Guru Besar FK Unair Kenalkan Penanganan Neurotrauma dengan Pendekatan Personal

suarasurabaya.net
6 jam lalu
Cover Berita

Prof. Dr. Muhammad Arifin Parenrengi Dosen Ilmu Bedah Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menawarkan metode personalized comprehensive neurotrauma care (PCNC) untuk menangani neurotrauma, cedera kepala atau tulang belakang yang disebabkan oleh cedera mendadak.

Hal itu disampaikannya dalam Pengukuhan Guru Besar FK Unair, Kamis (29/1/2026) lalu. Gagasan ini muncul akibat kasus cedera kepala-otak yang masih menjadi persoalan kesehatan global.

Dalam pidatonya di Aula Garuda Mukti Kampus MERR-C Unair, Prof Arifin menekankan bahwa metode ini menggabungkan tindakan bedah, pemahaman biologis, serta karakter setiap pasien untuk membuat keputusan medis yang tepat.

“Paradigma penanganan neurotrauma tidak lagi dapat mengandalkan satu terapi untuk semua pasien. Setiap otak memiliki dinamika biologis, usia, dan masa depan yang berbeda, sehingga pendekatannya pun harus personal dan komprehensif,” tuturnya seperti dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net

Kendati demikian, Prof Arifin mengingatkan bahwa tindakan bedah untuk menyelamatkan nyawa pada fase akut tidak selalu sejalan dengan pemulihan fungsi neurologis.

“Tindakan bedah memang berperan penting untuk menyelamatkan nyawa pada fase akut, tetapi keberhasilan operasi tidak selalu sejalan dengan pemulihan fungsi neurologis. Banyak pasien tetap mengalami gangguan kognitif, motorik, dan perilaku karena proses biologis di tingkat sel terus berlangsung,” jelasnya.

Dia menjelaskan, ada dua fase yang berlangsung saat seseorang mengalami cedera kepala-otak, yakni cedera primer dan cedera sekunder.

Cedera primer terjadi saat trauma, sedangkan cedera sekunder berkembang dalam hitungan jam hingga hari berikutnya melalui proses inflamasi, gangguan metabolik, stres oksidatif, serta disfungsi mikrosirkulasi.

Menurut Prof Arifin, kasus medis ini merupakan proses biologis kompleks yang terus berlanjut setelah fase akut dan sangat memengaruhi hasil kondisi saraf jangka panjang.

“Cedera kepala-otak sering terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, terjatuh, atau benturan saat bermain, dan dapat mengubah hidup seseorang dalam hitungan detik. Tidak hanya mengancam nyawa, kondisi ini juga bisa menghilangkan kemampuan berbicara, berjalan, belajar, bahkan mengenali orang-orang terdekatnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof Arifin menyoroti bahwa cedera kepala-otak pada anak lebih sulit ditangani karena terjadi saat otak masih berkembang. Dampaknya pun tak hanya dirasakan secara langsung, tapi juga dapat memengaruhi proses pertumbuhan otak dan kemampuan anak dalam jangka panjang.

Dengan menggabungkan riset, pendidikan, dan pelayanan klinis sesuai tridharma perguruan tinggi, Prof Arifin berharap pendekatan PCNC bisa membantu menangani neurotrauma yang bukan hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga kualitas hidup dan masa depan pasien, terutama anak-anak.

“Anak bukanlah orang dewasa kecil. Setiap keputusan klinis sejak fase akut hingga rehabilitasi akan menentukan seluruh perjalanan hidupnya,” tutupnya.(ily/bil/iss)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kisah Dramatis OpenClaw, Agen AI yang Bikin Antusias Sekaligus Waswas
• 8 jam lalukompas.id
thumb
Tanah Bergerak di Babakan Madang Bogor, 11 Rumah Warga Rusak
• 4 jam laludetik.com
thumb
Hadapi Ramadan 2026, Bobby Nasution Pastikan Pangan Sumut Aman dan Surplus
• 9 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Potret Peran Badut di Lokasi Bencana
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Kejagung Terus Pantau Anjloknya IHSG
• 21 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.