Aceh Tamiang, Aceh (ANTARA) - Pengerukan sedimentasi di muara Peunaga, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, yang dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Kuala, disambut positif nelayan setempat karena mengatasi pendangkalan yang selama bertahun-tahun menghambat aktivitas nelayan setempat saat melaut.
Datok Penghulu (sebutan Kepala Desa) Kuala Peunaga, Iboy ditemui ANTARA di Aceh Tamiang, Jumat menyebut pengerukan yang dilakukan Marinir dan TNI AD yang tergabung dalam Satgas Kuala, telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir.
"Jadi dengan adanya kegiatan pengerukan sungai ini atau muara (oleh TNI), dampaknya luar biasa untuk masyarakat, kan baik ya. Jadi, nelayan ini kalau melaut itu nggak nunggu lagi pasangnya air," kata Iboy.
Dia menyampaikan sebelum pengerukan dilakukan, pendangkalan muara memaksa nelayan menunggu pasang air, bahkan membuat banyak kapal kandas dan tidak bisa pulang ketika air surut.
Iboy menyebutkan Desa Kuala Peunaga memiliki sekitar 320 kepala keluarga (KK) dengan mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan yang bergantung sepenuhnya pada akses muara sebagai jalur utama.
Ia menegaskan pihaknya sangat menyambut baik pengerukan itu karena aspirasi pengerukan muara telah lama disampaikan warga sejak kepemimpinan sebelumnya, karena sedimentasi yang terjadi lebih dari satu dekade terus mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Arsip - Prajurit Marinir dan TNI AD yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kuala mengoperasikan alat berat untuk membuat tanggul di muara Peunaga Desa Kuala Peunaga, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, Aceh, Senin (26/1/2026). ANTARA/Harianto
Dengan pengerukan ini, lanjut Iboy, nelayan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasang surut air, sehingga aktivitas melaut lebih efisien dan pendapatan masyarakat pesisir diharapkan meningkat.
"Jadi kalau udah air surut, para nelayan di sini sebagian itu nggak bisa pulang, masa nunggu air pasang? Nggak ada jalur lain untuk masuk ke kampung karena akses jalan satu-satunya cuma memang dari muara inilah, jalur ini," beber Iboy.
Ia menambahkan sosialisasi rencana pengerukan telah dilakukan beberapa bulan sebelum pelaksanaan, sehingga dia optimistis kegiatan itu akan memberi harapan baru bagi nelayan yang selama ini kesulitan akibat pendangkalan muara.
"Kalau pendangkalan ini sudah bertahun-tahun, ini yang dirasakan masyarakat," imbuhnya.
Diketahui, prajurit Marinir dan TNI AD yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kuala mengoperasikan alat berat untuk membuat tanggul di muara Peunaga Desa Kuala Peunaga, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.
Satgas Kuala yang dibentuk Kementerian Pertahanan (Kemhan) mulai melakukan pembuatan tanggul dan melakukan pengerukan sedimentasi di Muara Peunaga, yang bertujuan untuk membuka kembali alur muara yang tertutup, agar nelayan dapat kembali melaut dengan lancar
Baca juga: Menhan jelaskan tahapan tugas yang dilakukan Satgas Kuala di Aceh
Baca juga: Satgas Kuala dipimpin Wakil Panglima TNI, diperkuat 200 personel
Baca juga: Menhan pimpin rapat koordinasi Satgas Kuala di Aceh Tamiang
Datok Penghulu (sebutan Kepala Desa) Kuala Peunaga, Iboy ditemui ANTARA di Aceh Tamiang, Jumat menyebut pengerukan yang dilakukan Marinir dan TNI AD yang tergabung dalam Satgas Kuala, telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir.
"Jadi dengan adanya kegiatan pengerukan sungai ini atau muara (oleh TNI), dampaknya luar biasa untuk masyarakat, kan baik ya. Jadi, nelayan ini kalau melaut itu nggak nunggu lagi pasangnya air," kata Iboy.
Dia menyampaikan sebelum pengerukan dilakukan, pendangkalan muara memaksa nelayan menunggu pasang air, bahkan membuat banyak kapal kandas dan tidak bisa pulang ketika air surut.
Iboy menyebutkan Desa Kuala Peunaga memiliki sekitar 320 kepala keluarga (KK) dengan mayoritas mata pencaharian sebagai nelayan yang bergantung sepenuhnya pada akses muara sebagai jalur utama.
Ia menegaskan pihaknya sangat menyambut baik pengerukan itu karena aspirasi pengerukan muara telah lama disampaikan warga sejak kepemimpinan sebelumnya, karena sedimentasi yang terjadi lebih dari satu dekade terus mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Arsip - Prajurit Marinir dan TNI AD yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kuala mengoperasikan alat berat untuk membuat tanggul di muara Peunaga Desa Kuala Peunaga, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, Aceh, Senin (26/1/2026). ANTARA/Harianto
Dengan pengerukan ini, lanjut Iboy, nelayan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasang surut air, sehingga aktivitas melaut lebih efisien dan pendapatan masyarakat pesisir diharapkan meningkat.
"Jadi kalau udah air surut, para nelayan di sini sebagian itu nggak bisa pulang, masa nunggu air pasang? Nggak ada jalur lain untuk masuk ke kampung karena akses jalan satu-satunya cuma memang dari muara inilah, jalur ini," beber Iboy.
Ia menambahkan sosialisasi rencana pengerukan telah dilakukan beberapa bulan sebelum pelaksanaan, sehingga dia optimistis kegiatan itu akan memberi harapan baru bagi nelayan yang selama ini kesulitan akibat pendangkalan muara.
"Kalau pendangkalan ini sudah bertahun-tahun, ini yang dirasakan masyarakat," imbuhnya.
Diketahui, prajurit Marinir dan TNI AD yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Kuala mengoperasikan alat berat untuk membuat tanggul di muara Peunaga Desa Kuala Peunaga, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.
Satgas Kuala yang dibentuk Kementerian Pertahanan (Kemhan) mulai melakukan pembuatan tanggul dan melakukan pengerukan sedimentasi di Muara Peunaga, yang bertujuan untuk membuka kembali alur muara yang tertutup, agar nelayan dapat kembali melaut dengan lancar
Baca juga: Menhan jelaskan tahapan tugas yang dilakukan Satgas Kuala di Aceh
Baca juga: Satgas Kuala dipimpin Wakil Panglima TNI, diperkuat 200 personel
Baca juga: Menhan pimpin rapat koordinasi Satgas Kuala di Aceh Tamiang




