Potret Peran Badut di Lokasi Bencana

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Lantunan suara penyanyi yang saat ini berusia 16 tahun, Quinn Salma, mengalun kencang dari pengeras suara. Lagu berjudul ”Tiba-tiba” itu menambah semarak suasana. Seorang pria berias dengan sapuan bedak dan sentuhan pensil hitam, mengenakan topi hitam, serta pakaian unik layaknya seorang badut mengajak sekelompok anak yang duduk di depannya mengangkat kedua tangan mereka. Seperti dikomando, anak-anak itu mengikuti gerakan tangan badut yang meliuk ke kiri dan ke kanan.

Badut itu terus berjoget seirama dengan lagu yang dibawakan Quinn Salma. Anak-anak yang berada di depannya ikut berjoget dan menirukan gerakan sang badut dengan gembira. Begitu juga sejumlah perempuan yang berdiri mengelilingi anak-anak itu. Mereka juga menirukan gerakan sang badut dengan gembira.

Selain menyanyi dan mengajak menggerakkan anggota badan. Badut itu juga mengocok perut anak-anak dengan aneka lelucon khas anak-anak. Ia juga menghibur dengan sejumlah alat bantu, seperti boneka dan piring.

Badut itu bernama Hendayana. Pria asal Cimahi ini beraksi di posko pengungsian korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (27/1/2026). ”Ini adalah jalan dan cara saya untuk beramal dan berbagi untuk sesama,” ujar Hendayana.

Hendayana, yang saat tampil dipanggil ”Badut Cimahi”, hadir secara swadaya, sukarela, dan tanpa imbalan dari pihak mana pun. Ia sengaja menyisihkan uang hasil tampil dari profesinya sebagai badut komersial untuk operasional ini. Ia hadir untuk menghibur dan memberikan penyembuhan dari trauma bagi anak-anak korban bencana. Selain di Cisarua ini, ia telah menghibur di berbagai lokasi bencana yang terjadi di Indonesia.

Kehadiran badut di lokasi-lokasi bencana, baik yang sukarela maupun yang dibayar oleh suatu pihak, bukan saja terjadi di lokasi pengungsian bencana longsor di Cisarua. Sejak puluhan tahun lalu fenomena badut yang menghibur anak-anak di lokasi bencana sudah ada. Salah satunya adalah Andika.

Andika, seorang pemuda asal Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar), datang ke SD Negeri Sukaratu I, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jabar, pada 26 September 2016. Pemuda yang saat itu berusia 35 tahun tersebut datang dengan mengenakan kostum badut untuk menghibur anak-anak korban bencana banjir bandang.

Kebetulan saat itu adalah hari pertama masuk sekolah bagi siswa di lokasi banjir bandang. Selain untuk membantu meringankan beban psikologis siswa, Aksi Andika juga sebagai alat edukasi terkait bencana yang terjadi di lokasi itu. Sambil membawa boneka, ia menghibur dan memberikan informasi kepada anak-anak. Siswa-siswa sekolah tersebut ceria dan tertawa lebar saat menyaksikan penampilan Andika.

Aksi badut yang membantu pemulihan trauma juga ditemui di Jakarta. Pada 5 Januari 2020, di pos pengungsian Masjid Jami Al Umariyah, Bintaro, Jakarta Selatan, dua badut menghibur puluhan anak korban banjir. Saat itu Jakarta dan sekitarnya sedang dilanda banjir besar. Selain menggenangi banyak kawasan, banjir juga merenggut nyawa lebih dari 60 warga.

Dua badut yang tergabung dalam komunitas Aku Badut Indonesia (ABI) ini datang ke pos pengungsian dan menghibur anak-anak. Mereka menari dan bernyanyi bersama. Tentu tujuannya adalah pemulihan psikologis anal-anak yang mungkin terganggu karena bencana ini. Membuat anak-anak kembali gembira dan ceria.

Di lokasi lain, pada 8 Maret 2023, seorang badut yang juga tergabung dalam komunitas ABI berinteraksi dengan anak balita yang sedang digendong ibunya. Aksi itu dilakukan di sela-sela menghibur anak-anak di posko pengungsian korban kebakaran Terminal Bahan Bakar Minyak yang biasa disebut Depo Pertamina Plumpang di kawasan Rawa Badak, Jakarta Utara.

Akibat kejadian itu, 19 orang meninggal dan 50 orang terluka. Ratusan warga mengungsi ke sejumlah lokasi, antara lain Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rasela, Rawa Badak Selatan, dan Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Utara.

Baca JugaArsip Foto Kompas: Malapetaka 15 Januari

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO/WAWAN H PRABOWOBadut dari komunitas Aku Badut Indonesia di Lapangan Futsal Labuhan (kiri). Badut saat kampanye pentingnya vaksinasi Covid-19 dan penerapan protokol kesehatan (kanan).

Anggota komunitas ABI juga hadir di bencana-bencana lain. Dalam bencana tsunami di Banten 2018 lalu, seorang badut yang tergabung dalam ABI juga hadir di lokasi pengungsian. Pada 27 Desember 2018, badut itu menghibur anak-anak di pos pengungsian di Lapangan Futsal Labuhan, Labuhan, Pandeglang, Banten, Kamis, 27 Desember 2018.

