FAJAR, BANTAENG — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin Posko 115 Desa Bonto Rannu, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, menghadirkan inovasi pengolahan cabai gagal panen menjadi chili oil. Inisiatif ini memberi nilai tambah ekonomi sekaligus memperpanjang masa simpan cabai melalui teknik pengolahan pascapanen yang tepat.
Program tersebut menjadi respons atas keresahan petani lokal yang kerap mengalami kerugian akibat fluktuasi harga dan hasil panen yang tidak memenuhi standar estetika pasar. Padahal, cabai yang dinilai gagal secara komersial tersebut masih memiliki kualitas rasa yang layak dikonsumsi.
Inisiatif ini digagas oleh Mahasiswa KKN Unhas 115 yang berperan sebagai penggerak dan pendamping, dengan melibatkan warga Desa Kampale sebagai partisipan utama. Mahasiswa memberikan edukasi sekaligus praktik langsung mengenai pengolahan cabai gagal panen menjadi produk olahan bernilai jual.
Gagasan ini berangkat dari pengamatan tim KKN terhadap melimpahnya cabai yang tidak terserap pasar. Melalui pengolahan menjadi chili oil, komoditas tersebut dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki daya saing sebagai produk rumah tangga maupun usaha mikro.
Warga desa terlibat langsung dalam proses pembuatan chili oil, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga pengemasan sederhana. Hasil olahan tersebut dinilai memiliki potensi pasar karena praktis, tahan lama, dan diminati konsumen.
Salah satu warga Desa Kampale, Ibu Hastuti, menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang diperkenalkan Mahasiswa KKN Unhas 115.
“Lewat program chili oil ini, cabai yang sebelumnya kurang bernilai kini bisa diolah menjadi produk siap jual. Selain membuka peluang usaha, hal ini juga membantu menambah pendapatan warga,” ujarnya.
Ia menilai inovasi tersebut berpeluang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sebagai sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa. (*/)





