3 Pejabat OJK Lengser Usai Gejolak IHSG, Respons Pasar Tergantung Penggantinya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Setelah pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, tiga pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan ikut mundur usai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami gejolak pada dua hari berturut-turut.

Keputusan itu diambil oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon (KE PMDK) Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (DKTK) Aditya Jayantara.

IHSG anjlok dan mengalami dua kali trading halt pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) usai Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara rebalancing indeks di pasar saham Indonesia, hingga otoritas terkait menjamin mekanisme free float.

Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, mengatakan pengunduran diri tersebut dapat menjadi peristiwa institusional yang sangat signifikan bagi pasar modal Indonesia.

Pasalnya, ketiga posisi tersebut berada di jantung arsitektur pengawasan pasar, mulai dari perumusan kebijakan strategis, pengawasan perdagangan dan emiten, hingga implementasi reformasi struktural yang selama ini menjadi sorotan investor global, khususnya terkait transparansi, kepemilikan saham, free float, dan tata kelola.

"Mundurnya para pejabat kunci ini di tengah tekanan tajam IHSG tidak dapat dilepaskan dari konteks menurunnya kepercayaan pasar, terutama setelah meningkatnya perhatian MSCI terhadap kualitas dan kredibilitas pasar modal Indonesia," ungkap Hendra dalam keterangannya, Jumat (30/1).

Pengunduran diri ini, kata dia, dapat dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab moral dan upaya menjaga kredibilitas OJK di tengah meningkatnya kritik terhadap efektivitas pengawasan dan kecepatan reformasi pasar modal.

Namun dari perspektif pasar, menurutnya langkah tersebut justru menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar isu teknis jangka pendek, melainkan akumulasi masalah struktural yang selama ini tertunda penyelesaiannya.

"Ketidakpastian mengenai kesinambungan kebijakan dan arah kepemimpinan selanjutnya menjadi faktor yang membuat investor cenderung menahan diri dan menunggu kejelasan lebih lanjut," jelas Hendra.

Dalam jangka pendek, Hendra menyebutkan dinamika tersebut tercermin jelas pada pergerakan IHSG yang bergerak dalam rentang volatilitas yang lebar, yakni di kisaran 8.210 hingga 8.550. Rentang yang luas ini mencerminkan tarik-menarik kuat antara sentimen negatif akibat ketidakpastian institusional dan upaya bargain hunting pada saham-saham berfundamental kuat.

Pola pergerakan tersebut mengindikasikan bahwa pasar belum memiliki keyakinan arah yang solid, sehingga setiap katalis negatif mudah memicu tekanan jual, sementara sentimen positif hanya mampu mendorong penguatan terbatas dan bersifat teknikal.

Namun dalam jangka menengah hingga panjang, Hendra menilai peristiwa ini berpotensi menjadi momentum penting untuk mempercepat pembenahan pasar modal Indonesia, asal diikuti dengan langkah konkret dan konsisten, seperti reformasi free float, penegakan exit policy, transparansi kepemilikan saham, serta penguatan tata kelola.

"Pada akhirnya, pasar akan menilai bukan pada siapa yang mundur, melainkan pada apa yang dilakukan setelahnya. Kecepatan penunjukan pengganti, kejelasan arah kebijakan, serta bukti nyata penegakan aturan akan menjadi penentu," tegas Hendra.

Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, juga menilai gejolak yang terjadi di pasar modal domestik merupakan implikasi dari keterlambatan respons terhadap peringatan MSCI, bahkan dari tahun-tahun sebelumnya.

"Mundurnya pejabat OJK itu sebagai implikasi saja, ya, memang, dengan kondisi tersebut mereka harus bertanggung jawab secara gentle. Jadi itu langkahnya memang patut kita hormati," ujarnya.

Myrdal yakin masih banyak figur yang berkompeten mengisi 3 jabatan strategis di OJK dan dapat memberikan perbaikan serta langkah konkret terkait kekhawatiran investor global seperti MSCI terhadap kualitas pasar saham dan keuangan Indonesia.

"Selama pemerintah langsung mengambil alih terkait dengan perkembangan ini, misalkan mereka menunjuk pengganti yang dirasa oleh pelaku pasar itu sebagai tokoh yang tepat, right man in the right place, saya rasa, sih, harusnya market kita tidak masalah," ungkapnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nasib Chiki Fawzi Jadi Korban PHP: Dipulangkan, Dipanggil Lagi, Kini Beneran Dibatalkan Jadi Petugas Haji
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
7 Hari Kematian Lula Lahfah, Makam Sang Selebgram Masih Dikunjungi Sahabat dan Banyak Bunga
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Mengenal UpScrolled, Medsos Buatan Teknolog Palestina yang Lagi Viral
• 16 jam lalubeautynesia.id
thumb
Resmi Gabung PSM Makassar! Melihat Peluang Dusan Lagator Tampil Lawan Semen Padang
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi Mundur, Ini Pernyataan OJK
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.