Ambisi RI Jadi Hub Ekosistem Baterai Dunia Lewat Proyek Jumbo Antam-IBC-HYD

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia menargetkan diri menjadi hub ekosistem baterai dunia dan bahkan membidik posisi sebagai produsen terbesar kedua setelah China. Ambisi itu mulai diwujudkan melalui percepatan megaproyek baterai terintegrasi yang digarap PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Industri Baterai Indonesia (IBC/IBI) dan konsorsium global HYD Investment Limited.

Proyek senilai US$5 miliar-US$6 miliar itu telah dimulai dengan penandatanganan Framework Agreement (FA) antara ANTAM, IBC, dan mitra strategis global Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. Kesepakatan ini menjadi kerangka kerja awal percepatan program hilirisasi nikel sekaligus investasi pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia.

Kolaborasi tersebut turut melibatkan HYD Investment Limited—konsorsium dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd.—serta PT Daaz Bara Lestari Tbk. 

Kerja sama ini diarahkan untuk membangun rantai pasok baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir di dalam negeri, mulai dari pengelolaan sumber daya nikel, pengolahan dan pemurnian, hingga produksi sel baterai.

Direktur Utama Antam Untung Budiharto mengatakan perusahaan akan menjadi penyedia bahan baku strategis yang dikelola secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan mandat perseroan dalam memperkuat hilirisasi mineral nasional. 

“Kami memandang kolaborasi ini sebagai bagian dari transformasi strategis untuk memastikan sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah maksimal di dalam negeri,” kata Untung dalam keterangan resminya, Jumat (30/1/2026). 

Baca Juga : Harga Emas Galeri 24, dan UBS di Pegadaian Hari Ini Sabtu, 31 Januari 2026

Ekosistem baterai terintegrasi ini akan mencakup pembangunan fasilitas produksi baterai yang detailnya akan difinalkan melalui studi kelayakan. Proyek tersebut memiliki potensi kapasitas hingga 20 GWh dengan estimasi nilai investasi mencapai US$5 miliar–US$6 miliar atau setara dengan Rp83,95 triliun Rp100,74 triliun (kurs Rp16.790 per dolar AS). 

Investasi jumbo itu diproyeksikan menciptakan ribuan lapangan kerja baru, memperkuat struktur industri nasional, serta memberi kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan agenda transisi energi Indonesia.

“Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global seperti Huayou, Antam berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi yang berkelanjutan, berdaya saing, dan sejalan dengan kepentingan strategis nasional,” tuturnya. 

Sementara itu, Presiden Direktur Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., Chen Xuehua, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global, baik dari sisi ketersediaan sumber daya maupun arah kebijakan industrialisasi.

“Huayou melihat Indonesia sebagai mitra strategis jangka panjang dalam pengembangan industri baterai global. Melalui kerja sama ini, kami berkomitmen menghadirkan teknologi, pengalaman industri, serta praktik keberlanjutan global untuk mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga : Harga Emas Galeri 24, dan UBS di Pegadaian Hari Ini Sabtu, 31 Januari 2026

Sebagai entitas yang mendapat mandat pemerintah mengembangkan industri baterai nasional, IBI berperan sebagai penghubung sekaligus orkestrator sinergi antara industri dalam negeri dan mitra global, termasuk dalam aspek teknologi dan tata kelola proyek. Kolaborasi ini juga membuka peluang alih teknologi serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai pemain utama dalam industri baterai terintegrasi global.

“IBC dibentuk untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing global dan berkelanjutan. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kuat seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem industri nasional bernilai tambah tinggi,” ujar Aditya.

Framework Agreement ini menjadi landasan bagi penyusunan studi kelayakan bersama serta perjanjian definitif yang akan dijalankan secara bertahap. ANTAM, IBC, dan Huayou menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh tahapan proyek berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik, keberlanjutan, dan kepentingan strategis nasional.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan pengembangan industri ini masih membutuhkan dukungan mitra luar negeri, terutama dalam bentuk transfer teknologi, akses pasar, dan manajemen profesional. 

Namun, dia menegaskan bahwa kepemilikan mayoritas akan dipegang ANTAM sebagai BUMN karena harus memprioritaskan kepentingan negara sesuai Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

“Kita ingin menjadikan Indonesia sebagai hub daripada ekosistem baterai mobil, terutama bahan baterai mobilnya. Kalau ini terjadi maka kita terbesar nomor dua setelah China,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (30/1/2026). 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Serius Tangani Banjir, DKI Bangun Waduk Kebagusan dengan Anggaran Rp62 Miliar
• 18 jam laludisway.id
thumb
Duet Gopay-Komdigi Kampanye Anti Judi Online Jangkau Lebih dari 60 Juta Orang
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Polisi Ingatkan Bahaya Gas N2O, Ada Risiko Kesehatan dan Keselamatan Jiwa
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah AS Shutdown, Penembakan Demonstran Picu Buntu Anggaran
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
BPKP Dampingi Polda Papua Barat Terapkan Manajemen Risiko
• 22 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.