Kamu Mencintaiku, atau Membutuhkan Aku?

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Psikolog ternama Erich Fromm dalam karya klasiknya The Art of Loving (Seni Mencintai / Memaknai Hakikat Cinta) pernah mengemukakan sebuah kalimat yang sangat terkenal:

Cinta yang belum matang berkata:  “Aku mencintaimu karena aku membutuhkanmu.”

Cinta yang matang berkata: “Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu.”

Apakah cinta yang diberikan seseorang itu matang atau tidak, sebenarnya dapat diuji dari motivasi paling awal serta cara dia mengekspresikannya.

Jika cinta itu berangkat dari kebutuhan —misalnya: “Aku kesepian, aku butuh ditemani, aku perlu penghiburan”— maka apa yang dia disebut sebagai cinta sesungguhnya bukanlah cinta sejati, melainkan tuntutan bersyarat yang menyamar dengan nama cinta.

Cinta palsu seperti ini sangat mudah dikenali. Begitu kebutuhannya telah terpenuhi
—misalnya, karena kehadiranmu dia tak lagi merasa kesepian— maka keberadaanmu justru mulai terasa berlebihan dan menjengkelkan.

Karena itu, ketika kekasihmu menelepon dan berkata bahwa hari-hari tanpa dirimu membuatnya tak berselera makan dan minum, lalu memintamu segera datang menemuinya, jangan terlalu cepat merasa senang. Jika ditelanjangi maknanya, bisa jadi dia hanya membutuhkanmu sebagai “pelengkap makan”— dia membutuhkanmu, bukan mencintaimu.

Cinta sejati adalah pemberian yang bebas dan tanpa syarat. Apa yang disebut “kebutuhan” di dalam cinta sejati sejatinya hanyalah sebuah undangan: dia ingin mengajak seseorang untuk bersama-sama mewujudkan pengalaman cinta itu, maka ia mengundangmu.

Cinta yang seperti ini juga sangat mudah dikenali. Ketika kamu menolak undangannya dengan halus, atau bahkan hanya ragu sejenak, dia akan langsung menghormati pilihanmu dan berhenti, tanpa memaksa, mengejar, atau menekan sampai kamu mengiyakan.

Mengapa demikian?

Karena dia bukan pribadi yang rapuh yang membutuhkanmu sebagai penopang hidupnya, melainkan seseorang yang mandiri dan kuat, yang dengan kesadaran penuh ingin mengajakmu berbagi keindahan hidupnya.

Oleh sebab itu, inti pertama dari cinta adalah kebebasan.

Kebebasan ini memiliki dua makna penting:

Cinta sejati adalah pengalaman yang manis dan membahagiakan, bukan hutang emosional yang saling menjerat dan menguras.

Namun kenyataannya, banyak hubungan dimulai dengan keikhlasan dan kebahagiaan, tetapi berakhir sebagai beban yang berat.

Para kekasih sering kali ingin mengikat pasangannya demi rasa aman pribadi,  tanpa menyadari bahwa yang mereka ciptakan justru kegelisahan yang lebih besar.

Padahal, siapa yang tega meninggalkan seseorang yang memberi kebebasan sepenuhnya?

Sayangnya, meskipun kebenaran ini sederhana, ketika benar-benar dihadapkan pada situasi nyata, tidak mudah untuk mempraktikkannya.

Seseorang pernah bertanya: “Kenapa kamu menyukai seseorang?”

Aku hanya bisa menjelaskan mengapa aku tidak menyukai seseorang, tetapi tidak pernah bisa benar-benar menjelaskan mengapa aku menyukai seseorang.

Menyukai seseorang adalah perasaan. Tidak menyukai seseorang adalah fakta.

Fakta mudah dijelaskan. Perasaan sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Cinta adalah ketika tiba-tiba ada seseorang yang terasa seperti sudah lama kita kenal, kita ingin mendekatinya, hormon kita seolah berubah drastis, dan kita ingin memeluknya.

Namun setelah itu, entah bahagia atau sedih, kita sering tak lagi ingat mengapa dulu kita mencintainya.

Sebaliknya, ketika kita tidak lagi mencintai seseorang, barulah kita mulai mencari alasan-alasan untuk tidak mencintainya— karena saat itu, kita mulai mencela dan mencari-cari kekurangan.

Siapa pun, jika dicari-cari, pasti memiliki kekurangan. Semakin dicari, semakin banyak kekurangannya, dan dengan mudah kita bisa berkata: “Inilah alasan aku tidak menyukainya.”

Ketika kita ingin membeli sebuah pakaian, meski menemukan cacat kecil, kita tetap bisa memakluminya— karena kita sangat menyukainya. Cacat kecil tak menutupi keindahannya.

Namun jika sejak awal kita memang tidak ingin membelinya, cacat kecil itu langsung menjadi alasan fatal. Bahkan kita akan berusaha mencari kekurangan lain: bahannya kurang bagus, warnanya terlalu mencolok— sekadar untuk membenarkan bahwa kita telah “mempertimbangkannya dengan matang”.

Putus cinta bisa memiliki banyak alasan. Namun bersatu hanya punya satu alasan— Karena cinta tidak membutuhkan alasan.

Renungan 

“Cinta” adalah satu kata sederhana yang nyaris tak pernah bisa dijelaskan dengan tuntas.
Ia juga merupakan emosi yang bahkan tim Erabaru pun sulit memahaminya sepenuhnya.

Setelah membaca artikel ini, makna “cinta” justru terasa semakin misterius.

Dia membuat kita bertanya pada diri sendiri:Saat aku bersamanya, apakah aku mencintainya sehingga aku membutuhkannya, atau aku membutuhkannya sehingga aku mencintainya?

Terus terang, jawabannya sering kali tidak mudah ditemukan.

Mungkin, seiring bertambahnya usia dan kedalaman pengalaman hidup, kita akan semakin memahami hakikat cinta itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan Anda, sahabat pembaca?

Apakah Anda mencintai pasangan Anda sehingga ingin bersamanya, atau karena Anda membutuhkan kehadirannya, maka Anda menyebutnya cinta?

Semoga setiap orang dapat menemukan pasanganyang dibutuhkan karena dicintai,

bukan dicintai karena dibutuhkan. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Maling di Jakbar Kepergok Usai Jatuh dari Ventilasi, Malah Lanjut Beraksi
• 18 jam laludetik.com
thumb
Gus Yahya Dukung RI Gabung Dewan Perdamaian: Untuk Bantu Palestina
• 1 jam laludetik.com
thumb
Pihak Denada Sebut Ressa Minta Rp 7 Miliar saat Mediasi
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Peringatan Dini BMKG 31 Januari-1 Februari 2026, Cuaca Ekstrem Hujan Lebat Masih Mengintai
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Perkara Kematian Lula Lahfah Disetop Sebab Tak Ada Unsur Pidana
• 7 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.