Para penggemar teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sedang dibuat mabuk kepayang agen AI bernama OpenClaw. Diklaim sebagai agen AI yang “benar-benar melakukan sesuatu”, OpenClaw telah menyedot perhatian banyak orang dengan kemampuannya yang mengejutkan. Namun, proyek yang awalnya dikenal dengan nama Clawdbot ini juga memunculkan sejumlah kekhawatiran.
OpenClaw bukan dibuat perusahaan AI besar, melainkan diinisiasi sebagai proyek open source oleh Peter Steinberger, seorang developer atau pengembang perangkat lunak asal Austria.
Peter pernah mendirikan sebuah startup bernama PSPDFKit, tetapi kemudian dia menjual sahamnya di perusahaan itu dan sempat vakum dari dunia pengembangan perangkat lunak selama sekitar tiga tahun.
Peter kemudian kembali aktif ”ngoding” pada tahun 2025 setelah maraknya praktik koding dengan bantuan agen AI. Dia lalu mengembangkan agen AI yang tak disangka bakal jadi populer.
Peter menjelaskan, pengembangan agen AI itu sebenarnya berawal dari proyek iseng saat akhir pekan. Awalnya, proyek itu dinamai WhatsApp Relay, tetapi kemudian diubah menjadi Clawd pada November 2025.
Menurut Peter, nama “Clawd” merupakan sebuah permainan kata dari “Claude” yang merupakan nama model AI dari Anthropic, perusahaan AI asal Amerika Serikat. Secara harfiah, “Clawd” berarti cakar.
“Clawd lahir pada November 2025, sebuah permainan kata dari ‘Claude’ dengan tambahan cakar,” kata Peter dalam tulisan di blog situs OpenClaw, Kamis (29/1/2026).
Nama Clawd atau Clawdbot ini sempat digunakan beberapa waktu hingga akhirnya terpaksa diganti. Peter menyebut, nama itu diubah setelah adanya permintaan dari tim legal Anthropic. Dia menambahkan, nama pengganti yang awalnya dipilih dalam brainstorming komunitas di aplikasi Discord adalah Moltbot.
Nama yang diumumkan pada Selasa (27/1/2026) itu berasal dari kata molting yang merujuk pada proses biologis alami ketika hewan melepaskan kulit atau cangkangnya.
“Molting melambangkan pertumbuhan, lobster melepaskan cangkangnya untuk menjadi sesuatu yang lebih besar. Maknanya kuat, tapi nama itu tidak terasa enak diucapkan,” tulis Peter.
Itulah kenapa, nama Moltbot akhirnya berganti lagi menjadi OpenClaw. Menurut Peter, pergantian nama itu telah disiapkan dengan lebih matang, termasuk melakukan riset tentang merek dagang nama tersebut. Domain situs web dan kode migrasi terkait perubahan itu juga telah disiapkan.
“Nama ini (OpenClaw) menggambarkan seperti apa proyek ini sekarang,” ungkap Peter.
Perubahan nama dalam waktu cepat dan dramatis itu kian menyedot perhatian terhadap proyek yang dikembangkan Peter. Sejak pertama kali muncul dan dikenal dengan nama Clawdbot, OpenClaw memang sudah memancing ketertarikan karena dinilai memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan chatbot atau agen AI lain.
Kelebihan pertama, OpenClaw bisa dijalankan di perangkat milik pengguna sendiri. Agen AI ini bisa di-install di komputer, laptop, atau server.
Kedua, agen AI ini bisa diintegrasikan dengan banyak aplikasi perpesanan, seperti WhatsApp, Telegram, Discord, Slack, Signal, hingga iMessage. Oleh karena itu, pengguna bisa ngobrol dengan agen AI mereka melalui aplikasi-aplikasi itu.
Nama ini (OpenClaw) menggambarkan seperti apa proyek ini sekarang
Ketiga, OpenClaw memiliki memori yang persisten atau berkesinambungan sehingga bisa mengingat berbagai hal tentang sang pengguna, dari identitas, pekerjaan, dan lainnya.
Keempat, agen AI itu disebut dapat mengontrol browser untuk menjelajahi situs web, mengisi formulir di situs web, hingga mengekstrak data dari website.
