sebuah keputusan bersejarah yang berarti militer resmi Iran diperlakukan sebagai entitas ilegal di Eropa.
Pada 29 Januari, Kedutaan Besar Jerman di Teheran secara resmi menyerukan warganya segera meninggalkan Iran.
Di hari yang sama, sebuah pesawat pemerintah Iran terdeteksi terbang ke Moskow, diduga membawa Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani—sebuah pola yang dalam sejarah sering muncul menjelang perang atau kudeta besar.
Menanti Titik Ledak
Dengan ancaman perang kini secara terbuka disematkan oleh Presiden Trump di situs resminya, dunia internasional berada dalam posisi menahan napas.
Pertanyaan krusial kini bukan lagi apakah konflik akan pecah, melainkan kapan:
Pekan ini, atau awal pekan depan?
Situasi berkembang dari jam ke jam, dan Timur Tengah tampaknya tengah berdiri di ambang konfrontasi terbesar dalam satu generasi. (Hui)




