ACEH (Realita) – Kondisi pascabanjir besar yang melanda Aceh dan wilayah Sumatera pada 26 November 2025 masih menjadi fokus perhatian nasional setelah dua bulan berlalu.
Meski sejumlah upaya pemulihan terus digencarkan, proses rehabilitasi sosial maupun infrastruktur belum sepenuhnya tuntas dan sejumlah tantangan masih terlihat nyata di lapangan.
Data BNPB terakhir menunjukkan dampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang mencakup hampir 292 ribu jiwa, dengan lebih dari 6.000 warga masih mengungsi di 58 titik pengungsian.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang kembali memperpanjang masa tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor selama 14 hari, efektif hingga awal Februari 2026. Keputusan ini diambil karena beberapa desa masih tertutup lumpur dan akses kembali terbuka secara penuh belum optimal.
Sementara itu, di Kabupaten Aceh Tamiang, yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, diskusi informal warga di warung kopi mencerminkan kekhawatiran yang masih mengemuka: lambatnya aliran informasi resmi terkait bantuan, belum meratanya pendataan penerima program bantuan, serta kebutuhan percepatan pembukaan akses ekonomi.
Banyak warga masih tinggal di tenda darurat karena rumah yang rusak belum bisa ditempati, sementara janji bantuan seperti dana tunggu hunian dan pembangunan rumah sementara belum sepenuhnya menyentuh semua pihak yang berhak.
Pakar psikologi dari sebuah perguruan tinggi negeri menyoroti bahwa warga yang tinggal lama di tempat pengungsian umumnya mengalami tiga permasalahan psikologis utama: trauma akibat peristiwa banjir, kehilangan harta dan anggota keluarga, serta kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan pascabencana.
Dukungan sosial dan rasa aman di lingkungan pengungsian dinilai berperan penting dalam proses pemulihan psikologis tersebut.
Data korban dari berbagai sumber menunjukkan dampak bencana masih signifikan. Laporan situasi terakhir mengindikasikan total masih ada 143 orang yang dilaporkan hilang, sementara korban tewas terus direkonsiliasi dan disinyalir mencapai angka ratusan secara keseluruhan dari seluruh wilayah terdampak Sumatera Utara, Aceh, hingga Sumatera Barat.
Secara provinsi, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menetapkan tahap baru transisi dari status tanggap darurat ke fase pemulihan selama 90 hari, dimulai 29 Januari hingga 29 April 2026.
Peralihan ini bertujuan memfokuskan penanganan pada rehabilitasi sosial, logistik, dan infrastruktur pascabencana serta memperkuat koordinasi antarsektor dalam pemulihan jangka menengah.
Dampak lain yang tercatat termasuk rusaknya ratusan objek wisata dan ekonomi lokal yang mengalami kerugian berat akibat banjir dan longsor, menghambat cepatnya pemulihan ekonomi setempat.
Selain itu, penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) melalui BNPB telah memasuki tahap kedua, memberikan bantuan tunai kepada ratusan keluarga yang rumahnya rusak berat.
Program ini dirancang untuk membantu kebutuhan dasar tiga bulan pertama bagi para korban. hingga akhir Januari 2026 terdapat lebih dari 91 ribu jiwa warga Aceh yang masih mengungsi di berbagai lokasi karena rumah mereka rusak berat atau belum layak huni kembali.cin
Editor : Redaksi




