IHSG Rontok, Permainan atau Mekanisme Pasar?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Langkah MSCI (Morgan Stanley Capital International)—yang akan mengeluarkan sejumlah emiten besar dalam pemeringkatan mereka—membuat IHSG terpukul dalam dua hari ini. MSCI berdalih ada persoalan free float, likuiditas riil, dan transparansi pada sejumlah emiten besar pada bursa saham Indonesia.

Sontak kebijakan ini memicu erosi besar di IHSG. Pada Rabu, 28/1/2026, IHSG turun hingga 7,3% dan memaksa otoritas bursa menempuh trading halt. Pagi tadi, Kamis 29/1/2026 IHSG masih tertekan ke level minus 8,5%, dan jelang sore, puji syukur menguat ke minus 1,76%.

Dalam sekejap, dana asing keluar dari bursa mencapai Rp6,12 triliun. Belum lagi hari ini yang angka rekapnya belum masuk. Namun, angka sementara menunjukkan nilai aksi beli lebih besar dibanding aksi jual. Sementara itu, terdapat surplus Rp6,1 triliun dan nilai kapitalisasi jauh lebih besar dibandingkan kemarin.

Sejujurnya, melihat nilai kapitalisasi di IHSG dari perdagangan hari ini—yang jauh melampaui kemarin—di satu sisi menunjukkan bahwa kepercayaan pelaku pasar terhadap bursa saham Indonesia masih sangat besar.

Namun, kita juga tidak menutup mata terhadap sejumlah koreksi yang dilakukan oleh MSCI terhadap bursa di Indonesia. Pelaku pasar, otoritas bursa, dan OJK harus menangkap pesan MSCI sebagai koreksi konstruktif untuk membangun bursa saham yang sehat. Para pihak ini harus berbenah dan membuka diri untuk menerima koreksi yang konstruktif dari siapa pun, terutama masukan pembenahan administrasi yang disarankan oleh MSCI.

Kita juga paham betul bahwa faktor kepercayaan terhadap lembaga yang dianggap kredibel—terutama dalam bisnis—bahkan melampaui urusan kecakapan. Padahal, kecapakan dan integritas adalah modal utama membangun kepercayaan.

Saat lembaga mendapat kepercayaan, terkadang posisinya seolah memegang kuasa untuk mengeluarkan “fatwa”. Bahkan, “fatwa” tersebut juga terkadang dipatuhi tanpa reserve, sekalipun dunia bisnis seharusnya berjalan dengan sangat matematis dan logis. Di sinilah sebenarnya letak titik genting yang menuntut kita untuk bersikap kritis.

OJK telah menerbitkan sejumlah lembaga pemeringkat yang dianggap kredibel dan tepercaya, baik asing maupun domestik terkait rating credit, seperti Fitch Ratings, Moodys, Standar and Poor, dan PT Kredit Rating Indonesia.

Di bursa, tidak banyak “pemain” pemeringkatan seperti MSCI, layaknya di sektor kredit. Kita memiliki PT Pemeringkat Efek Indonesia, tetapi belum mendunia dan hanya terkait obligasi, sehingga pengaruhnya tidak sebanding dengan MSCI. Kabarnya, baru pada Februari 2026, lembaga pemeringkat efek global—yakni FTSE, subsidiary, London Stock Exchange Group—akan merilis laporan mereka.

Kembali soal MSCI: Apakah MSCI bersih dari kepentingan bisnis, atau hanya sebagai penyedia data objektif? Saya tidak mau menuduh, tetapi hanya menunjukkan, MSCI terafiliasi, ada Vanguard, Blackrock, dan State Street Global Advisory. Dua nama yang saya sebutkan ini juga pialang dan anak usaha mereka "ikut nimbrung" di BEI. Mereka ikut mencari cuan di bursa Indonesia dan itu sah-sah saja.

Pertanyaan lanjutannya: dari aksi jual kemarin dan aksi beli hari ini, ketika saham berbalik dari level rendah lalu rebound, apakah mereka tidak mendapatkan keuntungan? Tidak salah jika kita menitipkan sedikit pertanyaan kritis soal ini di balik kepercayaan yang ada.

Kita juga harus jernih dalam membandingkan dan menilai sesuatu. Meskipun terdapat peningkatan yang baik, bursa saham kita tidak dalam. Jumlah investor saham kita baru 19 juta, sementara di New York Stock Exchange mencapai 162 juta warga Amerika Serikat.

Perbedaan ini bisa dibaca investor kita di BEI inklusinya masih rendah, lantaran literasi rakyat kita tentang saham masih minimalis dibandingkan jumlah penduduk keseluruhan. Rendahnya literasi itu kadang bahkan terkait soal pengisian administrasi, sebagaimana yang ditemukan oleh MSCI, dan hendaknya hal ini juga menjadi atensi dari OJK.

Akibat ancaman MSCI ini, saya justru mengkhawatirkan nasib para investor retail di saham. Mereka baru investasi secara kecil-kecilan dan modal mereka bisa erosi, bahkan lenyap dalam sekejap. Dampaknya bisa traumatis: mereka bisa jera bermain saham, terutama di kalangan para pemula.

Padahal, selama ini kita bekerja keras memperbaiki literasi agar jumlah investor di BEI meningkat, sebagai langkah untuk mengurangi ketidaktransparanan otoritas bursa dan mengurangi dominasi segelintir pemegang saham.

Dugaan MSCI mengenai kepemilikan saham yang hanya dikendalikan sedikit orang dan dinilai tidak transparan dirasa terlalu dini, apabila akar masalahnya berada di pembaruan administrasi yang tidak dilakukan oleh OJK.

Tentunya, hal itu perlu pembuktian lebih lanjut. Dan saya kira, saya akan menerima sepenuhnya jika pembuktian itu benar, tetapi proses penelusuran faktanya harus dilakukan secara konkret.

Namun, kita juga harus membaca tentang dilema bursa Indonesia yang masih dangkal karena belum banyaknya minat investor. Inilah tantangan BEI, yaitu tantangan para emiten yang hendak mencari modal. Jika faktanya minat investor di BEI masih kecil—kemudian dibaca sebagai pengendalian saham oleh segelintir investor—saya kira penafsiran hal tersebut perlu ditelaah dengan hati-hati.

Justru saya mendorong perlu lembaga pembanding untuk menantang laporan MSCI. Hal ini penting agar investor global tidak hanya disuguhi “kebenaran tunggal”.

Dalam dunia bisnis, praktik second opinion merupakan hal yang sangat wajar. Saat ini, kita membutuhkan hal itu agar investor bursa saham Indonesia semakin diberikan kejernihan, sehingga advisory dinilai benar-benar advisory pada pembentukan pasar yang sehat, bukan menjadi bagian dari sindikasi aksi goreng saham.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kapolda DIY: Kapolresta Sleman Dinonaktifkan Sementara, Kasat Lantas Diganti
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
PAM JAYA dan TP PKK DKI Jakarta Bagikan 1.000 Toren Air Gratis
• 17 jam laludetik.com
thumb
Data Aismoli: Polytron Pimpin Penjualan Motor Listrik di Indonesia
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Link Live Streaming Proliga 2026 Hari Ini: Medan Falcons vs Jakarta Pertamina Enduro
• 15 jam lalugenpi.co
thumb
Modus Baru Penipuan Online Makin Canggih di 2026, Waspada!
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.