JAKARTA, KOMPAS.TV - Direktur Eksekutif sekaligus pendiri Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira mengungkapkan, gejolak di sektor keuangan berpotensi berdampak langsung terhadap masyarakat.
Mulai dari kredit yang lebih mahal, hingga kenaikan harga barang menjelang Ramadan dan Lebaran.
Bhima menjelaskan, meningkatnya persepsi risiko di sektor keuangan membuat perbankan cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, baik kepada pelaku usaha maupun masyarakat.
“Secara langsung, yang mau bikin usaha dan minjam kredit, persepsi risikonya jadi naik. Suku bunganya jadi lebih mahal. Kemudian approval waktu untuk mendapatkan kucuran kredit itu jadi lebih lama. Banknya akan lebih waspada, lebih hati-hati,” ujar Bhima dalam Breaking News KompasTV, Jumat (30/1/2026).
Baca Juga: Dirut BEI Iman Rachman Mundur Usai Gejolak IHSG Dua Hari Terakhir
Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, bank akan lebih waspada dan selektif memberikan pembiayaan, sehingga proses persetujuan kredit bisa menjadi lebih ketat.
Selain berdampak terhadap kredit, Bhima juga menyoroti potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat mendorong kenaikan harga barang, terutama barang impor.
Ia mengingatkan, dampak tersebut berpotensi semakin terasa menjelang Ramadan dan Lebaran, ketika konsumsi masyarakat biasanya meningkat.
“Kalau rupiahnya melemah misalnya, maka efeknya langsung akan terasa. Sebentar lagi Ramadan dan Lebaran, di mana biasanya orang-orang makan lebih, berbelanja lebih banyak, harganya naik karena Ramadan Lebaran. Ditambah rupiah yang melemah itu membuat barang-barang impor, makanan impor, barang-barang impor lainnya itu harganya juga ikut naik,” jelas Bhima.
Bhima menilai, pelemahan rupiah juga akan cepat dirasakan oleh pelaku usaha di sektor otomotif, seperti bengkel dan showroom kendaraan bermotor.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- gejolak pasar
- kredit mahal
- harga barang naik
- rupiah
- Ramadan Lebaran
- Bhima Yudhistira




