Tahun Baru 2026, "New Year, New Me": Perlu Sejauh Apa untuk Berubah?

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Awal tahun hampir selalu datang dengan satu kalimat yang sama: "New Year, New Me".

Seolah pergantian kalender telah memberi izin untuk meninggalkan diri yang lama dan segera menjelma menjadi versi yang lebih ideal.

Namun, di balik semangat itu, sering tersembunyi kelelahan. Lelah karena merasa belum cukup puas, lelah karena terus membandingkan diri dengan standar (gambar) yang kita ciptakan sendiri. Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar "Apakah kita ingin berubah?" melainkan juga "Perlu sejauh apa kita berubah dan dengan sikap batin seperti apa?"

Memandang Diri Apa Adanya

Dalam teori Self-Acceptance Arthur Thomas Jersild (1978), penerimaan diri dimulai dari persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri, termasuk penampilan dan identitas personal. Cara kita memandang diri bukan dari cara orang lain menilai.

Di awal 2026, banyak orang memulai tahun dengan rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Padahal, perubahan yang sehat tidak pernah lahir dari kebencian terhadap tubuh, latar hidup, atau identitas yang sedang kita jalani.

Antara Kelemahan dan Kekuatan

Jersild menekankan bahwa penerimaan diri tecermin dari sikap terhadap kelemahan dan kekuatan, baik milik diri sendiri maupun orang lain. Menerima diri tidak berarti merasa unggul, tetapi juga bukan terus merendahkan diri. Dalam semangat "New Year, New Me", kita kerap kali hanya menyoroti kekurangan, lupa bahwa setiap individu memiliki kombinasi unik antara keterbatasan dan potensi. Keduanya sama-sama layak diakui.

Inferioritas sebagai Gejolak Manusiawi

Menurut Jersild, perasaan inferior bukan tanda kegagalan, melainkan gejolak alami dalam proses penerimaan diri. Rasa tertinggal, ragu, atau tidak percaya diri justru sering muncul ketika seseorang sedang menilai dirinya dengan serius. Masalah muncul ketika inferioritas dijadikan identitas permanen. Penerimaan diri membantu kita melihat perasaan itu sebagai sinyal refleksi, bukan sebagai ukuran nilai diri.

Cara Kita Menghadapi Kritik

Aspek lain dari penerimaan diri adalah respons terhadap penolakan dan kritik. Individu yang menerima dirinya tidak kebal terhadap kritik, tetapi tidak pula runtuh karenanya. Di awal tahun, evaluasi diri sering bercampur dengan suara-suara eksternal. Tanpa penerimaan diri, kritik mudah melukai; dengan penerimaan diri, kritik dapat dipilah: mana yang perlu diperbaiki, mana yang cukup dilepaskan.

Diri Nyata dan Diri Ideal

Salah satu gagasan kunci Jersild adalah keseimbangan antara diri nyata (real self) dan diri ideal (ideal self). Jarak di antara keduanya adalah hal yang wajar. Namun, jika jarak itu terlalu lebar, ia dapat menjadi sumber kecemasan dan kebencian diri. Konsep "New Year, New Me" sering memperlebar jarak tersebut. Kita terlalu sibuk mengejar versi ideal hingga lupa merawat diri yang sedang berproses.

Menerima Diri, Menerima Orang Lain

Menurut Jersild, penerimaan diri berkaitan erat dengan kemampuan untuk menerima orang lain. Ketika seseorang berdamai dengan dirinya, ia tidak lagi sibuk membandingkan atau merendahkan hidup orang lain. Di tengah budaya perbandingan yang menguat di awal tahun, penerimaan diri menjadi latihan empati bahwa setiap orang berjalan dengan ritme dan beban yang berbeda.

Antara Menuruti Kehendak dan Menonjolkan Diri

Penerimaan diri juga tampak dari keseimbangan antara menuruti kehendak pribadi dan keinginan untuk menonjolkan diri. Individu yang menerima dirinya tidak perlu terus membuktikan nilai diri melalui pengakuan eksternal. Perubahan tidak harus selalu dipertontonkan. Tidak semua pertumbuhan perlu diumumkan.

Spontanitas dan Menikmati Hidup

Aspek berikutnya adalah kemampuan untuk bersikap spontan dan menikmati hidup. Penerimaan diri memungkinkan seseorang menjalani hidup dengan lebih ringan, tanpa tekanan untuk selalu sempurna atau produktif. Awal tahun tidak selalu harus dimulai dengan target besar. Ada nilai dalam jeda, dalam proses, dan dalam hidup yang dijalani dengan kesadaran.

Dimensi Moral Penerimaan Diri

Jersild menegaskan bahwa penerimaan diri memiliki dimensi moral. Menerima diri bukan berarti membenarkan semua perilaku, melainkan berani mengakui kesalahan tanpa tenggelam dalam rasa bersalah yang berkepanjangan. Dengan demikian, penerimaan diri justru memperkuat tanggung jawab personal, bukan melemahkannya.

Sikap terhadap Penerimaan Diri Itu Sendiri

Aspek terakhir adalah sikap individu terhadap penerimaan diri. Apakah penerimaan diri dianggap kelemahan, atau justru kedewasaan? Pertanyaan ini menentukan bagaimana seseorang menjalani perubahan.

Di awal 2026, mungkin kita tidak perlu menjadi orang lain. Mungkin yang kita butuhkan adalah berhenti memusuhi diri sendiri, lalu akhirnya bertumbuh dari sana.

"New Year, New Me" tidak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap diri yang lama. Dengan penerimaan diri—sebagaimana dijelaskan Arthur Thomas Jersild—perubahan justru menjadi lebih jujur, lebih sadar, dan lebih manusiawi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara Mundur
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Wamenkomdigi Tekankan Pentingnya Adopsi AI untuk Dongkrak Daya Saing Sektor Kunci
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Jokowi di Rakernas PSI: Saya Akan Kerja Keras Mati-matian untuk PSI
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Said Abdullah Soal Fraksi Gabungan, Disebut Menyulitkan dalam Praktik Politik
• 8 jam lalugenpi.co
thumb
WBC Konfirmasi Duel Carlos Adames vs Austin Williams Resmi Batal Digelar
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.