Bisnis.com, JAKARTA —Harga emas global terpantau turun tajam pada hari ini, Sabtu (31/1/2026), ke level di bawah US$5.000 per troy ounces setelah mengalami reli panjang hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Seperti dilansir Bloomberg, emas sempat jatuh lebih dari 12% hingga merosot di bawah US$5.000 per troy ounces. Penurunan itu merupakan koreksi intraday terbesar sejak awal tahun 1980-an atau dalam 4 dekade terakhir.
Merujuk data Bloomberg per 06.45 WIB, harga emas spot merosot 481,01 poin atau minus 8,95% ke level US$4.894,23 per troy ounces. Sementara itu, emas Comex jeblok 609,7 poin atau turun 11,39% ke level US$4.745 per troy ounces.
Selain emas, harga perak juga terpantau anjlok hingga 36%. Penurunan intraday terbesar harga perak itu terjadi karena aksi jual melanda pasar logam yang lebih luas.
Tekanan jual itu juga menyeret turun harga tembaga yang mengalami koreksi 3,4% di London Metals Exchange (LME).
Di pasar valuta asing, dolar AS mengalami lonjakan akibat didorong oleh aksi jual mata uang komoditas termasuk dolar Australia dan krona Swedia. Saat ini, indeks dolar AS Bloomberg terpantau naik 0,71 poin ke posisi 96,9910 poin.
Jebloknya harga logam mulia dipicu oleh penguatan dolar AS setelah laporan bahwa pemerintahan Donald Trump sedang bersiap untuk mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed untuk menggantikan Jerome Powell. Penguatan dolar AS melemahkan sentimen di antara para investor yang telah berbondong-bondong masuk ke logam mulia setelah Trump memberi sinyal kesediaan untuk membiarkan mata uang melemah.
Para pedagang menganggap Warsh sebagai pejuang inflasi terkuat di antara para finalis. Hal itu meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang akan mendukung dolar dan melemahkan harga emas batangan yang dihargai dolar AS.
“Pengumuman Trump bahwa Warsh adalah pilihannya untuk Ketua Fed berikutnya telah berdampak positif bagi dolar AS dan negatif bagi logam mulia,” kata Kepala Strategi emas dan logam mulia global di State Street Investment Management Aakash Doshi, seperti dilansir Bloomberg.
Menurutnya, hal ini mungkin diperparah oleh penyeimbangan kembali pada akhir bulan karena posisi jual dolar dan posisi beli logam mulia telah menjadi konsensus perdagangan makro selama 2 hingga 3 minggu terakhir.
Christopher Wong, seorang ahli strategi di Oversea-Chinese Banking Corp, mengatakan pergerakan emas memvalidasi kisah peringatan tentang kenaikan cepat, penurunan cepat. Menurutnya, emas sudah seharusnya mengalami koreksi.
“Nominasi Warsh seperti salah satu alasan yang ditunggu pasar untuk membalikkan pergerakan parabolik tersebut.”
Menurut Kepala Perdagangan di Heraeus Precious Metals Dominik Sperzel, vlatilitas harga emas yang sangat ekstrem dan kedua level resistensi psikologis sebesar US$5.000 telah ditembus berkali-kali pada Jumat.
“Kita perlu bersiap menghadapi gejolak seperti roller-coaster yang akan terus berlanjut.”
Anjloknya harga logam juga menekan harga saham perusahaan pertambangan besar di bursa New York, termasuk produsen emas terkemuka Newmont Corp., Barrick Mining Corp., dan Agnico Eagle Mines Ltd., yang sahamnya merosot lebih dari 10%.



