HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Bursa transfer putaran kedua BRI Super League 2025/2026 menjadi momen koreksi paling keras bagi PSM Makassar. Kedatangan Dusan Lagator bukan sekadar tambahan amunisi, melainkan pernyataan tegas bahwa lini belakang Juku Eja telah gagal menjalankan fungsinya.
PSM Makassar dipastikan mencapai kesepakatan dengan Dusan Lagator, bek tengah asal Montenegro. Dengan nilai pasar Rp7,82 miliar versi Transfermarkt, Lagator langsung menyandang status pemain termahal PSM Makassar, melampaui kapten tim Yuran Fernandes yang berada di angka Rp6,95 miliar.
Tanpa perlu memainkan satu pertandingan pun, posisi Yuran tergeser—bukan hanya secara nilai, tetapi juga secara simbolik.
Bek berusia 30 tahun dengan tinggi badan 190 sentimeter itu diproyeksikan sebagai jawaban darurat atas krisis akut di jantung pertahanan Pasukan Ramang, sektor yang terus menjadi sumber petaka sepanjang paruh pertama musim.
Setelah Cumic, Alarm Keras di Lini Belakang
Sebelumnya, PSM telah memperkenalkan Luka Cumic, striker asal Serbia berusia 24 tahun, yang resmi terdaftar di laman I.League sejak Minggu (25/1/2026). Cumic akan mengenakan jersey nomor 99—simbol harapan baru di lini depan.
Namun perekrutan Cumic ternyata belum dianggap cukup. Manajemen bergerak lebih jauh. Fokus bergeser ke sektor yang paling rapuh dan paling sering melakukan kesalahan: pertahanan.
Nilai pasar Cumic berada di angka Rp6,08 miliar, sempat menjadikannya pemain termahal PSM. Tapi status itu hanya bertahan singkat. Dengan munculnya nama Lagator, peta kekuatan dan hierarki skuad berubah total.
Lagator Datang, Teguran Terbuka untuk Yuran Fernandes
Nama Dusan Lagator mencuat kuat dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah sumber menyebutkan, kesepakatan telah tercapai dan pengumuman resmi hanya menunggu waktu.
Lagator didatangkan dari kompetisi Liga India bukan untuk menjadi pelapis. Ia diproyeksikan langsung mengisi pos bek tengah utama, peran yang selama ini justru dipenuhi oleh kesalahan berulang.
Dalam lima kekalahan beruntun PSM, blunder di lini belakang nyaris selalu hadir, dan sorotan paling tajam mengarah pada Yuran Fernandes. Sebagai kapten tim, Yuran justru kerap gagal membaca situasi, terlambat mengambil keputusan, dan kehilangan kontrol di momen krusial.
Dalam sepak bola modern, kesalahan bek tengah adalah dosa fatal. Ketika kesalahan itu datang dari seorang kapten, maka ia tak lagi bisa ditoleransi.
Kehadiran Lagator menjadi sinyal paling jelas bahwa status, ban kapten, dan jasa masa lalu tidak lagi menjadi tameng.
Penanda Arah Baru PSM
Bursa transfer kali ini memperlihatkan perubahan sikap PSM Makassar. Setelah memperbaiki lini depan, kini manajemen menyentuh titik paling sensitif: jantung pertahanan.
Dusan Lagator, dengan nilai pasar Rp7,82 miliar, bukan sekadar rekrutan asing. Ia adalah penanda arah baru—bahwa PSM memilih bertindak, bukan terus bertahan dengan kesalahan yang sama.
Jika Lagator resmi diperkenalkan, maka ia bukan hanya menggeser Yuran Fernandes dalam daftar pemain termahal, tetapi juga mengancam langsung posisi, peran, dan legitimasi sang kapten di starting XI.
Di titik ini, satu pesan menjadi jelas:
PSM Makassar tidak sedang membangun kenyamanan—mereka sedang memaksa perubahan.





