Jakarta, VIVA – Garis nasib manusia memang rahasia Tuhan, dan Rina Marlina adalah bukti nyata bahwa kerja keras sanggup memutar roda kehidupan. Siapa sangka, srikandi para bulutangkis Indonesia yang baru saja menggetarkan Thailand ini dulunya adalah seorang Asisten Rumah Tangga (ART) dengan upah yang sangat memprihatinkan.
Bertanding di SPADT 80th Anniversary Stadium, Nakhon Ratchasima, Minggu 25 Januari 2026, Rina sukses membungkam wakil tuan rumah di nomor Women's Single SH6. Tak tanggung-tanggung, ia menang telak dengan skor 21-5 dan 21-1. Kemenangan ini bukan sekadar medali, melainkan torehan hattrick emas di ajang Asean Para Games (APG) secara berturut-turut.
Mundur ke tahun 2009, kehidupan Rina jauh dari kemewahan atlet profesional. Sepeninggal sang ayah, gadis asal Desa Ciakar, Tasikmalaya, Jawa Barat ini harus membanting tulang bersama ibunya menjadi buruh migran domestik atau ART.
"Semenjak bapak ngga ada, saya sama ibu kerja jadi ART sekitar 2009-2010. Upahnya dulu itu kalau ga salah Rp 150 ribu atau Rp 300 ribu, saya lupa. Bukan per hari, tapi per bulan," kenang Rina dalam keterangannya.
Kecintaannya pada bulutangkis tumbuh dari pinggir lapangan. Di sela tugasnya, ia sering menjadi wasit di GOR dekat rumahnya demi mencari uang jajan tambahan. Di sana pula, imajinasinya liar bekerja. Saat lapangan kosong, ia nekat berlatih meski tanpa modal.
"Dulu saya masih pakai piring seng yang buat makan itu, karena belum punya modal beli raketnya," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Dari Pelatnas Hingga Keliling DuniaTekad kuat Rina akhirnya membuahkan hasil. Bermula dari prestasi di Peparda Bogor dan Kejurnas 2019, pintu menuju pemusatan latihan nasional (Pelatnas) terbuka lebar. Sejak saat itu, piring seng berganti dengan raket kelas dunia, dan upah ratusan ribu berganti dengan prestasi internasional.
Rina mengaku dukungan sang ibu adalah bahan bakar utamanya untuk menepis rasa minder sebagai penyandang disabilitas. Kini, ia sudah menginjakkan kaki di berbagai belahan dunia berkat bulutangkis.
"Saya tidak menyangka bisa bermain bulutangkis di APG, hingga di paralimpiade sangat ga nyangka sampai sekarang, bisa keliling dunia. Ibu saya terus menyemangati saya agar tidak minder," tuturnya penuh syukur.


