Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML) menilai penguatan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi strategi penting dalam mendorong kemandirian energi nasional.
Dengan adanya konsolidasi lintas sektor, AEML berupaya mempercepat adopsi EV agar ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dapat ditekan.
Sekretaris Jenderal AEML, Rian Ernest, mengatakan bahwa ekosistem yang tergabung dalam AEML mencerminkan rantai industri EV yang utuh, mulai dari hulu hingga hilir.
Tercatat, anggota AEML berasal dari berbagai sektor, termasuk industri baterai, charging dan battery swapping, manufaktur EV, hingga operator transportasi dan pembiayaan.
“Inilah anggota-anggota kami cukup beragam, Sekali lagi kami menekankan bahwa ini adalah kerja bersama-sama mendorong EV. Anggota kami ini unik, ada industri baterai, ada industri charging dan battery swapping, ada juga EV manufacturer, ada ride-hailing dan fleet operator,” ujar Rian dalam acara Diskusi terkait Pelaksanaan Perpres 79/2023 di The Westin Jakarta pada Jumat (30/1/2026).
Rian menjelaskan, ekosistem tersebut juga melibatkan sektor energi dan keuangan.
“Dan bidang energi juga, seperti Medco Power itu juga merupakan bagian dari AEML. Yang terakhir financier dan market developer, jadi salah satu anggota kami adalah Bank DBS,” katanya.
Baca Juga: GAC Indonesia Pastikan Pembeli Bisa Langsung Memakai Mobil Listrik Barunya di Imlek Maupun Lebaran 2026
Ia menekankan, keberadaan ekosistem yang lengkap menjadi fondasi utama dalam mendorong adopsi EV secara masif di Indonesia. Menurutnya, semakin banyak EV yang beroperasi di jalan, semakin besar pula peluang Indonesia untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi.
“Tentu kami ingin bagaimana caranya makin banyak EV di jalan di Indonesia. Indonesia negara yang sangat unik. Kalau AEML bisa berperan untuk semakin banyak EV di jalan, kita akan semakin mandiri secara energi,” ujarnya.
Demi bisa mencapai tujuan itu, Rian menekankan peran AEML sebagai penghubung kepentingan industri dan pemerintah.
“Kami AEML, kami memang mendorong kebijakan. Kami mengagregasi kepentingan anggota kami, kami rangkum dengan baik secara teknokratis, lalu kami suarakan kepada para pemangku kebijakan,” katanya.



