- IDAI mengimbau orang tua waspada penyakit anak saat musim hujan panjang dengan fokus pada PHBS dan kelengkapan imunisasi.
- Prof. Anggraini Alam menyatakan jadwal imunisasi rutin Indonesia sudah memadai, namun cakupan imunisasi yang rendah memicu wabah berulang.
- Musim hujan memicu peningkatan kasus campak hingga lima kali lipat, memerlukan cakupan imunisasi di atas 95% untuk menekan penyebaran.
Suara.com - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan seiring fenomena musim hujan di Indonesia yang terasa semakin panjang.
Selain melengkapi imunisasi, penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi kunci utama dalam mencegah lonjakan penyakit infeksi pada anak.
Dalam media briefing daring bertajuk “Mewaspadai Penyakit Anak di Musim Hujan dan Banjir” yang digelar pada Jumat (30/1/2026), wartawan Suara.com menanyakan perihal urgensi imunisasi tambahan atau booster untuk anak-anak di musim hujan.
Menjawab hal tersebut, Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp. IPT(K), menegaskan bahwa jadwal imunisasi rutin yang ada saat ini sebenarnya sudah sangat memadai.
"Indonesia itu memiliki jadwal imunisasi yang sangat-sangat baik. Jadi imunisasi kita itu sudah lengkap. Keburukannya, nah ini mau minta tolong teman-teman ini. Keburukannya justru adalah cakupannya yang kurang," ujar Prof. Anggraini.
Ia menekankan bahwa masyarakat sering kali abai dalam melengkapi imunisasi dasar, padahal dampaknya dapat memicu wabah yang berulang.
"Jadi masalahnya bukan karena jadwalnya enggak ada, begitulah. Tetapi karena kurang untuk melakukan imunisasinya. Jadi tidak bisa tidak mohon agar teman-teman media mengingatkan masyarakat lengkapi imunisasinya," tambahnya.
Prof. Anggraini Alam mencontohkan peningkatan signifikan kasus campak saat musim hujan. Ia menyebut lonjakan kasus dapat mencapai hampir lima kali lipat dibandingkan periode normal.
Tingginya tingkat penularan campak, di mana satu penderita dapat menularkan penyakit tersebut hingga ke belasan orang lain, membuat cakupan imunisasi di atas 95 persen menjadi keharusan untuk menekan penyebaran.
Baca Juga: Ditinjau Wamenkes, 1.300 Karyawan MPS Bantul Jalani Pemeriksaan Kesehatan Gratis & Skrining TB
Sebagai penutup, Prof. Anggraini Alam menegaskan bahwa kondisi lingkungan pada musim hujan sangat kondusif bagi berkembangnya kuman penyebab penyakit.
Ia menilai musim hujan di Indonesia yang kini cenderung berlangsung lebih panjang turut meningkatkan populasi mikroorganisme dan risiko terjadinya penyakit infeksi.
Selain itu, kebiasaan masyarakat yang lebih sering beraktivitas di dalam ruangan saat hujan juga memperbesar peluang penularan penyakit antarindividu.
Untuk memutus rantai penularan, Prof. Anggraini mendorong orang tua menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana, mulai dari membiasakan pola hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi, hingga melengkapi imunisasi anak sesuai anjuran.
Lebih lanjut, ia juga memberikan imbauan tegas agar anak-anak yang mulai menunjukkan gejala sakit tidak beraktivitas di luar rumah untuk sementara waktu.
"Bila mana sakit, tolong jaga agar tidak usah masuk anak-anak ini ke sekolah atau ke tempat penitipan anak, karena kita menghindari anak kita yang sedang sakit menularkan ke yang baik. Lagi-lagi PHBS, kemudian lengkapi imunisasi anak-anak itu sangat baik untuk mencegah penyakit di musim hujan," pungkas Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Padjadjaran tersebut.