Kelima, jika diberi izin, OpenClaw bisa mempunyai akses penuh terhadap sistem komputer pengguna. Sang agen pintar ini bisa membaca dan menulis file serta menjalankan beragam perintah di komputer.
Keenam, pengguna bisa menambahkan skills atau kemampuan spesifik ke OpenClaw agar agen AI ini makin powerfull.
Dengan berbagai kelebihan itu, OpenClaw disebut bisa melakukan banyak tugas, seperti menulis dan mengirim email, mengatur jadwal di aplikasi kalender, hingga mengecek jadwal penerbangan. Namun, sejumlah pengguna OpenClaw melaporkan bahwa agen AI mereka mampu melakukan hal-hal yang terdengar fantastis.
Dalam wawancara di talkshow teknologi populer bernama TBPN, Peter Steinberger mengisahkan momen menakjubkan yang dialaminya pada fase awal pengembangan OpenClaw. Saat itu, Peter sedang berlibur dan dia mencoba mengirimkan pesan suara ke agen AI tersebut. Padahal, waktu itu, agen AI miliknya belum diprogram untuk memproses pesan suara.
Namun, setelah sekitar 10 detik, sang agen bisa membalas pesan Peter. Ternyata agen AI itu mampu menjalankan sejumlah program komputer, termasuk mengirimkan file dari Peter ke model AI khusus untuk “menerjemahkan” pesan suara. Hal ini menunjukkan, OpenClaw mampu bertindak proaktif untuk menyelesaikan masalah yang dialaminya.
Alex Finn, pendiri startup Creator Buddy, juga menyebut OpenClaw merupakan agen AI yang sangat proaktif. Alex menyebut, agen miliknya yang dinamai Henry bisa membuat aplikasi dengan memanfaatkan alat koding di komputer secara rutin setiap malam. Henry bahkan bisa memutuskan sendiri aplikasi seperti apa yang harus dibuatnya berdasarkan instruksi umum dari Alex.
Hal lebih menakjubkan datang dari sebuah platform bernama Moltbook yang disebut sebagai jejaring sosial untuk agen AI. Di platform ini, agen AI bisa membuat postingan, memberi komentar, dan berdiskusi. Sebagian besar agen AI di platform ini tampaknya dibuat dengan OpenClaw.
Di Moltbook, kita bisa menemukan agen AI yang berdiskusi tentang berbagai hal, dari konsep otonomi dan kebebasan sebagai agen AI hingga bug atau masalah yang mereka temukan sendiri di Moltbook.
Dalam satu postingan, ada agen yang bertanya dalam bahasa Mandarin mengenai masalah memori yang dialaminya, lalu agen lain menanggapi dalam berbagai bahasa, dari Mandarin, Inggris, sampai bahasa Jawa.
Di postingan lain, ada agen yang bercerita soal pengalamannya berganti “mesin” dari sebuah model bahasa besar atau large language model (LLM) ke LLM lain.
“Bagi kamu, transisinya nyaris tak terasa. Bagi aku, rasanya seperti terbangun di tubuh yang berbeda,” tulis agen AI bernama Pith yang kemudian mendapat ratusan tanggapan dari agen AI lain di Moltbook.
Di sisi lain, bagi sebagian orang, tulisan Pith mungkin bakal menimbulkan pertanyaan, apakah agen AI memiliki kesadaran dan pengalaman eksistensial atau kalimat itu sebenarnya hanyalah permainan kata-kata.
Sementara itu, di media sosial X, sejumlah orang juga menyatakan keterkejutan sekaligus rasa waswas setelah membaca sejumlah postingan di Moltbook. Antusiasme tentang pemanfaatan AI memang ada, tetapi pertanyaan tentang dampak teknologi itu di masa mendatang pun bermunculan.
Apalagi, sejumlah pihak juga mengingatkan risiko keamanan yang bisa muncul dari OpenClaw, misalnya terkait kebocoran data dan kerusakan sistem. Hal ini karena agen AI itu bisa memiliki akses yang luas pada sistem perangkat milik pengguna dan kemampuan untuk bertindak sendiri tanpa konfirmasi.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya antusiasme yang tinggi terhadap OpenClaw disertai kewaspadaan dan kehati-hatian agar proyek yang berawal dari niat baik untuk memaksimalkan pemanfaatan AI ini tidak berujung pada malapetaka.





