Polytron menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain kunci di industri motor listrik nasional sepanjang 2025. Di tengah kondisi pasar yang justru mengalami penurunan, merek elektronik asal Indonesia tersebut mengklaim tetap menjadi motor listrik paling laris di Tanah Air.
Klaim tersebut didasarkan pada data penjualan motor listrik nasional yang dirilis Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli). Dari data itu, Polytron menilai posisinya masih berada di peringkat teratas secara pangsa pasar.
Meski demikian, manajemen Polytron memilih bersikap hati-hati dalam menyampaikan klaim dominasi pasar tersebut ke publik. Perusahaan menilai, penyampaian klaim sebaiknya datang dari pihak independen atau asosiasi, bukan dari internal perusahaan.
“Kalau saya yang ngomong nanti lucu dong, karena kita bukan perusahaan terbuka. Tapi kalau ada yang lain, ya kita terima,” ujar Commercial Director Polytron, Tekno Wibowo, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Polytron menyebut perhitungan pangsa pasar mereka mengacu pada total angka penjualan motor listrik nasional sepanjang 2025. Dari angka agregat tersebut, Polytron kemudian melakukan evaluasi internal untuk melihat kontribusi penjualan produknya di pasar.
“Sebenarnya Aismoli itu merilis angka. Totalnya sudah disebutkan oleh asosiasi. Dari angka itu kita bercermin. Kurang lebih, kita itu sekitar 60 persen dari total angka yang dirilis Aismoli,” kata Head of Group Product Electric Vehicle 2W Polytron, Ilman Fachrian Fadly.
Di sisi lain, kondisi pasar motor listrik nasional sepanjang 2025 memang tercatat melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi setelah lonjakan besar pada periode awal pemberian subsidi pemerintah.
Ketua Umum Aismoli, Budi Setiyadi, menjelaskan bahwa penjualan motor listrik sepanjang 2025 berada di kisaran 55 ribu unit. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2024 yang sempat menyentuh lebih dari 77 ribu unit.
“Intinya penjualan selama tahun 2025 dengan kemampuan yang cukup kemarin itu ada di sekitar 55 ribu unit. Jadi dibandingkan dengan tahun 2024 itu (ada selisih) 20 ribuan unit,” ujar Budi saat dihubungi kumparan baru-baru ini.
Berdasarkan data yang diterima kumparan penyaluran motor listrik sepanjang 2025 mencapai 55.059 unit hingga 9 Desember. Jumlah tersebut turun sekitar 28,5 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencatatkan angka 77.078 unit.
Meski mengalami penurunan pada 2025, tren jangka panjang penyerapan motor listrik di Indonesia sejatinya terus menunjukkan pertumbuhan. Dalam lima tahun terakhir, populasi dan penjualan motor listrik meningkat signifikan, terutama sejak program subsidi Rp 7 juta mulai diberlakukan pada 2023.
Kondisi tersebut membuat Polytron tetap optimistis terhadap prospek motor listrik nasional ke depan. Dengan pangsa pasar yang diklaim masih dominan, Polytron menilai pasar motor listrik Indonesia masih memiliki ruang besar untuk tumbuh seiring konsistensi kebijakan dan peningkatan kepercayaan konsumen.





