JAKARTA, KOMPAS.TV - Mundurnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang disusul pengunduran diri Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dua pejabat tinggi OJK lainnya pada Jumat (30/1/2026), dinilai sebagai preseden serius dalam sejarah sektor keuangan Indonesia.
Penilaian tersebut disampaikan Direktur Eksekutif sekaligus pendiri Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira dalam wawancaranya di Breaking News KompasTV, menyusul rangkaian pengunduran diri pejabat pasar modal dan otoritas jasa keuangan di tengah gejolak pasar saham.
Bhima menilai, peristiwa tersebut belum pernah terjadi sejak OJK dibentuk, bahkan sejak era reformasi 1998.
Baca Juga: Dirut BEI Iman Rachman Mundur Usai Gejolak IHSG Dua Hari Terakhir
Menurut dia, mundurnya pejabat tinggi otoritas jasa keuangan secara bersamaan merupakan kabar yang sangat mengejutkan.
“Ini preseden yang tidak pernah ada dalam sejarah sektor keuangan. Baru pertama kali terjadi Ketua dari OJK, sejak OJK dibentuk bahkan atau bisa dikatakan sejak reformasi tahun 1998 ini belum pernah terjadi,” kata Bhima.
Ia menegaskan, gelombang pengunduran diri tersebut tidak bisa dilihat semata-mata sebagai dampak koreksi IHSG dan sorotan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Bhima menilai, terdapat persoalan yang lebih dalam terkait tata kelola dan independensi otoritas di sektor keuangan.
Menurutnya, ada indikasi intervensi terhadap independensi otoritas moneter dan keuangan, termasuk terhadap Bank Indonesia dan OJK.
Ia menilai, berbagai kebijakan dan dinamika kelembagaan dalam beberapa waktu terakhir berpotensi menekan ruang independensi lembaga-lembaga tersebut.
Selain itu, Bhima juga menyinggung perubahan regulasi di pasar modal, khususnya terkait aturan penempatan dana asuransi pada saham.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- pejabat OJK mundur
- pejabat BEI mundur
- IHSG anjlok
- Bhima Yudhistira
- CELIOS
- Ketua OJK