Tidak hanya di lokasi pengungsian bencana, badut anggota ABI juga hadir untuk mengampanyekan pentingnya vaksinasi Covid-19 dan penerapan protokol kesehatan. Aksi ini dilakukan di pertigaan lampu merah Juanda-Margonda, Depok, Jawa Barat, 23 Juli 2019. Saat itu, mereka berharap pesan mereka bisa sampai dengan baik ke masyarakat melalui para pengendara yang melintas sehingga badai pandemi Covid-19 bisa segera berlalu.

Kegiatan yang dilakukan dengan sukarela ini demi menekan kasus penularan Covid-19, yang saat itu melonjak tajam. Selama masa pandemi Covid-19 ini, para anggota ABI juga ikut terpuruk lantaran tak lagi bisa tampil menghibur masyarakat.

Kepedulian untuk menghibur korban bencana bukan saja datang dari badut Indonesia. Salah satu badut dari negara lain adalah Aaron Ward alias Elvo Si Badut. Warga negara Selandia Baru ini datang ke Aceh dan menghibur anak-anak pada 24 Februari 2005. Ia datang menghibur bocah pengungsi korban bencana gempa bumi dan tsunami di Leupung, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam. Aksi itu membuat bocah-bocah gembira dan dapat sesaat melupakan bencana yang menimpa mereka.

Sementara itu, pada 25 Oktober 2013 sejumlah badut dari relawan Sahabat Bangsal Anak (SABA) menghibur pasien anak. Kegiatan ini dilaksanakan di Taman Bangsal Anak Bougenville RSUP Persahabatan, Jakarta. Kegiatan ini merupakan terapi mental dan emosional yang digelar dalam rangka perayaan HUT Ke-50 RSUP Persahabatan. Dengan acara ini diharapkan bisa menjadi media untuk meningkatkan kualitas pengobatan secara medis sehingga bisa mempercepat kesembuhan anak.

Tidak selalu badut

Sebenarnya proses pemulihan trauma setelah bencana bukan saja tugas para badut. Banyak relawan dengan berbagai cara digunakan untuk membantu anak-anak pulih dari trauma. Mereka membantu dengan berbagai cara agar wajah anak kembali ceria.

Dalam peristiwa ambruknya atap SDN Gentong Kota Pasuruan, Jawa Timur, ada dua orang yang tewas. Untuk kembali membuat siswa ceria akibat musibah itu, sejumlah pejabat di Pemerintah Kota Pasuruan datang untuk menghibur para siswa. Dalam aksinya, mereka mengenakan kostum superhero.

Salah satu cara lain untuk mengurangi trauman dan mengembalikan keceriaan anak adalah dengan menggambar. Seperti terlihat di posko pengungsian di Desa Kota Agung, Kecamatan Air Besi, Kabupaten Bengkulu Utara, 19 September 2007. Saat itu, anak-anak harus mengungsi karena bencana gempa bumi yang melanda Bengkulu.

Di lokasi lain pada 17 Desember 2022, aktivitas menggambar juga dilakukan untuk mengurangi trauma. Anak-anak terlihat serius menggambar di kertas di dalam tenda darurat BNPB yang didirikan di SDN Jambudipa 2, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Selain itu, mereka juga mendapatkan pemahaman terkait stres yang menimpa mereka saat gempa terjadi.

Permainan juga menjadi salah satu cara untuk mengurangi trauma. Seperti terlihat di halaman sekolah SDN Giriwinaya, Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, 2 Desember 2022. Saat itu, anak-anak korban gempa bermain bersama guru yang tergabung dalam Balai Besar Guru Penggerak Jawa Barat (BBGP Jabar). BBGP Jabar melakukan sejumlah program untuk membantu pemulihan korban bencana gempa bumi. Di antaranya pemulihan trauma pascabencana hingga program pemberdayaan guru, khususnya guru penggerak untuk program pemulihan pendidikan di Kabupaten Cianjur.

Pada 22 Juni 2006, mahasiswi psikologi dari Malang, Jawa Timur, memberikan serangkaian permainan kepada siswi SD Negeri Mlese 1, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah. Anak-anak ini merupakan korban dari gempa tektonik yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006.

Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Tsunami Aceh, Tragedi Terbesar Abad Ini

Masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulihkan trauma anak-anak, mulai dari mendongeng, bermain musik, hingga cara-cara lainnya. Walaupun banyak cara yang bisa dilakukan, tentu tujuaanya hanya satu, yakni mengembalikan keceriaan anak-anak.

Baca JugaArsip Foto Kompas : Dari Penjara ke Penjara Bermuara di Pulau Buru
Baca JugaArsip Foto "Kompas": Belanja Lebaran Tak Lekang Ditelan Zaman


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
3 Zodiak Paling Gacor di 31 Januari 2026 dalam Karier dan Percintaan
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Libas Popsivo 3-0, Jakarta Electric PLN Segel Posisi 3 Klasemen
• 26 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Mengudara di Cibubur, ETLE Drone Patrol Presisi Rekam 30 Pelanggar Lalu Lintas
• 9 jam laludetik.com
thumb
Ujian untuk Kevin Warsh Calon Kuat Bos The Fed
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Sekolah Rakyat Tanjungpinang Fokuskan Literasi Berbasis Pengalaman
• 18 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.