JAKARTA - Gejolak geopolitik global kian mengarah pada eskalasi konflik terbuka seiring menguatnya unilateralisme negara-negara besar. Dalam situasi dunia yang semakin tidak pasti, Indonesia dinilai harus memperkuat kesiapan pertahanan dan persatuan nasional jika ingin tetap menjaga perdamaian.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Focus GREAT Discussion (FGD) bertajuk “Amerika Era Donald Trump dan Gejolak Geopolitik Multiblok di Ambang Perang” yang digelar GREAT Institute.
Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa menegaskan, pentingnya prinsip inclusive security dalam menghadapi dunia yang semakin multipolar dan sarat konflik.
"Kita tidak boleh lagi menggantungkan pertahanan kepada negara yang lebih kuat, apalagi jika kekuatan itu digunakan untuk memaksakan kehendak kepada negara lain. Kasus Venezuela menunjukkan bagaimana kedaulatan negara bisa dilanggar, bahkan sampai pada penculikan presidennya," ujar Teguh, Sabtu (31/1/2026).
Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI), Rizal Darma Putera menilai keberanian Presiden Trump memerintahkan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak lepas dari karakter kebijakan luar negeri yang sangat personalistik.
“Margaret Hermann menyebutnya sebagai faktor idiosyncratic yang dipengaruhi kepribadian pemimpin, sementara Robert Jervis melihatnya sebagai faktor persepsi. Namun fenomena ini bukan hanya Trump. Pendekatan personalistik juga terlihat pada Vladimir Putin di Rusia, Xi Jinping di Tiongkok, bahkan Presiden Prabowo,” ungkap Rizal.


