The Fed Tahan Suku Bunga, Bitcoin Kembali Terkoreksi

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah ke bawah level 90 ribu dolar AS menyusul keputusan Federal Reserve (The Fed) yang menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Januari 2026. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, namun tetap menekan aset berisiko, termasuk kripto.

Berdasarkan data pasar global, harga Bitcoin sempat kembali melebihi 90 ribu dolar AS pada perdagangan Selasa (28/1/2026). Penguatan itu didorong pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan tidak mengkhawatirkan pelemahan dolar AS. Meski demikian, kehati-hatian investor institusional masih terlihat dari arus keluar dana pada produk spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat sebesar 147,37 juta dolar AS.

Baca Juga
  • Bitcoin Terkoreksi, Pasar Cermati Dinamika Global

Vice President Indodax Antony Kusuma menilai pergerakan harga Bitcoin mencerminkan respons pasar terhadap kebijakan moneter yang telah diantisipasi sebelumnya. “Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya sudah tercermin dalam ekspektasi pasar. Namun kebijakan tersebut belum memberikan katalis baru bagi pergerakan harga,” ujar Antony dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).

Menurut Antony, volatilitas jangka pendek pascapengumuman kebijakan moneter merupakan pola yang lazim terjadi di pasar kripto. “Peristiwa seperti FOMC sering menjadi momen evaluasi bagi investor. Pergerakan harga mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi yang telah dikonfirmasi secara resmi,” katanya.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Di sisi lain, sentimen positif muncul dari perkembangan adopsi institusional. Negara bagian South Dakota di Amerika Serikat mengajukan rancangan undang-undang pembentukan cadangan Bitcoin yang bersumber dari pendapatan pemerintah negara bagian. Melalui kebijakan tersebut, South Dakota berpotensi mengalokasikan hingga 10 persen dari total dana kelolaan ke Bitcoin sebagai bagian dari strategi cadangan aset.

Antony menilai langkah tersebut mencerminkan penguatan fundamental Bitcoin di luar dinamika harga jangka pendek. “Adopsi Bitcoin di tingkat pemerintah dan institusi menunjukkan bahwa fundamental Bitcoin terus berkembang, terlepas dari fluktuasi harga harian,” ujarnya.

Ia menambahkan, tekanan geopolitik dan kebijakan moneter global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar kripto, sehingga pelaku pasar cenderung lebih selektif dalam mengambil keputusan. Antony juga mengingatkan pentingnya manajemen risiko di tengah volatilitas.

“Investor perlu menjaga disiplin dan memahami konteks risiko sebelum mengambil keputusan. Pendekatan bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dapat menjadi salah satu strategi untuk meredam risiko fluktuasi harga. Pelaku pasar juga perlu aktif mengikuti perkembangan informasi dan edukasi pasar,” kata Antony.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
GENTLY Baby Hadirkan Multipurpose Balm, Solusi Semua Masalah Kulit pada Anak
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Komisi II DPR Nilai Parliamentary Threshold Diperlukan untuk Wujudkan Partai Politik yang Sehat
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Aksi bersih Teluk Palu kumpulkan 100 ton sampah
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Ragam Tradisi Perayaan Tahun Baru Imlek 2026, Lengkap dengan Sejarah dan Maknanya
• 14 jam lalugrid.id
thumb
Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 3,12 Juta/Gram, Galeri24 Rp 3,26 Juta/Gram
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.