Jakarta (ANTARA) - Pengamat pasar modal David Sutyanto memandang bahwa saat ini pasar membutuhkan kejelasan arah menyusul mundurnya empat petinggi OJK dan satu petinggi BEI guna meredam spekulasi serta menjaga kepercayaan pasar.
"Kejelasan tersebut penting untuk meredam spekulasi dan menjaga kepercayaan pasar agar isu ini tidak berkembang menjadi sentimen negatif yang lebih luas," kata David dalam jawaban tertulisnya kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Ia mencatat pengunduran diri sejumlah pejabat tinggi yang terjadi hampir bersamaan, baik di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI), memang menimbulkan banyak spekulasi di pasar.
Hal ini bukan soal individu semata, melainkan karena pasar sangat sensitif terhadap kesinambungan kepemimpinan, arah kebijakan, dan stabilitas komunikasi kelembagaan.
"Dalam kondisi seperti ini, risiko utamanya bukan langsung pada fundamental pasar, melainkan pada persepsi," ujar David.
Ia menambahkan ketidakjelasan narasi dan jeda komunikasi berpotensi memunculkan pertanyaan lanjutan, termasuk dari investor global dan lembaga seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengenai konsistensi kebijakan dan koordinasi antarotoritas ke depan.
Oleh karena itu, ujar David, paling dibutuhkan saat ini adalah penjelasan resmi yang komprehensif, arah transisi yang jelas, serta penegasan bahwa agenda strategis dan reformasi pasar tetap berjalan.
Sebelumnya, pada Jumat (30/1/2026), para petinggi bidang keuangan mengumumkan pengunduran diri dari jabatan secara beruntun dalam satu hari.
Pada Jumat (30/1) pagi, Iman Rachman mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama BEI.
Ia mengatakan keputusan ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kondisi pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Selanjutnya, pada Jumat sekitar pukul 18.30 WIB, Ketua DK OJK Mahendra Siregar bersama dua petinggi bidang pasar modal mengumumkan pengunduran diri.
Mereka antara lain Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) IB Aditya Jayaantara.
Mahendra menyatakan pengunduran dirinya bersama KE PMDK dan DKTK merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan.
Namun, usai pengumuman pengunduran ketiga pejabat tersebut, pengunduran diri dari jabatan juga diikuti oleh Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara, sebagaimana siaran pers pada pukul 21.00 WIB.
OJK pun menegaskan bahwa proses pengunduran diri para petinggi ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional.
Baca juga: Ketua OJK undurkan diri sebagai tanggung jawab moral dukung pemulihan
Baca juga: IHSG menguat jelang akhir pekan di tengah pelemahan bursa Asia
Baca juga: FINE: Perubahan struktural penting kembalikan keyakinan investor saham
"Kejelasan tersebut penting untuk meredam spekulasi dan menjaga kepercayaan pasar agar isu ini tidak berkembang menjadi sentimen negatif yang lebih luas," kata David dalam jawaban tertulisnya kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Ia mencatat pengunduran diri sejumlah pejabat tinggi yang terjadi hampir bersamaan, baik di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Bursa Efek Indonesia (BEI), memang menimbulkan banyak spekulasi di pasar.
Hal ini bukan soal individu semata, melainkan karena pasar sangat sensitif terhadap kesinambungan kepemimpinan, arah kebijakan, dan stabilitas komunikasi kelembagaan.
"Dalam kondisi seperti ini, risiko utamanya bukan langsung pada fundamental pasar, melainkan pada persepsi," ujar David.
Ia menambahkan ketidakjelasan narasi dan jeda komunikasi berpotensi memunculkan pertanyaan lanjutan, termasuk dari investor global dan lembaga seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengenai konsistensi kebijakan dan koordinasi antarotoritas ke depan.
Oleh karena itu, ujar David, paling dibutuhkan saat ini adalah penjelasan resmi yang komprehensif, arah transisi yang jelas, serta penegasan bahwa agenda strategis dan reformasi pasar tetap berjalan.
Sebelumnya, pada Jumat (30/1/2026), para petinggi bidang keuangan mengumumkan pengunduran diri dari jabatan secara beruntun dalam satu hari.
Pada Jumat (30/1) pagi, Iman Rachman mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama BEI.
Ia mengatakan keputusan ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kondisi pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Selanjutnya, pada Jumat sekitar pukul 18.30 WIB, Ketua DK OJK Mahendra Siregar bersama dua petinggi bidang pasar modal mengumumkan pengunduran diri.
Mereka antara lain Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) IB Aditya Jayaantara.
Mahendra menyatakan pengunduran dirinya bersama KE PMDK dan DKTK merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan.
Namun, usai pengumuman pengunduran ketiga pejabat tersebut, pengunduran diri dari jabatan juga diikuti oleh Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara, sebagaimana siaran pers pada pukul 21.00 WIB.
OJK pun menegaskan bahwa proses pengunduran diri para petinggi ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional.
Baca juga: Ketua OJK undurkan diri sebagai tanggung jawab moral dukung pemulihan
Baca juga: IHSG menguat jelang akhir pekan di tengah pelemahan bursa Asia
Baca juga: FINE: Perubahan struktural penting kembalikan keyakinan investor saham




