Masih ingat dengan kisah Ariendra Ralea Irgantari (9 tahun) siswi SD Negeri Gembongan, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo yang bersekolah dengan membawa adiknya karena sang ibu harus terapi di rumah sakit?
Jumat (30/1) kumparan berkesempatan bertemu dengan ibu Lea, Rubiyanti (36), di rumah kontrakannya di Klebakan, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.
Beberapa hari belakangan, Rubiyanti sibuk menerima tamu. Ada dari instansi pemerintah seperti dinas terkait, kepolisian, hingga anggota dewan perwakilan rakyat. Mereka menaruh perhatian atas nasib Rubiyanti dan anak-anaknya. Bantuan datang secara moral maupun materil.
Rumah kontrakan berwarna hijau ini adalah rumah kontrakan yang Rubiyanti sewa Rp 450 ribu per bulan. Sementara biaya listrik dan air sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per bulan.
Rubiyanti bercerita tentang perjuangannya melawan sakit kanker payudara dan membesarkan tiga anak yang diasuhnya di rumah ini.
"Bulan Mei. Mei 2025 (awal sakit)," kata Rubiyanti.
Rubiyanti menjalani operasi, lalu setelahnya kemoterapi rutin selama enam kali. Proses itu berhasil dilewati.
Belum berhenti sampai di situ, dia juga harus menjalani radioterapi sebanyak 30 kali. Per hari ini dia telah 22 kali menjalani radioterapi.
Radioterapi dijalani lima kali dalam seminggu yakni hari Senin sampai Jumat. Hal ini lah yang membuat Lea harus membawa adiknya Reyfan Elcaraka Fahturohman (4 tahun) ke sekolah.
Sementara anaknya yang satu lagi yang masih 2,5 tahun Rubiyanti bawa ke rumah sakit.
Sempat Ingin Menyerah
Saat baru menjalani enam kali radioterapi, Rubiyanti sempat ingin menyerah karena tak ada yang membantu mengasuh anak-anak.
Sementara, radioterapi hanya bisa dia jalani sendiri. Dia pun tak enak jika harus menitipkan dua anaknya sekaligus ke perawat.
"Aku rembukan sama Kakak, Kak Lea, "adik gimana enaknya?" Terus Kakak itu bilang, "Dibilangke sama Bu Kepala Sekolah saja, nanti ikut Lea". Saya izin bu guru, bu guru mengizinkan. Paginya tak suruh bawa (Lea bawa adiknya ke sekolah)," bebernya.
4 Jam Perjalanan ke Rumah Sakit
Pengobatan Rubiyanti dijalaninya di Rumah Sakit Hardjolukito di Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Rubiyanti tak memiliki kendaraan pribadi. Untuk menuju ke rumah sakit dia menggunakan bus. Total perjalanan pulang pergi empat jam.
"Saya cuma ngebus (naik bus) nggak ada armada gitu. Angkutan dari Gamping (Sleman) ke sini (Kulon Progo) itu maksimal jam ya jam 13.00 WIB sudah nggak ada. Makanya saya ngejar yang pagi (terapinya)," katanya.
Praktis, pengobatan ini menyita seharian waktu Rubiyanti. Dia dan anaknya kerap kelelahan karena perjalanan yang panjang.
"Iya capai. Habis di perjalanan," katanya.
Lelah yang dirasakan ini seperti tulangnya serasa dilepas. Badannya lemas. Apalagi dirinya kadang harus gendong sang anak.
"Ini (anak) kadang tidur harus gendong. Pernah jatuh di Trans Jogja. Saking lemasnya nggak ada tenaganya," katanya.
Sebenarnya Rubiyanti bisa mengendarai motor untuk berangkat berobat. Namun, dirinya tak punya.
Sehari-hari, Rubiyanti kerja serabutan. Kadang dia bekerja membungkus wedang uwuh. Namun, karena harus menjalani radioterapi ini dia memutuskan berhenti sementara.
"Ini berhenti dulu," katanya.
Wujudkan Cita-cita Lea Jadi Dokter
Rubiyanti bersyukur banyak pihak yang ternyata perhatian kepada dia dan anaknya. Suntikan motivasi juga jadi penguatnya.
"Banyak bantuan. Aku juga kaget. Malamnya sedih banget nangis terharu atau bagaimana juga nggak tahu. Ya Allah anakku niatnya juga cuma nitipin (di sekolah) nggak nyangka nggak ngira seperti ini (perhatiannya)," katanya.
Kini harapan Rubiyanti adalah bisa segera sembuh. Dia ingin bisa kembali bekerja. Merawat anaknya dan membesarkannya. Termasuk mewujudkan cita-cita Lea menjadi dokter.
"Pokoknya pengin sembuh. Pengin sembuh. Kasihan anak-anak masih kecil," katanya.
"Semoga cita-citanya Lea (menjadi dokter) bisa tercapai. Anaknya itu nggak pernah marah, nurut sekali sama saya. Saya sering sedih lihatnya, sekolah jauh naik sepeda," katanya.
Di hari itu salah satu tokoh yang hadir adalah Anggota DPR RI My Esti Wijayati. Dia memberikan motivasi pada Rubiyanti agar semangat sembuh. My Esti juga merupakan penyintas kanker.
"Saya mencoba membagikan pengalaman karena sama-sama penderita kanker. Beliau ini baru stadium 2, saya dulu vonis pertamanya stadium 3 mendekati 4. Ini memberi penguatan sekaligus kiat-kiat supaya lebih sehat dan melampaui proses pengobatan ini dengan baik," kata My Esti.




