Liputan6.com, Jakarta - Hujan yang mengguyur Jakarta sepanjang hari kembali menghidupkan ingatan lama bagi warga Kebon Pala, Jakarta Timur. Air datang perlahan, lalu naik tanpa kompromi, menggenangi rumah-rumah yang sejak puluhan tahun berdiri di bantaran kali.
Bagi sebagian warga, banjir bukan lagi peristiwa luar biasa, melainkan siklus yang terus berulang, datang, merendam, menyisakan lumpur, lalu pergi tanpa benar-benar pamit.
Advertisement
Saat tim Liputan6.com menyambangi lokasi pada Sabtu (24/1/2026), banjir memang berangsur surut, namun genangan masih bertahan di kisaran 130 sentimeter, menyisakan lumpur tebal di sepanjang gang permukiman.
Di tengah kondisi itu, Ahmad Syaifullah, 20 tahun, masih bertahan di rumah yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.
“Tinggal di sini udah 20 tahun, dari kecil sih,” ujarnya singkat, dengan nada datar yang menyimpan kelelahan panjang.
Kebon Pala menjadi salah satu wilayah yang kembali terdampak banjir akibat hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Permukiman warga di Kebon Pala kembali terendam banjir pada Jumat (30/1/2026) pagi. Kali meluap lebih tinggi, dengan ketinggian air mencapai dua meter.
Air kali meluap, saluran tak lagi mampu menampung debit, dan warga harus bersiap menghadapi situasi terburuk, terjebak di rumah sendiri. Di kawasan ini, banjir bukan hanya soal air, melainkan juga soal pilihan hidup, antara bertahan di tanah penuh kenangan atau meninggalkannya demi keselamatan.


